Haechan, OC
Romansa
©fedmydream
°°°
Sore ini, tidak biasanya aku mendengar suara alunan musik bersama untaian nada yang indah, juga kenyataan akan lembutnya ketukan irama. Aku menghela napas, merasakan hati dipenuhi oleh frasa - frasa sensitif, berujung pada ujung mata yang terasa panas. Tanpa sadar otak telah memberi perintah bagi saraf motorik untuk menarik kedua lutut kemudian memeluknya bersama dagu yang bertumpu nyaman. Diam - diam menikmati suara seseorang.
Sampai sebuah lengan datang mendekap dari belakang, pertahananku runtuh; aku menangis.
“Hey, hey, ada apa?”
Ranjangnya sedikit berderit, ada beban lain yang datang. Lebih tepatnya, Haechan yang kini memilih duduk bersamaku. Senyumanku bertemu dengan sorot khawatir miliknya.
“Aku baik - baik saja. Kau.. bernyanyi dengan indah.” Kekehan kecil membantu kecanggungan kala tangan dengan kikuk bergerak mengusap air mata di pipi.
Haechan ikut tersenyum, tangannya turut hinggap di kulitku sekadar menghapus sisa emosi yang tertinggal.
“Katakan padaku. Kau selalu bisa membaginya bersamaku.” Katanya sangat lembut.
Sepersekian detik berikutnya, tubuhku bergetar. Aku tidak menyukai bagaimana hati ini begitu lemah saat Haechan menyentuhnya, ia memiliki cara yang sangat lembut dan hati - hati; melelehkan. Ujung jariku terasa gatal, aku ingin mencengkeram sesuatu; meluapkan semua beban dalam diri, aku ingin berteriak.
Seakan telah berbaginya bersama Haechan, pria itu tiba - tiba memelukku. Membawa kami lebih jauh dengan kecupan - kecupan lembut di pucuk kepala. Kedua mataku sontak terpejam, menikmati bagaimana aromanya begitu menenangkan.
“Ayo berbaginya bersamaku.” Haechan merendahkan kepala sekadar membisikkan kata - kata penenang.
Dia berhasil. Aku kembali menangis, tetapi kali ini dalam dekapannya yang aman.
“Aku merasa kecil. Aku merasa.. aku bukan manusia yang berguna. Aku merasa aku bukan siapa - siapa.” Terlepas begitu saja.
Pemicu sudah muncul, maka tidak ada alasan lagi bagiku untuk tidak sungguhan meledak.
“Aku benci saat aku merasa bahwa aku telah salah mengambil langkah. Aku benci saat orang - orang berpikir bahwa aku adalah orang yang hebat dengan pendiriannya yang kokoh, aku bukan orang yang seperti itu! Aku lemah! Aku lemah! Tidak’kah kalian sadar itu.. aku benar - benar lemah dan kecil. Aku takut sekali.”
Tangan ini sudah mencengkeram baju milik Haechan, mata ini sudah membasahi dada milik Haechan, dan hati ini sudah kembali membaginya bersama Haechan. Aku ingin tenggelam lebih lama, hasrat yang tidak pernah mereda bahkan untuk sekadar pertemuan kecil yang tidak terduga.
Kemudian bisa kurasakan tangan merangsek lembut di antara surai milikku.
“Kau akan baik - baik saja, sayang.” Sebuah usapan terealisasikan dan aku tidak bisa melakukan apa pun selain mempertipis jarak; mendekapnya lebih dalam.
“Kau adalah seseorang yang hebat. Orang terhebat yang pernah aku kenal, kau harus tahu itu, kau harus bangga pada dirimu sendiri.”
“Hidup itu.. tidak selalu mengenai kebahagiaan. Kau akan merasakan masa di mana kau perlu marah, kecewa, sedih, dan masih banyak lagi. Kau jangan membuatnya sebagai beban, sayang. Hidup ini.. kau harus memaknai setiap perjalanannya karena dari hal tersebutlah kau akan mendapatkan pelajaran.”
Tidak pernah aku membayangkan akan berada di pelukannya bersama kalimat - kalimat penenang yang melembutkan hati. Dalam setiap patah kata yang terlontar, aku merasakan bagaimana jantungku berdegup begitu kencang saat air mata terus mengalir keluar seakan tengah memberontak. Namun, aku tetap diam, menikmati semuanya, memaknai semuanya seperti yang Haechan katakan.
Oh, aku sangat menyayanginya.
“Apa kata - kataku menyakitimu? Sepertinya bajuku semakin basah.” Ia bergurai sembari mengusak ujung hidungnya pada pucuk kepalaku.
Perlahan aku melepaskan dekapannya. Kami saling menatap lalu melepas tawa kecil. Tanganku sontak mulai sibuk mengambil tisu di sisi ranjang untuk membereskan kekacauan di wajah, terutama.. err hidung. Haechan sendiri tidak keberatan untuk ikut membantuku, ia bahkan mengusap pipiku hingga membawanya nyaris ke telinga sedang tangannya yang lain mulai merapikan surai rambut yang menutupi mata.
“Cantik.”
Aku spontan merengek. “Hentikan.”
Bukannya berhenti, Haechan justru mencondongkan tubuh hingga wajah kami hanya terpaut beberapa senti. “Cantik, jangan sedih lagi.”
Kedua sudut bibirku lantas terangkat disusul kepala yang mengangguk patuh. Tangan tanpa sadar bergerak mencubit pipinya. “Iya, aku tidak akan bersedih lagi. Aku akan mencintai diriku sendiri mulai dari sekarang.”
Kemudian semuanya berlangsung dengan cepat; kecupan kilat di bibir.
“Bagus. Itu baru gadis kesayanganku.”
Tanpa jeda, aku balas mengecup bibirnya. “Terima kasih, Haechan.”
°°°
Cerita ini dibuat pada tanggal 6 September 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
SHALLOW - NCT Dream
Fanfiction[TAMAT] 💌 Kumpulan drabble/ficlet Dream dalam alur yang berbeda - Thursday, 210121 - Wednesday, 220615
