Haikal

542 71 36
                                        

Riki mungkin pernah bilang, kekebalan tubuh Jean memang tak sekuat dirinya. Namun, ternyata Riki salah. Jean adalah manusia terkuat yang pernah ia lihat.

Setelah mengetahui di rumah sakit mana Jean dirawat, Riki bergegas mengganti pakaian dan memberitahukan perihal keadaan Jean pada sang ibu dan juga pada ayah tirinya. Dan seperti perkiraan Riki, ibunya panik sekali. Berbeda sekali dengan ayah tirinya yang hanya diam saja ketika berita duka itu ia sampaikan.

Bahkan saat tubuh penuh luka Jean terlihat begitu mengkhawatirkan di balik kaca pintu rumah sakit, ayah tirinya tetap tak berkutik. Hanya diam. Memandang datar pada tubuh putranya yang terlihat menyedihkan.

"Bun, bunda nginep di hotel aja, ya, sama ayah. Di sebelah rumah sakit ada hotel, Bun," jelas Riki tak akan membiarkan ibunya tidur di kursi tunggu rumah sakit.

Kondisi Jean yang 'cukup' terluka parah membuat anak itu harus dirawat intensif. Dokter belum mengizinkan siapapun masuk untuk menjenguk Jean. Membuat mereka semua mau tak mau harus tidur di tempat lain jika ingin terus memantau perkembangan Jean.

"Nanti yang jaga si bungsu siapa?" suaranya ibunya terdengar bergetar. Panggilan 'si bungsu' yang seharusnya didapatkan Jean dari dulu baru pertama kali ibunya gunakan disaat seperti ini.

"Riki yang jaga adek. Udah subuh juga. Tanggung kalo dibawa tidur."

Dan untuk pertama kalinya juga, Riki memanggil Jean sebagai mana mestinya sang kakak memanggil adiknya.

•ᴥ•

Riki benar-benar tak ingin ketinggalan informasi mengenai kondisi Jean sedikitpun. Ia memaksakan diri tetap terjaga meskipun kondisi matanya begitu berat memberontak terkesan ingin istirahat.

Jangan tanya dimana Mahesa dan Azka. Dua orang itu sudah pulang ke apartemennya masing-masing ketika tahu bahwa keluarga Jean sudah tiba. Mahesa kaget luar biasa ketika tahu bahwa Riki dan Jean sebenarnya adalah saudara.

Sedangkan Azka tidak menampilkan ekspresi kaget seperti Mahesa. Entah orang itu begitu pandai mengatur mimik muka, atau malah Azka yang memang sudah tahu semuanya?

Riki tak tahu dan tak mau mencari tahu.

Yang terpenting sekarang adalah kondisi Jean. Kondisi adiknya, kondisi si bungsu di keluarganya.

Entah berapa gelas kopi yang sudah masuk ke lambungnya, namun, mata Riki tetap memberat terasa mengantuk sekali. Dokter sudah tidak ada di dalam. Namun, Riki tetap tak dibiarkan masuk ke ruangan Jean.

Selepas kepergian orang tuanya, Riki melihat bagaimana tubuh itu mengejang di balik pintu rumah sakit. Dengan panik, ia memangil dokter. Berteriak lantang menyerukan pertolongan untuk sang adik yang terlihat begitu kesakitan. Dan sampai satu jam berlalu pun, Riki belum tahu apa yang terjadi pada Jean.

Katanya, dokter tidak ingin gegabah menyimpulkan apa yang terjadi pada adiknya itu.

Riki tahu itu hanya sekedar alibi. Pasti ibunya sudah mewanti-wanti para dokter agar ia tidak diberitahu informasi apapun mengenai si bungsu.

Apakah luka Jean separah itu?

Apakah Jean sesakit itu?

Jean akan sehat dengan cepat, bukan?

Memikirkan semua kemungkinan itu membuat Riki penat. Lambat laun, mata itu mulai tertutup.

Hiraeth | SungwonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang