Sudah jelas setiap orang berbeda-beda dalam memulai hari. Ada yang bersemangat ada juga yang malas bangun jika tidak ditarik paksa.
Setiap orang berbeda-beda dalam menyambut pagi. Ada yang bersiap di rumah, ada juga masih sibuk bergelung di dalam selimut tebal.
Tapi hanya sebagian orang yang akan memulai pagi di atas bangsal rumah sakit. Sedikit sekali, hanya satu dibandingkan seratus orang agaknya.
Dan sayangnya di tengah kemungkinan kecil itu Nafa adalah salah satunya. Memulai hari dengan lesu di atas bangsal rumah sakit. Menatap dengan lemas ke arah kedua orang yang tengah sibuk sendiri di sofa ruangannya.
Entah apa yang terjadi di antara ayah dan kakaknya hingga tau-tau saling mendiami sedari tadi. Nafa ingin bertanya tapi belum juga menemukan waktu yang tepat.
"Selamat pagi"
Ayah adalah yang pertama mendekat tersenyum lebar ke arahnya dan mengusap kepalanya.
"Pagi" suaranya lirih hampir mirip dengan suara kodok terjepit. Nafa meringis.
"Feel better??"
"Much better"
Dirga kemudian tersenyum lagi melirik ke arah jam dinding dan mulai mumbuka plastik di atas nakas.
"Kalau gitu kita sarapan dulu biar bisa minum obat terus jadi makin makin baik"
Nafa mengangguk membiarkan ayah mulai mengatur bednya hingga dia posisinya menjadi setengah duduk. Dia masih terlalu lemas untuk duduk tegak ngomong-ngomong.
"Nono udah sarapan??" Katanya dengan suara yang agak keras agar kakaknya mendengar.
"Sudah dari tadi, Na. Lo aja yang kebo baru bangun jam 10"
Nova mendekat lalu duduk di tepi ranjang adiknya. Tangannya terulur memijat pelan kaki Nafa yang terbalut selimut.
"Ngomongnya halus banget ya bang, Lo Lo" kata Dirga sambil menyendok makanan Nafa dan menyuapinya dengan perlahan.
"Ya gak apa-apa, dari pada ngomong halus tapi gak bisa masak"
Nafa meringis. Agaknya kakak dan ayahnya memang sedang perang. Pasalnya Nova yang dia tau mana mungkin berani melawan ucapan ayah jika tak sedang kesal. Ckck, kakaknya memang mengerikan.
"Ungkit aja terus ungkit"
Nova mendelik menatap ayah dengan pandangan mehakimi.
"Ya harus diungkitlah! Adik aku sampai keracunan makan masakan ayah!"
Ahhh. Ternyata itu masalahnya. Nafa mengangguk pelan.
"Aku gak apa-apa, No. Udahlah aku aja yang keracunan udah maafin ayah masa kamu yang cuman ngeliatin masih marah??"
Nova membuang pandangan.
"Tapi kamu kesakitan, aku gak suka" katanya mencicit.
Nafa tersenyum tipis melirik sedikit pada ayah yang termangu, terdiam dengan sendok dalam genggaman. Sebelum kemudian sosok itu mendekat ke arah Nova dan mengacak rambut anak itu.
"Maaf ya, ayah memang bodoh. Padahal sudah benar kata Nono kemarin kita harusnya beli aja makanan tapi ayah sok-sokan malah pengen masak. Maaf ya??" Katanya beralih mengusap punggung Nafa pelan.
"Kan kan kan! Gak asik nih yang begini. Mellow mellow padahal masih pagi. Mending kalian ngobrol deh sana ngobrol" katanya meraih mangkuk plastik berisi bubur dari genggaman Dirga.
Tangannya mendorong pelan ayahnya sedang kakinya bergerak mengode agar Nova turut bangkit dan pergi mengikuti ayahnya.
"Pokoknya gak boleh masuk sebelum baikan ya!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dirgantara ✓
FanfictionDi antara luasnya langit, Dirga hanya berharap bahwa kehangatan akan selalu memeluk rumahnya.
