Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

41. Guanlin

3.6K 287 1
                                        

"aku sudah mendapatkan lokasinya."

"Bagus, ayo kita susul."

"Tunggu Jen."

"Apa lagi?" Tanya Jeno kesal.

"Aku mendapat laporan, mansion mu di serang Jen."

Astaga apa lagi ini?

Jeno berdecak sebal dia harus memilih salah satu ke mansion nya atau Renjun nya. "Aku tak peduli dengan mansion ku. Aku bisa membeli lagi jika itu hancur, tapi tidak dengan Renjun." Tekan Jeno.

"Maaf tapi di sana terdapat komputer ku yang berisi file-file penting."

Perkataan Yangyang membuat Jeno terkecoh. Benar juga, disana juga ada berkas penting.

"Baiklah kita ke mansion dulu." Final Jeno.

{•------» ѕυgar dady «------•}

Mansion Jeno telah kotor dengan darah dan juga mayat mayat para pekerja mansion. Benar-benar menyeramkan.

"Guanlin?"

"Kau datang juga Lee Jeno."

"Apa yang kau mau?" Tanya Jeno dingin.

"Tentu saja Renjun."

"Kau tak menyerah juga ternyata." Jeno tertawa remeh.

Dor!

"JENO." Pekik Yangyang panik

"Sialan." Desis Jeno kesal mendapati lengan kirinya tertembak.

Yangyang mencondongkan pistol ke arah Guanlin. Dia sudah siap menarik pelatuk nya. Tapi gerakan tangan Jeno mengurungkan niat Yangyang.

Jeno menghampiri Guanlin dengan santai tak memperdulikan lengan kirinya yang terluka.

"Pengecut."

Crassshh

"Uhuk!"

Jeno tersenyum menang setelah menusuk Guanlin. "Cukup sampai sini saja hidupmu lagi Guanlin."

Jleb

"AAAARRRRGGGHHH....."

Teriakkan Guanlin terdengar begitu nyaring dan ternyata itu teriakan terakhirnya karena dia telah mati karena Jeno menusuk tepat di jantungnya. Jeno sudah muak dengan rivalnya ini.

"Huwek!"

"Renjun?" Lirih Jeno dan langsung membalikkan badannya.

"Renjun!" Jeno menghampiri Renjun yang berada di ambang pintu berniat untuk memeluk nya tapi tendangan yang ia dapatkan dari Renjun.

"JANGAN MEMELUK KU! BAJUMU ADA DARAH! HUWEK!!!" Renjun berlari keluar karena tak tahan dengan bau amis yang begitu kuat dari dalam.

"Ckckck bersihkan dirimu dulu dan mansion ini. Ku tunggu di mansion ku."

"Jaemin? Tunggu!"

"Ck, apa lagi? Sudah sana! Aku sudah tahan dengan bau tempat ini. Aku jelaskan di mansion ku!"

Jaemin menarik lengan Renjun untuk pergi dari mansion Jeno. Yang ditarik nurut karena benar-benar tak betah di tempat yang penuh dengan bau amis.

"Astaga apa lagi??" Jeno frustasi dengan kejadian ini.

{•------» ѕυgar dady «------•}

"Hotel? Jangan macam-macam kau Jaemin!"

"Gak macam-macam kok cuma satu macam aja." Jawab Jaemin di lanjut kekehan.

"Cepat bawa dia masuk." Titah Jaemin.

Dengan segera suruhan Jaemin membawa Renjun yang terikat masuk ke dalam kamar hotel yang telah Jaemin siapkan.

"Pergilah." Usir Jaemin ke orang suruhannya ketika sampai di kamar.

Setelah orang suruhan pergi Jaemin menghampiri Renjun yang tengah menatapnya tajam.

"Hei rubah, jangan galak galak kepada kelinci!" Omel Jaemin sambil melepaskan ikatan di tubuh Renjun.

"Sudah, sekarang kau bebas. Jangan kabur! Kita bersantai disini dulu sebentar baru aku mengantar mu pulang."

Dahi Renjun mengernyit heran. Dia berusaha mencerna perkataan Jaemin. "Mau mu apa sih?"Tanya Renjun kesal.

Sebelah alis Jaemin terangkat. "Tidak ada."

"LALU UNTUK APA KAU MENCULIK KU SIALAN?! MENGIKAT KU DAN MEMBENTAK KU LALU KAU MELEPAS IKATAN TALI YANG KAU BUAT SENDIRI DAN BERNIAT MENGEMBALIKAN KU!"

Jaemin menutup kupingnya ketika Renjun berteriak. Kasihan kuping Jaemin menjadi korban teriakan Renjun.

Karena tak mau mendapatkan teriakan lagi dan mengharuskan Jaemin pergi ke dokter telinga akhirnya Jaemin membisikkan jawaban atas pertanyaan Renjun tadi.


{•------» ѕυgar dady «------•}

"Jeno tanganmu kenapa?"tanya Renjun khawatir.

"Kena tembak Guanlin tadi." Jawab Jeno santai.

"Astaga aku gak tahu, fokus ku teralih dengan rasa mual. Maaf."

"Hey, ini bukan kesalahan mu. Lagi pula ini luka kecil. Aku sudah biasa mendapatkan lebih dari ini."

"Si paling kuat." Cibir Jaemin yang baru datang.

"Ya karena aku memang kuat. Omong-omong apa yang sebenarnya terjadi?"

Jaemin menghela nafas kasar, kenapa otak Jeno lemah sekali untuk menyimpulkan kejadian?

"Aku mendapat laporan dari mata-mataku di mansion Guanlin beberapa hari sebelum aku menculik Renjun. Dia bilang Guanlin akan datang ke mansion mu 3 hari sebelum hari pernikahan kalian. Awalnya aku tak peduli, tapi suruhan ku bilang Guanlin kali ini tak main main. Dia mengerahkan seluruh anak buahnya dan juga senjata untuk melumpuhkan penjaga mansion mu." Jaemin berhenti sejenak, meminum coklat panas yang tadi ia bawa.

"Kalau aku tak menculik Renjun waktu itu mungkin sekarang Guanlin telah berhasil membawa Renjun pergi bisa dilihat tadi semua bodyguard mu tergeletak tak berdaya dengan mudahnya. Apalagi jarak mansion dan kantor mu lumayan jauh, menjadikan waktu luang yang banyak untuk Guanlin. Itulah kenapa aku menculik Renjun. Tak sangka juga Guanlin mati ditangan mu."

"Aku sudah kesal dengan bocah itu. Merepotkan." Timbal Jeno

"Ya begitulah, lalu bagiamana dengan tuan Lai?"

"Aku tak mempedulikan nya."

Jaemin mengganguk menanggapinya. "Susah sana pergi dari sini. Jam tamunya sudah habis."

"Cih, menyebalkan." Gumam Renjun.

"Orang yang kau sebut menyebalkan ini telah menyelamatkan mu tau!"

"Nyenyenye."

Sugar Daddy | Noren [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang