Warn!
3k++ word
Awas bosen >~<
___ ⋆。˚___
Matahari baru saja menampakkan sinarnya. Begitu cerah. Begitu indah.
Sama seperti suasana hati Jean saat ini.
Anak itu tengah tiduran di kamarnya sembari menonton si kembar di laptop sang kakak. Si pemilik laptop tidak ikut menonton. Selain karena bosan dengan episode si kembar yang terus diulang-ulang, Riki juga terpaksa harus meninggalkan Jean untuk membuat sarapan.
Mereka baru saja tiba di rumah Jean setelah anak itu memaksa untuk pulang ketika hari masih gelap. Bayangkan saja, Riki harus terbangun pada pukul 4 pagi hanya untuk mencari taksi. Bodohnya lagi, ia tidak mengabari orang rumah untuk meminta jemputan. Setelah sampai di rumah Jean, barulah Riki menyadari kebodohannya itu.
Ah. Benar kata Jean. Dia memang tolol.
Saat tengah menimbang berapa banyak garam yang harus ia taburkan pada bubur Jean, Riki mendengar suara ketukan pintu dari luar. Sialan. Suara itu benar-benar mengganggu konsentrasinya dalam memasak.
"Bentar!" teriaknya meminta pengertian.
Namun, suara ketukan pintu malah semakin keras terdengar. Riki menghela napas menahan sabar. Ia melepas celemek yang melekat pada tubuhnya dan mematikan kompor guna menghampiri asal dari kebisingan yang membuat konsentrasinya buyar.
"Bisa sabar kagak- Sean?"
Menyadari bahwa orang di hadapannya ini adalah salah satu dari banyaknya orang yang harus ia jauhkan dari Jean, Riki dengan segera menutup pintu dan menyeret Sean agar sedikit menjauh dari rumah sang adik.
"Ngapain lo di sini?" tanya Riki setelah menghempas kasar tangan temannya itu.
"Rik, tolong-"
"Gue tanya, ngapain lo di sini?" tekannya sekali lagi.
"Gue, gue," Sean gugup menjawab.
Sean adalah anak pemberi. Sejak kecil Sean selalu diajarkan oleh kakaknya agar tidak tunduk kepada siapapun. Sang ayah pun mengajari hal yang sama. Ibunya juga berpesan padanya agar Sean tumbuh menjadi anak yang tak memiliki rasa takut pada manusia manapun.
Intinya, Sean dibesarkan di keluarga yang tak ingin terlihat lemah. Apalagi sampai harus didominasi oleh orang lain.
Dan untuk pertama kalinya selama hidup di dunia, Sean dapat merasakan ketakutan hanya karena ditatap oleh Riki.
Tidak! Tatapan itu bukan tatapan mengintimidasi yang biasa ia lihat. Tatapan itu berbeda. Sarat akan rasa kecewa yang membuat Sean merasa begitu tersiksa.
"Rik. Tolong! Gue cuma pengen ketemu Jean," ucapnya memelas.
Riki berdecih. Ia bahkan sampai meludah ke samping. Respon yang diberikan Riki membuat Sean semakin merasa nyeri.
"Udah cukup selama ini gue bodoh karena ngebiarin Jean deket-deket sama lo! Sama biang masalah yang bikin adek gue hampir kehilangan kewarasannya."
Sean mengerut tak paham, "maksudnya?"
Riki terkekeh sinis. Ia merasa lucu melihat tampang bodoh yang Sean perlihatkan kali ini.
"Lo tentu tahu segimana berusahanya gue buat ngebahagian Jean," Riki berjalan pelan memutari tubuh Sean yang membeku di tempat.
"Lo tahu? Kehancuran Jean adalah kehancuran gue juga," Riki berhenti tepat di hadapan Sean.
Sean menunduk. Enggan berkontak mata dengan Riki.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth | Sungwon
Fiksi PenggemarREBULISH - Apabila dijelaskan secara mendalam, Hiraeth dapat diterjemahkan sebagai kata yang menggabungkan rasa kerinduan, nostalgia dan rasa ingin pulang ke rumah. Namun, Hiraeth sendiri memiliki banyak makna. Salah satunya ialah perasaan rindu ter...
