trust me!

549 79 44
                                        

Tubuh itu menggeliat pelan. Dahinya mengernyit tampak seperti orang kesakitan. Lambat laun mata indah itu terbuka. Namun, yang ia lihat hanyalah kegelapan. Penglihatannya ditutupi sesuatu. Sesuatu yang terasa seperti dasi yang mulai berbulu karena terlalu sering disikat pemiliknya. Ia mulai panik ketika tangan dan kakinya juga tak bisa digerakkan. Gesekan antara tali dan kulit manusia jelas terasa begitu kentara.

Ia berusaha tenang dan bernapas pelan. Namun, debaran jantungnya malah semakin menggila ditengah kegelapan yang membuat semuanya terasa mencekam, telinganya menjadi lebih peka pada sekitar.

Suara langkah kaki terdengar jelas membuatnya begitu was-was. Lalu, sentuhan sensual terasa di sekitaran lehernya. Jeritannya tertahan karena benda kenyal membungkam mulutnya begitu kasar. Matanya kembali berair. Rasa amis terasa di indra pengecapnya ketika bibir bawahnya digigit kuat. Ringisannya lagi-lagi tertahan karena cumbuan kasar itu tak kunjung selesai. Gerakan tak senonoh itu semakin liar seiring pemberontakan sia-sia yang ia lakukan.

"Sttt. Anak anjing ini kenapa nakal sekali, hm?"

Ia abaikan suara serak yang membuat tubuhnya sempat tersentak. Sebuah tangan kasar mengusap kedua matanya yang terpejam dibalik dasi sebelum kemudian berpindah untuk membersihkan benang saliva yang menggantung di dagunya.

"Puppy harus nurut sama tuannya. Mengerti?"

Ia tidak tahu sejak kapan pakaiannya terlepas namun udara dingin malah membuatnya semakin tersiksa. Lambat laun tubuhnya mulai terasa panas. Panas dalam artian lain.

"Menikmatinya, bukan? Bisa kita mulai sekarang, manis?"


























Drt drttt

Getaran ponsel di saku celana membuatnya terbangun. Kepalanya sempat terasa berputar karena langsung duduk ketika baru membuka mata. Napasnya memburu. Matanya mengedar was-was meneliti sekitar.

"Ini... kamar gue?" tanyanya pada diri sendiri.

Ia mengambil ponsel di saku celana dan mematikan alarm yang membuatnya terbangun tadi. Jam diponselnya menunjukkan pukul 04.30. Masih banyak waktu yang bisa digunakan untuk mempersiapkan diri ke sekolah.

"Syukur ternyata semuanya cuma mimpi," senyumnya terlihat begitu melegakan.

Niat hati yang ingin membersihkan diri harus diurungkan ketika melihat celana yang ia pakai adalah celana seragam sekolah.

Dahinya mengernyit heran. Kenapa ia masih memakai seragam sekolah? Dan tunggu! Kenapa celananya robek dan terdapat noda merah di sana?

Itu bukan darah, kan?

Dengan rusuh ia turun dari kasur. Namun, belum sempat kaki itu menapak pada dinginnya lantai, tubuh itu harus jatuh begitu saja karena rasa nyeri yang teramat sangat di sekitaran kaki kananya. Ringisannya kembali terdengar ketika kaki itu ia paksakan berjalan menuju cermin untuk melihat tubuhnya secara keseluruhan.

"N-nggak. Nggak mungkin!"

Tangannya gemetar meraba area leher yang terdapat banyak ruam keunguan. Bahkan ia baru tersadar bahwa perutnya terasa begitu nyeri. Dibukanya seragam sekolahnya dan terpampanglah lebam yang hampir memenuhi sekitaran perutnya.

Bagaimana bisa ia baru merasakan sakitnya sekarang?

Tunggu!

Jadi, semua itu bukan mimpi?

•ᴥ•

"Lo beneran nggak-"

"Gue oke, Rikiiiii. Lo udah nanya begitu berkali-kali."

Hiraeth | SungwonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang