Renjun mulai terbiasa dengan keseharian nya menjadi sugar baby. Menyenangkan sekali. Walaupun kadang dia kesal oleh Jeno yang selalu memberikan nya syarat ketika dia meminta uang. Mending peluk lah ini cium, untung boleh cium pipi. Kalau gak? Ya gak jadi minta duit.
Karena bosan di apartemen milik dirinya yang dibeli oleh Jeno. Renjun memutuskan untuk membuat makan siang Jeno dan mengantarkan nya.
Renjun datang ke kantor Jeno, ini pertama kalinya menginjak kaki di kantor milik Jeno.
Atensi para karyawan tidak lepas dari Renjun, yang membuat Renjun risih. Renjun tak suka jika dilihat terlalu lama.
Karena baru pertama kali, Renjun memutuskan untuk bertanya ke resepsionis untuk bertanya ruangan Jeno.
"Permisi, ruangan Jeno berada di lantai berapa?" Tanya Renjun dengan sopan.
"Apa sudah membuat janji?" Renjun menggeleng.
"Maaf, anda tidak bisa bertemu dengannya." Ucap sang resepsionis itu.
Renjun mengerutkan keningnya, jika dia bilang ke Jeno maka bukan kejutan. Ya, Renjun ingin membuat kejutan untuk Jeno. Pasalnya Jeno selalu meminta dia untuk datang ke kantor miliknya untuk menemani bekerja. Tapi selalu ditolak mentah-mentah oleh Renjun.
Dan sekarang entah kesurupan setan apa Renjun ke kantor milik Jeno dengan menenteng tas yang berisi makanan untuk makan siang Jeno.
"Jeno tidak akan marah jika kamu kasih tau ruangannya ke saya."
"Tapi-"
"Aish, cepat kasih tau saja!" Kesabaran Renjun telah menipis sehingga agak menaiki nada bicaranya.
"Aku kekasih nya." Lanjut Renjun yang membuat sang resepsionis itu terdiam.
"Kekasih?" Tanya resepsionis itu memastikan.
"Iya, cepat kasih tau ruangannya Jeno."
"Lantai paling atas, hanya ada satu ruangan di sana dan itu ruangan milik tuan Lee."
"Baiklah terima Kasih." Renjun segera berjalan ke arah lift.
"Kekasihnya tuan Lee ya? Tapi bukannya- ah sudahlah."
Resepsionis itu bertanya pada dirinya sendiri. Dia bingung dengan orang yang mengaku bahwa kekasihnya Jeno. Ingin membatah tapi takut dia menjadikannya korban pemecatan selanjutnya seperti tahun sebelumnya.
Benar kata resepsionis tadi hanya ada satu ruangan disini. Baru keluar dari lift saja sudah kelihatan pintunya. Ada meja dan kursi juga di samping pintu itu yang terdapat seorang laki-laki yang sibuk mengecek dokumen.
Renjun kenal orang itu, Yangyang. Renjun menghampiri meja Yangyang.
"Selamat siang Yangyang." Sapa Renjun.
Yangyang yang mendapat sapaan itu mendongak ke atas lalu tersenyum. "Selamat siang juga nyonya Renjun."
"Aish, sudah ku bilang aku laki-laki dan panggil saja aku Renjun!" Protes Renjun. Yangyang terkekeh mendengarnya.
"Baiklah baiklah, ada apa kesini?"
"Mau bertemu Jeno. Aku membawakannya makan siang." Renjun menunjukkan tas yang ditenteng ke Yangyang.
Yangyang mengangguk, "Jeno ada di dalam, masuk saja."
"Baiklah, aku masuk dulu."
Klek..
"Biasakan ketuk pintu!"
Baru masuk sudah diberi omelan oleh Jeno. "Maaf, sudah kebiasaan tidak mengetuk pintu."
Jeno mendongak mengalihkan atensinya ke pintu. "Renjun? Sedang apa kau disini."
Renjun menghampiri Jeno dan duduk di kursi yang berasal depan meja Jeno.
Meletakan tote bag yang sedari tadi ia bawa ke atas meja Jeno. "Membawakan mu makan siang."
Jeno tak dapat menahan senyumnya. "Makasih, aku akan memakannya nanti."
Renjun mengangguk, "kalau begitu aku akan pulang."
"Disini saja, temani aku bekerja." Cegah Jeno.
"Boleh juga, daripada suntuk di apartemen." Renjun berjalan ke sofa yang berada di sana.
"Tidak ada cemilan?" Tanya Renjun.
"Kau tidak melihat kulkas di sana?" Tanya Jeno seraya menunjuk sebuah kulkas yang berada di samping jendela.
Renjun terkejut melihat kulkas berada di ruangan Jeno. "Di sana banyak cemilan dan minuman ambil saja sebanyak yang kau mau."
Renjun beranjak dari duduknya, berjalan ke kulkas untuk melihat isinya.
Renjun ber wow ria melihat isinya, ada berbagai makanan ringan dan coklat. Ada beberapa jenis minuman juga disana. Benar-benar lengkap.
"Ais, lengkap sekali. Kau memakan ini semua jika bekerja?" Tanya Renjun.
"Tidak, itu semua untukmu. Sayangnya saat aku mengajak mu kesini kau tak mau" Jawab Jeno.
Renjun menghiraukan Jeno ia mengambil beberapa snack dan dua kotak susu. Dia menaruhnya di meja depan sofa yang tadi dia duduki.
Mendarat kan bokong nya ke sofa lalu mulai memakan cemilan dengan tenang. Ah ada yang kurang. Renjun menghentikan acara makannya. Mengambil handphone dari saku celana dan mulai mencari drama yang semalam belum dia selesaikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sugar Daddy | Noren [End]
Fanfiction"Dady?" "Yes baby." _________________________________________ Renjun yang ingin mendapatkan uang dengan mudah tanpa bekerja mencoba hal yang ditawarkan Jeno. Awalnya coba-coba, tapi lama-lama kok enak?
![Sugar Daddy | Noren [End]](https://img.wattpad.com/cover/290359935-64-k863907.jpg)