Fools

195 8 23
                                        

Jisung, OC
Romansa
©fedmydream

°°°

Jisung membayangkan banyak hal, tentang hal - hal di luar kendalinya yang terjadi di dunia ini. Pikiran tersebut menjadi bagian dari hidupnya, mewarnai kehidupannya yang membosankan. Jisung selalu menyukai sisi lain dari apa yang tampak, juga ingin mengetahui apa yang tidak tampak. Jisung ingin menjelajahi daratan atau mengarungi lautan, membayangkan pergi bersama burung atau ikan cukup membuatnya senang. Apakah ia bisa berkomunikasi dengan hewan tersebut? Mungkin bernegosiasi soal harga yang bisa ia tawarkan untuk perjalanan yang panjang.

Tanpa sadar Jisung terkikik, ia menyukai hal tersebut. Akan tetapi, teman - temannya selalu berkata bahwa ia terkena sindrom kelas 8, alias masih bocah. Padahal Jisung sudah kuliah, tengah menempuh semester tiga pula.

“Jisung,” Renjun menyentuh bahunya, “Raya ingin bertemu denganmu.”

“Gadis berambut pendek berkacamata yang tampak ingin memakanku itu?” sang teman mengangguk.

Seketika saja inner peperangan muncul dalam pikirannya. Sudah sejak lama Jisung melihat aura kegelapan pada gadis bernama Raya itu. Bingkai kaca tidak mampu menutupi ketajaman dalam sorotnya, juga surai cokelat pendek yang bergoyang - goyang kecil ketika ia menoleh dengan cepat, seperti sebuah alarm peringatan. Raya adalah definisi gadis yang mengerikan, Jisung harus membawa kacamata pelindung atau dia akan mati tertembus peluru karisma gadis tersebut.

“Tapi aku tidak membawa alat pelindungku,” kata Jisung ketakutan.

Di tempat, mata Renjun berotasi dengan jengah. “Kau tidak perlu kacamata hitam untuk berkomunikasi dengannya,” pria itu melanjutkan. “Asal kau tahu, dia ingin bertemu denganmu untuk mempertanyakan hal tersebut. Kacamata anehmu menganggu pandangannya.”

Seiring dengan kalimat yang terserap, seiring pula degup jantung Jisung yang kian menaik, memukul dadanya dengan kuat. Pria itu sontak menahannya; berpose seperti orang terkena serangan jantung. Tidak. Jisung tidak bisa bertemu dengan Raya atau ia akan mati, jantungnya seperti siap melompat pada Tuhan. Melihat hal tersebut, Renjun pun menghela napas.

“Jisung, kau menyukainya. Degupan jantungmu yang meningkat itu bukan soal Raya yang memiliki kekuatan aneh untuk memakan atau membunuhmu.”

“Tapi ini hanya terjadi ketika aku berada di dekatnya, dia gadis yang mengerikan.”

Astaga, tolong kuatkan aku, Tuhan. Renjun menggumam dalam hati.

“Siapa gadis yang mengerikan?”

Raya pun muncul dengan tangan terlipat di dada. Matanya berkilat dari balik kaca, menangkap Renjun dan Jisung dengan sorot yang tajam. Gadis itu kemudian duduk di hadapan Jisung dan menatap pria itu lebih lanjut sampai sang empu langsung menunduk dan mengepalkan tangan di atas meja. Sontak saja, dahi Raya berkerut keheranan. Di sampingnya, Renjun segera memberi kode bahwa Jisung sedang bertingkah bodoh.

“Jadi, ke mana kacamata hitam milikmu, Jisung?” tanya Raya to the point.

“Tidak tahu,” cicit Jisung. “..bisa’kah kau pergi, jantungku sakit,” gumamnya kelewat keras.

Raya spontan menahan tawa sedang Renjun menepuk dahi dengan keras. Pria itu lantas menatap keduanya secara bergantian sebelum pamit undur diri. Keinginan Jisung untuk mengekor ia urung, tangan melayang di udara untuk menapik lengan sang teman yang siap menempel di sisi pakaiannya. Tepat setelah derap langkah milik Renjun menghilang, Jisung segera memunggungi Raya dan bersiap kabur.

“Yak, Park Jisung!” Beruntung gadis itu dapat menangkap pergelangan tangan sang empu dan menahannya di tempat.

“AKH! KAU MENYENTUHKU!” Jisung menjerit dengan keadaan pipi bersemu padam.

“Berhenti bertingkah konyol. Duduklah dengan tenang dan dengarkan aku baik - baik!” Seru Raya sama kerasnya.

Akan tetapi, Jisung mampu lolos dari cengkeraman si gadis dan segera pergi melarikan diri. Raya meneriakinya, namun langkah Jisung tak kunjung berhenti. Sekonyong - konyong gadis itu telah kehilangannya di balik pintu. Raya lantas menghela napas, emosinya merambat hingga ke ubun - ubun dibumbui rasa frustasi. Dia tidak pernah bertemu anak aneh seperti Jisung sebelumnya, tetapi lebih aneh baginya untuk menyukai pria itu dan berniat menyatakan perasaan.

Bagaimana caranya untuk berbicara jika pria itu saja selalu kabur dari hadapannya? Ia yang sering disebut gadis mengerikan oleh Jisung, tetapi menemukan sesuatu dalam diri pria itu; kasih sayang.

Both of us are fools.”

°°°

#30DWC
#30DWCJilid31
#Day7

SHALLOW - NCT DreamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang