Terhitung sudah 2 minggu Jean menginap di rumah sakit. Anak itu belum diizinkan pulang. Padahal Jean sudah merasa jauh lebih baik.
"Kak! Ini beneran gue dibolehin keluar sama lo?"
Sore itu, Jean diajak Azka untuk jalan-jalan keluar mencari udara segar. Benar-benar definisi 'keluar' yang sebenarnya.
Dengan memakai jaket mahal Azka untuk sedikit menutupi baju pasiennya, Jean memeluk lembut leher yang lebih tua. Azka yang menggendong Jean tidak merasa keberatan. Tubuh Jean terasa lebih ringan.
"Makan lu dikit ya?" Azka memutar kepala ke samping. Berusaha melihat Jean yang ternyata tengah menaruh kepala pada bahu kanannya.
"Makanan rumah sakit nggak enak," anak itu mengangkat wajahnya, membuat hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Kak! Riki beneran ngizinin gue main?"
"Bukan main! Tapi nyari udara seger."
Setelah membenarkan gendongan Jean, Azka segera melangkahkan kakinya meninggalkan area rumah sakit.
"Kita mau kemana, sih?" tanya Jean yang dibalas decakan sebal dari Azka.
"Ke rumah pohon gue. Nggak apa-apa 'kan kalo gue ajak lo ke sana?"
"Nggak pa-pa dong."
Azka menghentikan taksi karena tak mungkin ia pergi ke rumah pohon miliknya dengan berjalan kaki.
Jauh coyyy!
Selama di perjalanan, Jean asik sekali menanyakan banyak hal. Mulai dari mengapa baju pasien rumah sakit kebanyakan berwarna biru, mengapa taksi disebut taksi bukannya odong-odong, mengapa air mata rasanya asin seperti ingus, bahkan anak itu bertanya apakah benar ada keberadaan alien di luar sana.
Azka yang mendengar pertanyaan random itu hanya menghela napas lelah. Beda lagi dengan sang supir taksi yang malah meladeni si bocil.
"Semesta 'kan luas, mana mungkin cuma ada manusia. Iya kan?" tanya Jean sekali lagi.
"Betul, tuan. Pasti di luar sana ada kehidupan lain."
Azka menggelengkan kepala menahan pusing ketika supir taksi masih saja meladeni Jean.
"Kayak alien gitu, ya? Kira-kira, standar kecantikan mereka kayak gimana, ya?"
"Mungkin yang bisa buat piring terbang, tuan."
"Itu udah umum banget, pak. Nggak special."
"Lho? Tuan tahu darimana?"
"Nggak tahu, sih. Cuma ngarang."
"Bapak kira tuan tahu."
"Saya 'kan bukan alien. Oh iya, kalo ada zombie, bapak bakal tetap narik taksi?"
"Iya dong. Kan nanti dunia bakal kacau banget. Orang-orang pada butuh kendaraan buat lari dari zombie. Nanti bapak banyak job, banyak uang. Terus bisa bulan madu sama istri ke Jepang."
"Keren. Bapak bisa melihat situasi dengan begitu hebat. Saya yakin bapak bisa menjadi pebisnis yang sukses."
Akhirnya, obrolan random yang mengusik ketenangan itu harus terhenti ketika mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Betul di sini alamatnya, tuan?" tanya pak supir.
"Iya, pak."
"Tapi, ini hutan."
Azka tersenyum masam, "kami memang hendak pergi ke hutan, pak."
Setelah membayar, Azka segera membawa Jean ke dalam gendongannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth | Sungwon
FanfictionREBULISH - Apabila dijelaskan secara mendalam, Hiraeth dapat diterjemahkan sebagai kata yang menggabungkan rasa kerinduan, nostalgia dan rasa ingin pulang ke rumah. Namun, Hiraeth sendiri memiliki banyak makna. Salah satunya ialah perasaan rindu ter...
