36. Haechan

3.7K 251 5
                                        

Renjun tercengang membaca undangan yang baru saja ia terima. "Apa?! Haechan akan menikah?!"

Haechan akan menikah dengan Mark apa itu berarti waktunya dengan Haechan akan sedikit?

"Ihhh lama menghilang sekali ngasih kabar langsung mau nikah." Omel Renjun.

Renjun segera menelpon Haechan.

"Ada apa? Kau sudah menerima undangan nya?" Tanya Haechan diseberang sana.

"Ya aku sudah, apa apaan ini. Jadi ini maksud mu projek kebahagiaan? Tidak adil, kau tidak memberi tahuku lebih awal. Tau tau lusa sudah menikah!" Omel Renjun.

"Hehehe, maaf. Ini kejutan untuk mu. Maaf ya aku tidak bisa hangout bersama mu beberapa hari ini."

"Huh, iya iya. Tapi hari ini bisa kan?"

"Tidak bisa aku sedang mempersiapkan untuk pernikahan ku. Mungkin nanti setelah aku menikah kita bisa hangout seperti biasa."

Renjun menghela nafas, dia rindu hangout bersama sahabat tengilnya. "Baiklah aku mengerti, semoga lancar."

"Terimakasih, sampai jumpa besok Renjunie... Jangan lupa menyusul yaa!"

Sambungan telepon dimatikan oleh Haechan. Renjun menatap sebal ponselnya. Lagi-lagi dia tidak ada kerjaan di mansion sebesar ini.

Apa Jeno sudah tau ya?

Renjun bergegas ke kamarnya untuk mengganti pakaian lalu pergi ke kantor Jeno.

Dengan ramah Renjun membalas sapaan karyawan Jeno. Senyumnya tak luntur sejak tadi. Para karyawan tersenyum senang karena kekasih boss nya sangat ramah.

{•------» ѕυgar dady «------•}

"JENO!" Teriak Renjun yang baru masuk ke ruangan Jeno.

"Ada apa baby?" Tanya Jeno sambil tersenyum mungkin jika bukan Renjun yang teriak dia tidak akan seperti ini.

Renjun menghambat Jeno dan berdiri di sampingnya. "Kau tau Haechan dan Mark akan menikah?!"

Jeno mengangguk, "iya baru tadi Mark menelfon ku."

"Huh, tidak asik sekali main nya tiba-tiba." Gerutu Renjun.

Jeno terkekeh lalu menarik pinggang Renjun sehingga Renjun berada di pangkuannya.

"Bagaimana kalau kita juga ikut tiba-tiba?" Tawar Jeno.

Renjun menggeleng. "Kau tahu pernikahan itu bukan permainan. Aku belum siap sepenuhnya untuk menikah." Jawabnya.

"Itu berarti kau tidak mencintai ku?"

"Tidak, aku mencintaimu tapi aku belum yakin untuk ke jenjang yang lebih tinggi." Jelas Renjun.

"Kau meragukan ku?"

"Mungkin? Aku juga tidak tahu yang pasti aku masih belum yakin."

"Baiklah tidak apa apa, seperti ucapan mu kalau pernikahan bukan permainan. Kita harus mempersiapkan segalanya dengan matang."

"Kau benar, tapi tenang saja. Renjun pasti siap kok nikah sama Jeno. Tapi bukan sekarang."

Jeno menunjukkan eye smile nya. "Aku akan menunggu mu sampai kau siap."

{•------» ѕυgar dady «------•}

"Haechan!" Panggil Renjun yang baru datang menaiki altar.

"Hih, kau ini tiba-tiba sudah menikah saja." Renjun menonyor kening Haechan.

Haechan meringis sakit, "duh dateng dateng main tonyor aja! Mana terlambat lagi." Dengus Haechan.

Renjun terkekeh kecil. "Hehehe maaf telat, salahkan Jeno yang membuat ku telat datang."

"Memangnya kenapa?" Tanya Mark ikut gabung.

"Masa gak tau?" Tanya balik Jeno sambil menaikkan satu alisnya. Mark mengernyit heran tak lama dia paham yang dimaksud Jeno.

"Ohh, ahahahahahahahaha..." tawa Mark ketika dia sudah konek apa yang dimaksud Jeno.

"Kamu kenapa?" Tanya Haechan khawatir karena Mark tiba-tiba tertawa.

"Tidak, tidak apa-apa kok. Silahkan menikmati hidangannya."

"Baiklah kami permisi." Jeno menggenggam tangan Renjun saat turun dari altar.

"Jeno mau itu." Tunjuk Renjun ke salah satu meja yang diatasnya terdapat berbagai macam cake.

"Baiklah ayo. Jangan melepaskan genggaman ku."

Mereka berjalan ke arah meja itu lalu Renjun langsung mengambil cake yang keliatannya enak.

{•------» ѕυgar dady «------•}

{•------» ѕυgar dady «------•}

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sugar Daddy | Noren [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang