Dari kejauhan, Jisung bisa mendengar suara kembang api seiring dengan menipisnya jarak menuju indekos. Jahitan kain wol buatan sang ibu yang melingkar di leher sesekali merosot ke depan dada, membuat langkahnya terhenti untuk membetulkannya kembali mengingat dua koper yang menjadi tanggung jawab kedua tangannya. Musim panas akan segera tiba, tetapi angin malam tidak pernah sukar menggigit, terlebih bagi sang empu yang lemah terhadap dingin. Setelah beberapa saat, Jisung akhirnya sampai di depan pagar indekos; berwarna hitam, tinggi menjulang, dan terkunci.
Dua koper besar telah bersandar pada besi, sedang pemiliknya sibuk mencari ponsel di antara saku mantel dan celana. Jisung tanpa sadar menggigit bibir tatkala angin kembali berembus, kali ini surai hitamnya yang menjadi korban. Demikian jarinya semakin cepat menjelajahi kontak.
“Hyung, aku sudah berada di depan indekos.”
Intonasi lembut itu berbanding terbalik dengan keramaian langit malam yang berhias ledakan percik api. Begitu melihatnya melesat cepat ke atas, Jisung berasumsi bahwa kemunculan kembang api tersebut berasal dari rumah ketiga setelah indekosnya. Kala melempar pandangan, pria dalam balutan mantel biru tua tersebut menyadari bahwa tidak ada siapa pun di sepanjang jalan. Hanya Jisung seorang bersama deret lampu jalan yang menampakkan aspal.
“Aku tidak memiliki kuncinya,” ia membalas suara dari balik ponsel.
Sepersekian detik, dahinya mengernyit. “Di kampus? Memangnya tidak ada siapa pun di indekos?”
Jisung tanpa sadar melangkah ke belakang untuk melihat bangunan tingkat dua di hadapannya. Indekos yang ia tempati memiliki empat kamar--sebuah indekos yang sangat sederhana--dengan satu dapur dan satu kamar mandi. Semuanya digunakan secara bersama. Ia mengenal salah seorang penghuni di sana, Renjun namanya. Pria yang berumur dua tahun lebih tua tersebut menjadi satu-satunya tetangga yang dekat dengannya.
Seseorang yang sama yang tengah melakukan panggilan dengannya sekarang.
“Hyung, bisakah kau--”
Dari sayap kiri, Jisung bisa mendengar suara kunci pagar yang terbuka. Pria itu spontan menoleh sebelum memicingkan mata. Berkat bantuan lampu jalan, Jisung dapat melihat seseorang baru saja keluar dari rumah yang ia yakini sebagai tempat kembang api berasal. Dari perawakannya, sosok tersebut merupakan seorang pria berbadan besar dengan rambut cepak.
Ia berjalan dengan kaki sedikit terseret sebelum berhenti begitu menemukan sosok Jisung di tengah jalan, balas memandangnya tanpa ekspresi.
“… Jisung? Apa kau mendengarku?”
Seperti ada bel yang berbunyi begitu keras di kepalanya, Jisung tersentak dalam kesemuan situasi. Suara Renjun terus menyahut, tetapi fokus pria itu sepenuhnya teralihkan oleh sosok yang berada tidak jauh darinya, yang masih diam tidak bergerak tanpa memutus kontak mata.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jisung merasakan bulu kuduknya meremang bukan karena dingin.
Dan bak kenyataan yang hatinya tutupi kala pemicu buruk di otak muncul, seluruh saraf dalam tubuh Jisung melemas kala sosok asing tersebut mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Telinga sudah menolak suara apa pun kala lampu jalan kembali menjadi saksi bisu, kali ini sebuah pisau yang berhias darah. Kemudian bak lelucon, pria itu tiba-tiba dapat berlari sangat kencang sehingga Jisung tidak mampu untuk beranjak barang sejengkal pun.
Sepersekian detik, kematian seperti kecut mimpi di siang bolong yang pernah ia alami, meledak dalam bunga darah pada lehernya. Rahang Jisung terbuka lebar, melolong lirih--tersedak logam yang menembus lapisan kulit. Berceceran jatuh ke tanah, merah segar lantas membebaskan diri bersama tumbangnya tubuh sang empu. Ponsel di tangan bernasib tidak jauh sama.
“Yak, Jeno! Apa yang kau lakukan?”
Seseorang kembali muncul dari rumah yang sama.
“Membeli kembang api,” Jeno berbalik, tersenyum lebar.
“Tunggu, ritualnya ‘kan sudah--” kemudian si lawan bicara menyadari sosok tidak bergerak di bawah kaki Jeno. Berterus terang, ia langsung menepuk dahi sebelum menggeleng. Raut keheranan muncul dengan cepat.
“Kita sudah mempersembahkan dua jiwa.”
“Sekarang jadi tiga. Iblis suka ganjil. Jadi, biarkan aku membeli kembang api lagi, oke?”
Tanpa menunggu balasan, Jeno pun mengambil pisaunya kembali lalu berjalan dengan kaki terseret menuju arah yang berlawanan. Korek di kantung celananya berbunyi setiap kali kakinya tersangkut aspal; sebuah lagu bagi tanah yang kotor.
°°°
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.