Happy reading~~
*****
Saga duduk di atas karpet berbulu di depan televisi. Di depannya terdapat laptop menyala sedang melakukan zoom meeting bersama teman-temannya untuk membahas prediksi soal-soal yang akan keluar saat UNBK.
"Sumpah, otak gue nggak bisa menerima semua ini," keluh Jones sambil memegangi kepalanya di seberang sana setelah Saga menjelaskan panjang lebar tentang cara menyelesaikan soal invers.
"Gue juga," sambut Kenzo yang terlihat mengangkat kedua tangannya di depan kamera.
Enu ikut melambaikan tangannya di depan kamera. "Gue nyerah," ucapnya terdengar mengeluh.
Di seberang sana Salsa berdecak. "Emang otak lo semua tuh nggak ada isinya, alias kopong," ujar Salsa sudah jengah mendengar setiap keluhan dari ketiga laki-laki itu sejak tadi. Padahal awalnya mereka yang mempelopori acara belajar bersama ini.
Lovi dan Naila kompak tertawa. "Setuju, baru gitu doang udah nyerah. Pake segala belagu ngajakin belajar bareng lagi," cibir Lovi sinis. "Udah bagus Saga mau sabar ngajarin kalian."
Naila semakin tertawa kencang sampai ia mengusap sudut-sudut matanya yang berair.
"Sayang, jangan ketawa terus. Nanti perutnya sakit," peringat Lian pada Naila karena gadis itu hanya tertawa ketika teman-temannya mengeluh.
Jones terlihat melemparkan bolpoinnya di seberang sana. "Profesional dong lo, jangan ada yang sayang-sayangan kalo lagi belajar," sewot Jones menyindir.
"Emang kenapa? IRI LO?" balas Naila galak, tanduknya sudah keluar.
"Nai, sabar," ujar Lian mengingatkan membuat Jones meledek gadis itu karena merasa dibela. "Biarin aja anjing menggonggong," lanjut Lian yang sukses membuat semua anggota room terbahak kencang.
Jones misuh-misuh tidak terima. "Gel, tolongin dong," rengeknya pada Argel.
"Geli, anjing," balas Argel bergidik geli.
"Lanjut, nggak?" tanya Saga akhirnya kembali membuka suara setelah tadi hanya menjadi penyimak.
"Bentar, bentar, Ga. Istrahat dulu, otak gue beneran panas, nggak bohong," tahan Enu dramatis sambil memegang kepalanya seolah-olah sakit kepala.
"Betul, gue jadi lapar dari tadi mikir mulu,"tambah Kenzo. "Bentar, gue izin ambil makan dulu."
"Jadi, maksud lo kita di room buat ngeliatin lo makan gitu?" tanya Lovi sewot namun Kenzo sudah berlalu dan tidak mendengar.
Sekitar lima menit Kenzo meninggalkan tempat duduknya. Jangan harap kondisi room akan hening saat itu karena masih ada Jones yang punya banyak cerita random untuk tidak membiarkan hening mengisi kekosongan diantara mereka.
"Besok kita mesti sungkem dulu sama pak botak nggak sih karena selama ini udah banyak salah. Biar ujian kita lancar, nggak terhambat sama doa-doa pak botak yang dulu sering kita jailin," ujar Jones dengan ekspresi serius.
"Lo aja kali yang suka jailin pak botak," timpal Enu sambil memasukkan permen yupi ke dalam mulutnya.
"Enak aja, lo juga ya. Siapa yang dulu rela bawa garam ke sekolah terus naburin di bawah meja pak botak biar pak botak ngantuk dan nggak jadi ngajar di kelas? Siapa gue tanya?" balas Jones mengingatkan Enu tentang kejahilannya pada pak Hendra yang mereka panggil dengan sebutan pak botak karena kepala guru Ekonomi itu yang sudah tidak memiliki rambut.
Mereka semua tertawa keras mengingat momen itu. "Anjir, ingat aja lo. Tapi si Kenzo--" Enu tidak jadi menyelesaikan ucapannya karena Kenzo tiba-tiba datang menyela.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Future!
Romance[Follow sebelum baca sabi kali, bestie] Cerita ini bisa dibaca saat gabut atau kamu lagi berpikir pengen nikah muda, xixixi. Gak percaya? Coba aja! [Sequel O COUPLE] ***** "Tau gak takdir yang paling gue syukuri selama hidup?" tanya Saga menatap tep...
