~Enjoy it guys~
Fano mengeratkan jaket saat angin kencang semakin memburu tubuhnya. Beberapa kali telapak tangannya ia gosokkan. Netranya menatap kopi panas yang sudah habis setengah jam yang lalu. Mungkin ia tak sadar menyesap minumannya berkali-kali. Bagaimanapun juga itu untuk menghilangkan rasa dingin dan rasa gugupnya.
Fano menatap pemandangan malam didepannya, mengambil nafas lalu menghembuskannya perlahan. Mengulangnya beberapa kali.
Suara sepatu membuat Fano menoleh kebelakang, mencari lawan bicara yang sudah ia ajak untuk bertemu di rooftop rumah sakit.
"Gua gak punya banyak waktu." Kata orang itu. Ia menghampiri Fano tapi mengambil jarak yang cukup jauh dari laki-laki itu.
"Gua kira lu gak bakal dateng. So, thanks udah sempetin waktu." Fano berkata dengan intonasi rendah.
"Sap, gua mau minta maaf." Kata Fano. Ia menoleh kearah Sapta yang hanya menatap lurus ke pemandangan lampu-lampu kota didepannya.
"Rasanya permintaan maaf lu gak berguna selama lu belum jelasin apa yang gua gak ketahui." Balas Sapta datar.
"Semua terlalu rumit Sap." Fano memegang pagar besi yang membatasi rooftop dengan tanah dibawah sana.
"Serumit apapun cerita itu, gua bakal denger selama lu jujur Fan." Sapta berkata dengan menaikkan nada bicaranya.
Sedetik kemudian, Sapta tertawa keras.
"Gila akting lu bener-bener bagus Fan." Sarkas anak itu.
"Apa perlu gua kasih penghargaan Oscar?" Sapta menatap kearah Fano dengan pandangan remeh.
Fano bergeming, tak ingin membuat keributan dengan temannya.
Keheningan berlalu lama. Salah satu dari mereka seperti sibuk dengan isi kepala masing-masing.
"Gua Faro." Perkataan itu membuat Sapta sontak menoleh.
Alisnya terangkat, tanpa ditanya pun semua orang akan tau jika pertanyaan "Apa maksud lu?!" Seperti tertulis jelas di dahinya.
"Itulah kenapa gua punya bekas jahit diperut." Ulang Fano.
"Faro udah mati." Kata Sapta pelan.
Fano mengeleng "Yang mati Fano. Tepat tujuh tahun yang lalu waktu kita umur sebelas."
"Terus kalian?" Pertanyaan Sapta tersendat. Ia tak kuasa melanjutkan perkataannya, semua terlalu tiba-tiba.
Ia memijit dahinya, tiba-tiba kepalanya terasa pusing karena serangan fakta mengejutkan itu.
"Dokter mendiagnosis gua gagal ginjal diumur tiga tahun. Gua diperkiraan paling lama bisa bertahan sampai umur dua belas kalau belum dapat cangkok ginjal."
"Gagal ginjal kronik, penyakit sialan ini yang sampai kapanpun jadi hal yang paling gua kutuk." Fano menjelaskan dengan suara datar. Netranya menatap lurus kedepan, enggan bersitatap dengan Sapta.
"Tujuh tahun yang lalu," Suara Sapta mengantung. Ia membawa memorinya untuk berkilas balik.
"Gua ada di Finland." Lanjut Sapta.
Sapta meregangkan tangannya memegang pembatas pagar. Ia mendongakkan kepala lalu menghembuskan nafas berat.
"Ya, saat itu lu udah pergi ke Finland." Balas Fano.
Sapta ingat sekarang, papanya yang bekerja sebagai diplomat selalu berpindah-pindah negara dan mereka sekeluarga akan mengikuti tugas kepala keluarga itu.
"Keadaan Fano semakin memburuk setahun setelah lu pergi ke Finland. Kinerja jantungnya semakin memburuk sedangkan donor jantung semakin susah didapat. Pada akhirnya, Fano meninggal setelah koma hampir empat bulan." Fano menjelaskan.
"Seperti anak kembar lainnya, satu sakit maka lainnya juga sakit. Saat itu keadaan gua juga drop. Diakhir hidupnya Fano mendonorkan ginjalnya buat gua." Lanjut Fano.
"Kita lahir dengan penyakit bawaan dan hanya bisa satu yang bertahan."
Fano mengambil nafas membiarkan hening beberapa detik sebelum kembali berbicara.
"Fano nulis gak pakai tangan kanan, Fano selalu suka piano daripada gitar, Fano jago dibidang bahasa sedangkan gua harus ngambil les bahasa, terakhir Fano suka sepak bola daripada main basket."
Mendengar penuturan itu membuat Sapta mengerjapkan mata. Benar, Fano yang ada didepannya bukanlah Fano teman kecilnya.
Fano yang ia kenal di tahun terakhir ini selalu aktif dengan tangan kanannya. Fano yang rela menabung untuk membeli gitar baru untuk mengantikan gitar yang rusak karena ulah papanya. Fano yang mengambil les bahasa Mandarin bersamanya. Fano yang suka taruhan bermain basket dengan Abay.
"Bangsat." Sapta menggeram. Laki-laki itu merutuki kebodohannya yang tidak memperhatikan Fano selama ini.
"Sekarang dimana tempat istirahat Fano?" Tanya Sapta.
"Di Swiss." Jawab Fano.
Alis Sapta terangkat "Swiss?" Ulangnya.
"Gua operasi disana." Kata Fano.
"Kenapa sejauh itu?" Sapta heran.
Fano mengelengkan kepala "Gua gak pernah dikasih jawaban tentang hal itu setiap kali gua tanya ke bokap nyokap."
"Terus identitas lu? Harusnya lu hidup sebagai Faro bukan Fano." Kata Sapta.
"Entah berapa uang yang dipakai sama bokap buat ngurus kepalsuan identitas itu. Kembar identik nyatanya bisa mengubah hal diluar nalar."
Sapta tertawa keras bahkan Fano bisa melihat jika temannya itu mengusap air mata disudut matanya.
"Keluarga lu sedrama itu ya ternyata." Sapta berkata setelah meredakan tawanya.
Fano hanya diam tak membalas perkataan temannya.
"Lu dan seluruh keluarga lu benar-benar komedi." Kata Sapta. Ia berbalik, membelakangi pemandangan kota lalu menatap kearah Fano.
"Pembohong. Lu adalah pembohong handal." Sapta berkata tajam. Raut mukanya marah, telinganya bahkan memerah.
"Apa selama ini lu babak belur, pingsan sampai masuk rumah sakit, dan diusir dari rumah juga bagian dari skenario lu?" Tanya Sapta.
"Gak. Gua gak pernah bohong soal itu. Gua ditampar nyokap, dipukul gitar sama bokap, diacuhin Revan. Semua itu emang terjadi." Jawab Fano.
"Gua cuma temenan sama Fano bukan Faro. Jadi jangan harap gua bakal berempati sama lu sekalipun lu hidup sebagai Fano." Lanjut Sapta mengambil keputusan.
Fano menunduk, ia sudah menduga jika Sapta akan kecewa padanya.
"Gua butuh lu Sap." Ucap Fano.
"Gua gak butuh temen seorang pembohong Fan." Balas Sapta.
"Ah, Far." Ralat Sapta dengan menyunggingkan sudut mulutnya seakan menyindirnya.
"Jangan hubungi gua lagi." Sapta berkata lalu melangkah pergi menuju pintu yang mengarah ke tanda darurat untuk kelantai bawah.
Fano menatap kepergian Sapta dalam diam. Sekarang siapa yang peduli dengannya? Bukannya Sapta berkata jika ia harus menjadi orang bahagia yang hidup dengan baik. Lalu apa sekarang? Temannya itu pergi meninggalkannya sendirian.
-
Semoga nge feel pliss😭 dah lama gak buat scene mengandung bawang kek gini.
Aku tetep pake nama Fano ya bukan Faro buat dialognya. Menghindari kebingungan dan typoku yang kadang ambrul adul.
Next? Comment and Vote
Salam Rynd🖤
KAMU SEDANG MEMBACA
PERFECT?|END✔
Teen FictionApa yang kalian rasakan saat dituntut kesempurnaan? Bukankah memuakkan? Atau itu memang menjadi tujuan dalam list setiap impian? Delfano Azka Karelino, nama laki-laki itu. Hidup dengan segudang peraturan nyatanya membuat laki-laki berumur 16 tahun m...
