Beruntungnya, Hiro dan Elang masih berstatus sebagai saksi. Tak seperti Reyhan yang memiliki status sebagai tersangka. Jadi, Hiro masih bisa berpergian kemanapun sesuka hatinya.
Hari ini, tepatnya pada pukul 7 malam nanti sebenarnya Hiro harus pergi menemui calon pengacaranya untuk menceritakan kesaksiannya atas kasus yang menimpa Jean. Tapi, ketika mendapat kabar bahwa Tim SAR telah menemukan Riki, Hiro segera mendekat ke lokasi. Tak peduli meski ia belum mandi, tak peduli meski perutnya belum terisi, Hiro benar-benar tak memperdulikan apapun selain ingin cepat melihat Riki. Mengabaikan fakta bahwa bumi telah berganti malam, kendaraan roda dua yang Hiro tunggangi bergerak begitu cepat menembus jalan. Lagi-lagi hanya karena satu alasan.
Hiro ingin cepat bertemu Riki.
Meski kecil-----meski sangat kecil kesempatan untuk Riki dapat ditemukan dalam keadaan bernyawa, tapi tak ada salahnya dengan berharap, bukan?
Riki itu preman. Anak itu tengil dan kuat. Tak mungkin 'kan jika Riki pergi secepat ini?
Tapi, pikiran positifnya harus terbantahkan ketika ia telah sampai di lokasi tujuan.
Di sana, di depan matanya, Hiro mendengar tangis kesedihan dari orang yang berbeda-beda. Ada Mahesa, ada Azka. Dua manusia yang Hiro kenali sebagai kakak kelas sekaligus teman Riki itu terlihat sedih sekali. Azka bahkan sampai merosot jatuh ke tanah, memukul kepala dan tanah yang ia pijaki sebagai upaya pelampiasan sedihnya. Sedangkan Mahesa dengan sigap membawa Azka kedalam pelukan. Mengusap punggung dan membenarkan rambut Azka yang kacau berantakan.
Tak ingin banyak bertanya, Hiro segera mendekati ambulan. Ketika pintu ambulan dibuka, di sana terdapat Satya yang terlihat lebih kacau daripada Azka. Dan Hiro dapat melihat dengan jelas mayat manusia yang tengah ada dalam pelukan Satya.
Kaki tanpa alas itu terus berjalan tanpa memperdulikan panasnya aspal di siang hari. Tangannya dengan cekatan mengambil botol minuman yang berceceran di jalan.
"Bagas! Iki nemu sendal!"
Seruan itu membuatnya berpaling. Ia berbalik untuk memberikan perhatiannya pada seseorang yang memanggil namanya.
"Wah! Iki Nemu sendal di mana?" tanyanya sembari menghampiri.
"Di sana, hehe. Padahal sendalnya masih bisa dipakek, kenapa dibuang, ya?"
Bagas tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Orang kaya emang suka gitu. Bukan cuma tentang barang, mereka juga suka membuang sesuatu yang tak mereka sukai. Nanti kalo Iki udah gede, udah sukses, jangan suka buang-buang begini, ya?"
"Siap, Bagas! Ini buat Bagas!"
Sosok itu, Riki, memberikan sendal yang ditemukannya kepada Bagas.
"Kan Iki yang nemu, Iki yang pakek aja."
"Iki udah punya sendal, Bagas belum. Buat Bagas aja."
Jawaban itu membuat senyum Bagas mengemban sempurna.
"Makasih. Makasih banyak adeknya Abang."
"Nggak mau panggil Abang!"
Bagas tertawa terbahak-bahak.
Selalu begitu. Meski tahu jika Bagas lebih tua beberapa bulan, tapi Riki tak pernah mau memanggilnya dengan sebutan 'abang', pun Riki tak pernah mau dipanggil 'adek'. Bagas sih tak masalah dengan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth | Sungwon
FanfictionREBULISH - Apabila dijelaskan secara mendalam, Hiraeth dapat diterjemahkan sebagai kata yang menggabungkan rasa kerinduan, nostalgia dan rasa ingin pulang ke rumah. Namun, Hiraeth sendiri memiliki banyak makna. Salah satunya ialah perasaan rindu ter...
