Bel istirahat pertama sudah nyaring berbunyi. Bukannya ke kantin seperti siswa yang lain anggota inti OSIS sekolah malah duduk melingkar pada karpet di sekret hari itu. Mengingat kemarin mereka batal rapat karena sang ketua malah terserang demam.
Renjana disana sibuk membalik lembar proposal dan rencana anggaran biaya di tangannya pun dengan Adit yang di sebelahnya turut melakukan hal serupa.
Anisa si sekertaris dua tak kalah sibuknya, mencatat hal yang akan di bahas pada rapat nanti sore. Disana pun sudah ada ketua OSIS periode sebelumnya yang akan membantu jalannya acara besar tahunan ini.
Rencananya mereka akan rapat internal terlebih dahulu sebelum rapat dengan panitia nanti sore.
Saat semua tengah serius pintu sekret terbuka dengan si ketua OSIS yang menyeret sosok lain di belakangnya. Mereka menoleh sesaat tapi sesudahnya hanya menggeleng, terbiasa.
"Lepas, No!"
"Duduk"
Nafa mendengus dan munurut duduk di atas sofa tepat di sebelah mantan ketos dengan bibir tercebik.
Sedangkan Marka, si mantan ketos hanya terkekeh geli melihat Nafa mencebik dan membuang pandangan enggan melihat ke arah Nova.
"Kenapa sih No??"
Marka membuka suara saat semua memilih diam. Merasa aneh akan suasana yang terasa tak nyaman ini.
"Tuh anak dikira gue gak bakal tau apa ya kalau dia bohong?? Dikira kenalnya baru sehari dua hari makanya berani begitu??"
Adit dan Nisa saling melirik sebelum pelan-pelan meringsut satu sama lain. Berniat kabur sebelum Nova malah melempar amarah pada siapapun yang dilihatnya.
"Ahhh mumpung lagi istirahat gue sama Nisa beli gorengan deh ya temen rapat kita. Yuk Nis"
Nisa buru-buru bangkit mengikuti Adit yang sudah bangkit. Duo ini emang paling tidak suka jika Nova sudah tampak emosi jadi menghindar adalah hal terbaik yang patut dilakukan.
"Dit"
Kaki Adit belum keluar pintu sepenuhnya saat Nova memanggil. Adit meneguk ludahnya susah payah sebelum berbalik.
"I-iya No??"
"Titip roti buat Nafa, jangan yang keju"
Adit berkedip sebelum cepat-cepat mengangguk dan menarik Nisa agar tak berlama-lama disana.
Setelah keduanya tak lagi tampak dalam bayangan pun pintu sekret tertutup rapat, Nova berjalan mendekat duduk di sebelah Marka.
Posisinya jadi Nafa, Marka, dan Nova duduk di atas sofa panjang dan Renjana duduk di karpet bawah tepat di depan meja. Renjana agaknya terlalu terbiasa dengan hal ini jadi masih saja sibuk dengan berkasnya alih-alih peduli.
Nova menghela nafas pelan sebelum melirik Nafa yang terhalangi tubuh Marka.
"Jangan gitu lagi. Kalau dilarang tuh jangan malah dilakuin"
Nafa mendengus sebal.
"Demi Tuhan gue cuman beli cilok mang Asep Nova! Bukan ngerokok atau yang lainnya. Kenapa berlebihan banget sih??"
"Berlebihan??"
Nova menyahut tidak terima. Mendelik pada Nafa yang menyorotnya tak kalah sengak.
"Iya, emang kan??"
"Udah anjir!"
Renjana melempar kertas dalam genggamannya ke arah meja dengan keras. Kesal juga agaknya dengan dua bersaudara ini.
"Kalian tuh sama aja tau gak sih??!"
Renjana mendelik.
"Nova emang salah berlebihan banget larang Lo ini itu, tapi Nafa Lo juga salah kan??"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dirgantara ✓
FanficDi antara luasnya langit, Dirga hanya berharap bahwa kehangatan akan selalu memeluk rumahnya.
