17+
Warning : mature content | DILARANG KERAS MELAKUKAN PLAGIARISME‼️
[ Cerita diprivate, silahkan follow untuk membaca semua chapter ]
Hanya dengan menatap matanya, Sarah sudah paham bahwa Aaron Jefferson itu laki-laki berbahaya, tapi entah kenapa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
‼️ HAPPY READING ‼️
Sarah keracunan.
Ya, Sarah keracunan, dan itu bukan sebuah lelucon meski Dorian itu lucu dan ia juga harus menahan tawanya kuat-kuat ketika dokter mengatakan kekasih Aaron itu ternyata keracunan makanan. Atau bahasa tidak berlebihannya alergi. Tapi reaksi perempuan itu benar-benar berlebihan sejak semalam.
Kurang dari 1 jam setelah meninggalkan restaurant Sarah sudah mengeluh pusing, dan perempuan itu memanfaatkan kesempatan itu untuk semakin menempel pada Aaron. Selanjutnya ketika sudah sampai di hotel Sarah muntah-muntah dengan tubuhnya yang mulai melemas seperti tidak pernah makan. Itusih menurut pandangan Dorian. Tapi harus ia akui, kondisi Sarah semalam cukup memprihatinkan dengan wajah pucatnya yang seperti mayat hidup itu.
Rencana menghabiskan waktu seharian bersama Aaron benar-benar musnah. Tidak sesuai dengan ekspetasi Sarah yang sudah memikirkan pose apa yang akan ia lakukan ketika berfoto bersama Aaron dengan Dorian sebagai babu mereka nanti.
Sarah bahkan tidak memiliki tenaga untuk mencaci dirinya sendiri karena mengacaukan rencananya. Dan Dorian, laki-laki itu menolak mentah-mentah kembali melakukan reschedule semua pekerjaan Aaron yang katanya sudah semakin menumpuk.
Lalu apa yang dilakukan keduanya sekarang? tentu saja berada di kamar hotel. Dengan Sarah yang menyender pada dada bidang Aaron sambil menatap serius laptop Aaron yang kini sudah menampikan film romantis yang biasa ia tonton.
"Kamu nyaman kaya gini?" tanya Aaron menyelipkan helaian rambut Sarah dibelakang daun telinga perempuan itu.
Sarah mengangguk pelan kemudian mendongak menatap Aaron. "Jangan bilang lo yang gak nyaman gue kaya gini," ucap Sarah menatap Aaron memicing dengan suara bengeknya itu.
"Saya gak masalah." ucap Aaron mengidikkan bahunya santai. Kedua tangan laki-laki itu kini bergerak melingkari perut rata Sarah, memeluk perempuan itu erat namun tidak menyakitinya.
"Nanti kita dinner di luar ya?" ucap Sarah kembali menatap Aaron memelas.
"Please?" ucap Sarah lagi ketika Aaron mengerutkan dahinya tidak setuju.
"Kamu masih sakit, Sarah. Lagian makanan di hotel juga gak kalah enak." balas Aaron membuat Sarah memutar bola matanya malas. Rasanya ia ingin melempar sepiring bubur tanpa rasa itu ke wajah Aaron sekarang juga. Tapi tentu saja Sarah tidak melakukannya, ia masih ingin hidup dan menyusun pesta pernikahannya nanti bersama Aaron.
"Tapi besok kita udah balik, gue pengen dinner di Eleven Madison Park untuk hari terakhir kita di NYC. Kapan lagi 'kan?" ujar Sarah menatap Aaron memelas, menyinggung salah satu restaurant termahal di New York.
Aaron menatap Sarah tanpa ekspresi. "Kita bisa ke NYC kapan aja kalau kamu mau. Even if it's just for dinner." balas Aaron membuat Sarah memutar bola matanya malas.