"Dady?"
"Yes baby."
_________________________________________
Renjun yang ingin mendapatkan uang dengan mudah tanpa bekerja mencoba hal yang ditawarkan Jeno.
Awalnya coba-coba, tapi lama-lama kok enak?
Soobin yang baru datang terkejut melihat Renjun yang berada di mejanya dengan Yeonjun.
Soobin langsung menggeser bangku nya tepat ke samping Renjun. Yeonjun yang melihat itu menggeleng kecil. "Jadi ini sahabat mu yang selalu kau ceritakan?" Tanya Yeonjun.
Soobin mengangguk, "iya, ini Renjun. Renjun dia Yeonjun kekasih ku." Ujar Soobin memberi tahu.
"Ahh sebentar, sepertinya meja disana ada kursi kosong aku akan mengambilnya." Yeonjun berdiri lalu pergi ke meja yang tak jauh dari mejanya.
Meminta izin untuk mengambil salah satu kursi ke tamu yang menempati meja itu.
"Ini, silahkan duduk." Yeonjun menempatkan kursinya di samping kanan Renjun.
Jeno segera duduk dan mengucapkan terimakasih.
"Renjun kau tahu?" Tanya Soobin yang memulai sesi per-ghibahan dengan Renjun.
Sedangkan para dominan hanya diam mendengarkan, sesekali juga mereka berbicara tentang perusahaan atau bergabung ke pembicaraan Renjun dan Soobin.
Hari sudah larut malam. Acara pun sudah selesai. Kini Jeno memilih untuk tidur di apartemen Renjun daripada di mansion nya.
"Belum tidur hm?" Tanya Jeno saat keluar dari kamar mandi, melihat Renjun sedang membaca sembari berbaring.
"Sebentar lagi, habiskan satu chapter dulu baru tidur." Jawab Renjun.
Jeno menghela nafas nya, menaiki kasur dan memeluk Renjun. "Awas jika lanjut ke chapter berikutnya. Ini sudah jam setengah sebelas malam." Tegur Jeno.
Cup!
"Iya-iya, bawel sekali."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
{•------» ѕυgar dady «------•}
Seperti biasa Renjun akan datang ke kantor Jeno. Dia datang sambil menenteng kantung plastik yang berisi makanan ringan yang tadi ia beli sebelum ke kantor.
Renjun tahu di ruangan Jeno sudah tersedia banyak makanan ringan. Tapi Renjun hanya ingin mengurangi polusi di rekeningnya.
Renjun menunggu lift turun sambil berkutat dengan handphone. Lift nya masih dilantai atas mungkin Renjun harus sabar menunggu.
"Dia kekasih nya tuan Lee ya?"
"Iya, dia kekasih nya."
"Cih, bagaimana bisa? Dia terlihat sangat mungil."
"Ck, kau ini! Dia menggemaskan tau!"
"Yah tapi dia terlihat seperti adik kakak dengan tuan Lee daripada kekasih."
"Yang kau bilang ada benarnya juga. Dia juga seperti tidak terlalu pandai dengan urusan ranjang."
"Kkkkk, kau benar. Wajahnya sangat polos."
Ting!
Pintu lift terbuka, dan Renjun langsung masuk ke dalam agar dia dapat bagian dibelakang.
Para karyawati yang membicarakan nya juga ikut masuk ke lift. Tapi mereka tidak lagi membicarakannya.
Ck, nyindir kok beraninya jauh dari orangnya.
Beberapa saat kemudian lift kembali terbuka. Para karyawati tadi keluar. Renjun melihat kalau ini lantai 7.
Ah ternyata mereka bekerja di divisi keuangan.
{•------» ѕυgar dady «------•}
"Kau kenapa cemberut terus?" Tanya Jen.
Sejak datang muka Renjun selalu ditekuk bahkan saat dia sedang menonton drama. Biasanya Renjun memasang wajah gembira atau sedih, tergantung scane.
Karena Renjun tidak menjawab, Jeno menghampiri nya.
"Ada apa Renjunie?" Tanya Jeno sambil menatap Renjun dengan lembut dia juga mengelus pipi Renjun.
"Apakah kita terlihat seperti Kaka adik? Dan mukaku seperti bocah? Dan badanku mungil?" Tanya Renjun bertubi-tubi.
"Hei, pelan pelan. Siapa yang bilang seperti itu?"
"Ish, kok malah nanya balik sih!" Rengek Renjun.
"Kalau kau ingin aku menjawab jawabannya semuanya benar, kecuali yang pertama."
Mendengar itu Renjun semakin menekuk kan bibirnya. "Jadi aku seperti bocah dan mungil huh!" Tanya Renjun emosi.
"Tidak bukan seperti itu baby." Bujuk Jeno.
"Uhhhh, menyebalkan!" Renjun langsung berdiri dan berlari keluar.
"Jangan ikuti aku!" Bentak Renjun yang menghentikan langkah Jeno.
"Ck, dasar mulut! Jadi marah kan Renjun."
. . . . . .
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.