Part 10 : it's not real

823 34 1
                                        

"Plaaakkk" bunyi tamparan.

"Awww" teriakku sakit.

Aku menampar diriku sendiri, dan sepertinya terlalu kuat. Aku bersandar di balik pintu kamar mandi, merosotkan sekujur tubuhku kebawah. "Hhhh..apa-apaan aku ini!" Aku kembali menerantukkan kepalaku ke sisi pintu.

"Why? Kenapa aku malu?" Aku menghela nafas, menyadari apa yang terjadi padaku beberapa menit lalu sebelum aku berlari ke kamar mandi dengan alasan ingin mencuci tangan -_-

Aku malu? Beneran malu? =_= kenapa?

Si bule bego itu cuman ngelantur, bahkan mungkin tak tau apa yang ia ucapkan. Tak ada alasan bagiku untuk malu. Tak ada!

Aku teringat perasaan ini

Saat Andrew dulu menatapku saat jam pelajaran

Perasaan malu.

Wajahku panas, amarah membuatku sesak. Kesal, kecewa, terkhianati semua jadi satu lagi.

Shane? Orang itu hanya orang asing yang tinggal serumah dengan ku. TIDAK BERARTI APA-APA! aku bahkan baru kenal dengannya sehari yang lalu. Perasaan malu ini mungkin cuma ilusi ku. Mungkin karena udara panas diluar yang membuat wajahku memerah. Ya! Panas!

Aku menganggukkan kepala dan berjalan ke wastafel mencuci wajahku, menepuk-nepuk pipiku dan menghadap cermin di wastafel.

"Ini bukan apa apa nik! Jangan percaya laki-laki" tukas ku sembari meyakinkan diriku di pantulan kaca.

Aku beranjak keluar dari kamar mandi, dan

"Bukk" aku menabrak sesuatu.

Menabrak dada bidang nya Shane.

"Untunglah! Kukira kau pingsan didalam, ini lama sekali kalau cuman untuk mencuci tangan." Terdengar nada khawatir darinya.

Aku terus merunduk, tak ingin menatapnya.

Aku takut!

Hidungnya

Rambutnya

Bibirnya

Rahangnya yang kokoh

Dan..

Mata biru itu

Aku tak mau terhipnotis oleh semua itu, sebuah mahakarya hanyalah sebuah kesalahan! Sebuah mahakarya selalu mempermainkan sekelilingnya. Itu yang ingin kuyakini.

"Cewe Sepatu, are you ok?" Ia merunduk mencoba mencari celah rambutku yang menampakkan mataku. Aku tau ia hanya ingin memastikan apa aku baik-baik saja.

Kuangkat kepalaku menatap hidungnya, aku tak ingin menatap matanya.

"Aku tidak apa apa" jawabku singkat.

"Apa kau yakin?" Shane menyentuh tulang pipi kiriku dengan tangan kanannya. Artinya ia sangat khawatir.

"Aku tidak apa-apa" kutepis tangannya setelah kutatap tajam matanya dan berpaling pergi.

Aku pun berlalu

Meninggalkannya didepan pintu kamar mandi

Andai saja aku lihat kebelakang.

Maka aku akan tau, betapa sedihnya wajah Shane

Saat aku menepis tangannya dari wajahku.

~

Deep in BlueCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang