Happy Reading~~
*****
Setelah makan malam dan membantu Khansa mencuci piring, Saga beralih ke ruang keluarga sembari menunggu Khansa selesai dengan urusannya di dapur.
Mata tajam Saga fokus menatap layar ponsel, kedua tangan Saga sangat lincah menari di atas layar. Beberapa menit berlalu Saga sudah larut dalam dunianya yang bernama game sampai tidak menyadari Khansa sudah duduk di sebelahnya dan bersandar pada bahu laki-laki itu memainkan ponsel menscroll aplikasi Tiktok menonton video lucu.
Tidak ada yang bersuara diantara mereka, hanya ada suara ponsel masing-masing yang menjadi pengisi di ruangan itu ditemani suara hujan di luar sana yang kembali turun malam ini.
Saga telah selesai dengan gamenya dan sekarang kembali menunggu untuk game selanjutnya, laki-laki itu menoleh ke samping karena merasakan bahunya menahan beban berat.
Saga tersenyum tipis sampai matanya seperti bulan sabit melihat wajah cantik Khansa yang sedang serius dengan ponselnya sambil asyik makan pisang yang sudah wanita itu potong kecil-kecil.
"Sa?" panggil Saga.
"Kenapa, Kak?" tanya Khansa menggerakkan kepala menghadap Saga.
"Mau juga," pinta Saga sambil membuka mulut isyarat agar Khansa menyuapinya.
Khansa yang paham segera menusuk pisang yang ada dipiring kemudian menyuap sang suami.
"Enak," ucap Saga dengan tatapan fokus pada layar ponsel karena gamenya kembali dimulai. "Lagi dong, Sayang," pinta Saga sambil membuka mulut menunggu Khansa memasukkan pisang ke dalam mulutnya.
Lama Saga menunggu tapi Khansa tidak kunjung memenuhi permintaannya. Saga menoleh sekilas dan menemukan Khansa yang sudah menahan tawa.
"Sayang," rengek Saga memajukan bibir bawah, laki-laki itu merengek tapi tetap fokus pada layar ponsel membuat Khansa gemas.
"Mau?" tanya Khansa.
Saga mengangguk cepat.
"Hadap sini dulu," suruh Khansa menahan kekehan geli. Khansa sangat tahu Saga tidak bisa melakukannya.
"Ah, Sayang. Nggak bisa, lagi war," balas Saga masih dengan suara merengek.
Akhirnya suara tawa Khansa terdengar dan wanita itu menyuapkan pisang untuk sang suami.
"Kamu ngerjain aku ya?" tebak Saga.
"Nggak." Khansa mengelak tapi tetap tertawa. Sekarang wanita itu sudah menyimpan ponselnya dan lebih memilih memerhatikan wajah serius Saga.
Tatapan mata Saga yang tajam tapi saat menatap Khansa akan berubah menjadi lembut. Bibir tipis Saga yang selalu melontarkan banyak pujian untuk Khansa, selalu mengecup beberapa bagian tubuh Khansa tanpa permisi. Hidung mancung, alis tebal dan bulu mata lentik yang membuat Khansa tidak pernah bosan memandangi wajah itu.
Saga membuka mulut dan Khansa bertugas menyuapi, begitu seterusnya sampai pisang di atas piring telah kosong.
"Habis," ucap Khansa tapi masih tersisa satu potong di tangannya.
"Cepet amat, perasaan aku baru makan sedikit," protes Saga.
Khansa terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kakak udah ngabisin satu piring ya!"
"Emang iya?"
"Pake nanya lagi, nih perut Kakak udah buncit," ujar Khansa menusuk-nusuk perut kotak Saga.
Saga merasa geli sehingga menjauhkan dirinya dari Khansa. "Sa, aku lagi war. Jangan dijailin dulu," pinta Saga tertawa karena Khansa tidak berhenti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Future!
Romance[Follow sebelum baca sabi kali, bestie] Cerita ini bisa dibaca saat gabut atau kamu lagi berpikir pengen nikah muda, xixixi. Gak percaya? Coba aja! [Sequel O COUPLE] ***** "Tau gak takdir yang paling gue syukuri selama hidup?" tanya Saga menatap tep...
