Special Chapter

4.9K 574 63
                                        

Jadi manusia itu sulit. Kadang suka tak sadar diri. Tau-tau tetap angkuh berjalan meski kaki terseok-seok.

Jadi manusia itu berat. Kadang ada saja hal yang membuat selalu ingin mengeluh 24 jam. Tapi tau-tau berhasil juga diselesaikan.

Jadi manusia itu banyak kurangnya. Kadang tidak sadar bahwa dirinya sudah terbawa arus kehidupan sedemikian jauhnya. Tau-tau banyak hari sudah terlewati begitu saja.

Kadang kala menjadi manusia itu memang harus selalu beradaptasi. Tak peduli baik dan buruk hal yang menimpa harus selalu tetap berdiri lagi.

Begitu banyak hal yang terjadi dalam hidup selama Dirga menjadi manusia. Susah dan senang sudah dia rasakan. Pahit manis kehidupan sudah dia cecapi rasanya berulang.

Tak banyak hal berubah dalam hidup seorang Dirgantara sejauh ini. Masih sama, memijak pada bumi yang sama dan memandang langit yang sama.

Hanya saja perubahan-perubahan itu tentu ada. Melihat setiap hal disekitarnya mulai berubah mustahil Dirga akan terus sama tanpa adaptasi juga.

Sudah satu tahun berlalu sejak dunia Dirga terasa direnggut. Semua masih terasa sama baginya. Hanya saja di satu kesempatan membuatnya sering bertanya-tanya. Kapan dunia berakhir sebenarnya??

Karena saat Dirga mengira dunia berakhir hari itu nyatanya tetap ada kehidupan esok harinya.

Dan saat tau tanyanya tak pernah menemukan jawaban pasti Dirga mulai membuka mata. Bahwa hidup akan terus berjalan meski dunia miliknya hancur berantakan.

"Ayah!"

Suara itu membuatnya menoleh cepat menemukan sulungnya tengah kerepotan membawa banyak barang.

Namun satu hal yang pasti meski banyak hal sudah berubah satu tahun ini. Dirinya masihlah seorang ayah untuk putra-putranya.

Kakinya harus selalu kokoh. Bahunya harus selalu tegap. Senyumnya harus senantiasa tersungging manis.

"Kenapa nak??" Suaranya lembut tangannya sigap membantu membawa barang putranya.

"Ayah aku buru-buru banget. Ren katanya mau jemput jadi ayah gak perlu antar aku. Kalau udah sampai sekolah aku kabarin ayah. Ini proker terakhir aku sebagai ketos. Tolong doain yah!"

Dirga mengangguk dan mengusap kepala Nova.

"Pasti bang. Doa ayah buat Abang gak pernah putus" katanya sambil menepuk punggung putranya yang kian lebar.

"Aku pulang tengah malam ya ayah. Maaf"

"Its okay bang. Hati-hati ya"

"Iya ayah. Aku sayang ayah. Bye!"

Tangannya balas melambai melihat putranya berlari kecil ke gerbang dan masuk ke mobil temannya.

"Ayah aku berangkat!!"

Dirga hanya mengangguk dan tersenyum melihat mobil itu mulai melaju dan menjauh darinya.

Menghela nafas pelan Dirga kembali masuk rumahnya.  Pandangannya meliar melihat ruang keluarga kini lebih sepi dari biasanya. Kini dindingnya tak lagi abu-abu tetapi putih terang. Dia tersenyum melihat kalender menunjukkan tanggal 12 di bulan kedelapan.

Besok ulang tahun putra bungsunya tercinta.

Dirga kemudian berjalan ke arah dapur membuka lemari es dan mengambil satu kue kecil dengan buah strawberry di atasnya. Kue yang putranya benci setengah mati.

Dia terkekeh kecil membayangkan bagaimana anak itu akan mengamuk jika tau Dirga membelikan kue coklat tapi dengan toping buah paling buruk menurutnya.

"Ayah di dunia ini siapa yang suka makan strawberry??!"

Dirgantara ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang