"Jean! Jean mana, bun?"
Tanpa mengetuk pintu, Riki menerobos masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga, Riki hanya menjumpai ibunya yang menangis dan tengah ditenangkan oleh ayah tirinya.
"Bunda kenapa?"
Dengan telapak kaki yang meninggalkan jejak di lantai, Riki mendekati keduanya. Berharap dengan hadirnya ia bisa membantu menghentikan tangis ibunya.
"Nak..."
Suara ibunya terdengar begitu sedih. Riki tidak tahu apa yang membuat sang ibu sampai seperti ini.
Oh! Tunggu! Apa jangan-jangan Jean mengadu pada sang ibu?
Mengadukan ia yang telah menyakiti Jean, menyakiti saudara tirinya?
"Apapun yang dikatakan kakakmu, jangan kau dengarkan. Itu semua tidak benar."
Riki yang tidak paham sontak melirik ayah tirinya. Sang ayah hanya menggeleng, membuat Riki bertambah muak dengan semuanya.
"Apa yang sebenarnya belum Riki ketahui, bun?"
Riki melihat ibunya menarik napas sebentar. Tangan gemetar itu dibawa untuk menggenggam tangannya yang mengepal sejak ia sadar bahwa Jean tak ada di sini.
"Bunda yang menyakiti saudaramu. Bukan sebaliknya. Anak itu hanya melakukan hal yang sewajarnya anak lain lakukan pada orang lain."
"Tapi bunda bukan orang lain! Saat bunda menikah dengan ayahnya, saat itu pula bunda telah menjadi orang tua untuknya!" sentak Riki tanpa sadar.
"Tidak, nak. Bukan seperti itu, sayang. Dia berhak menolak. Bunda memang menjadi istri ayahnya, tapi bukan berarti bunda bisa langsung menjadi ibu untuknya. Karena bahkan sampai sekarang, bunda masih belum menunjukkan apapun yang membuat bunda terlihat pantas menjadi ibu untuknya."
Penjelasan ibunya berputar-putar. Riki tidak suka.
"Nak, saudara tirimu itu sudah terlalu lama sendiri. Ia sudah mendapat banyak luka bahkan sebelum bunda hadir menjadi bagian dari luka-lukanya. Jika kamu ingin tahu, bunda selalu merasa berdosa karena bahagia diatas penderitaannya."
"Bun, tolong. Bisa kita langsung ke intinya saja?" pinta Riki kepada ibunya.
"Jean, anak itu, tidak pernah mendapat cinta sejak bunda hadir dan merusak semuanya. Bunda patut dibenci olehnya, tapi dia tak pantas mendapat kebencian dari anak-anak bunda."
"Riki, anakku, kakakmu melakukan kesalahan besar, nak. Semua hal yang ia ceritakan tentang Jean adalah kebohongan. Dia-"
Riki melihat dengan jelas bagaimana sesaknya sang ibu ketika bicara. Tiap kata yang ibunya ucapkan begitu sarat akan rasa sesal.
"Riki, bunda mohon padamu dengan sangat. Hentikan kakakmu sebelum dia membuat Jean terluka lebih banyak."
•ᴥ•
Entah sudah berapa lama tubuhnya berjalan di bawah guyuran air hujan. Setelah pulang dari rumah ayahnya, ia tidak punya tujuan. Tidak ingin pulang namun tak punya satupun tempat yang akan dituju. Jean seprustasi itu.
Penjelasan ibu tirinya masih terngiang di kepala. Jika benar Satya menyakitinya hanya karena salah paham, bisakah ia menjelaskan pada Satya dan membuat semuanya menjadi lebih baik dari sebelumnya?
"Jean?"
"Om Rey,"
Entah mengapa, disaat sendirinya, Jean selalu dipertemukan dengan Reyhan.
Jean hanya diam saja dan membiarkan tubuhnya dibawa oleh yang lebih tua ke dalam mobil. Jean tahu itu mobil Reyhan. Ia kira Reyhan akan membantunya. Tetapi ternyata, ia salah.
Pintu mobilnya dikunci, Jean tak bisa berbuat banyak selain berusaha mempertahankan diri. Ia tak cukup memliki tenaga untuk melawan Reyhan.
"Kamu tahu, Jean? Saya sudah cukup muak membiarkan orang lain memilikimu. Saya biarkan kamu bebas berkencan dengan siapapun yang kamu mau. Saya hiraukan hati saya yang hancur demi melihat kebahagiaan kamu. Tapi mengapa? Mengapa kamu membiarkan orang lain menyentuh tubuhmu?"
Jean merasa kepalanya berputar karena kencangnya tamparan yang dilayangkan Reyhan pada kedua pipinya.
"Enggak, om! Jangan!" panik Jean ketika bawahannya diturunkan secara paksa.
Jean berteriak sekencang mungkin. Meminta tolong dengan harapan seseorang dapat mendengar jeritan pilunya.
"Tidak ada siapapun di sini. Kita bisa melakukannya sampai pagi."
Reyhan mulai melepas helai demi helai pakaian basah yang melekat pada tubuh Jean. Membayangkan bahwa ia akan bercinta di tengah hujan cukup mengundang birahinya.
Reyhan sempat terpaku sebentar pada luka-luka di seluruh tubuh Jean. Sebelum kemudian ia tertawa senang karena merasa Jean terlihat lebih seksi dengan luka-luka tersebut.
"Jika saya tidak bisa memiliki hatimu, biarkan saya memiliki tubuhmu walau hanya malam ini."
Dan malam itu, Jean kehilangan satu-satunya harta berharga yang ada pada dirinya.
•ᴥ•
Disaat orang-orang tertidur lelap di atas kasurnya, Jean sendiri tengah berjalan dengan tatapan kosongnya. Hujan sudah tidak sederas tadi namun rasa dinginnya tetap menembus ke dalam diri.
Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kali untuknya, namun Reyhan melakukannya secara kasar. Membuat tubuhnya terasa remuk karena bahkan mereka melakukannya di tempat yang tidak nyaman.
Setelah melakukannya, Reyhan meninggalkannya begitu saja di pinggir jalan. Melempar tubuh dan pakaiannya begitu saja setelah permainan kasar yang dilakukan berjam-jam lamanya.
Jean tidak tahu kesalahan apa yang pernah ia buat di masa lalu hingga di masa kini cobaan berat datang padanya silih berganti.
Jean kehilangan keluarga, kehilangan teman yang paling dipercayanya, bahkan sekarang ia juga harus kehilangan harga dirinya.
Sekarang, Jean tidak punya alasan apapun lagi untuk membuat dirinya bertahan di dunia yang jahat ini.
Reyhan bilang, Reyhan adalah salah satu orang baik yang akan selalu berbuat baik pada Jean meski dunia dan segala isinya penuh kejahatan. Tapi pada kenyatannya, Reyhan bukan bagian dari orang baik itu.
Jean sudah tidak tahu lagi apakah ia masih bisa menaruh rasa percaya.
Ibunya, ayahnya, Satya, Riki, Sean, Hiro, lalu Reyhan. Setelah ini, siapa lagi yang akan meninggalkan dan mengkhianati Jean?
"Jean."
Jean hapal sekali siapa pemilik suara itu.
Setelah semua kemalangan yang terjadi, mengapa semesta tidak memberi sedikit jeda untuk Jean? Setidaknya, jeda untuk Jean dapat bernapas dengan tenang.
"Jean."
Sosok itu mendekat. Kilatan matanya terlihat penuh ambisi. Jean takut sekali melihatnya. Jean mungkin lelah dengan hidup, namun ia tak ingin mati dengan cara yang tidak baik. Jadi, meskipun raganya nyaris sekarat karena kelelahan, Jean akan berusaha menyelamatkan dirinya dari kematian.
"JANGAN LARI KAMU!"
Setiap pijakan kaki yang menapak tanah, batinnya berdoa agar ia bisa selamat dari malaikat maut yang menjelma menjadi manusia.
~•♡•~
Sengaja aku gantung biar emosi kalian semakin meluap-luap, HAHAHAHAH /ketawa jahat
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth | Sungwon
Hayran KurguREBULISH - Apabila dijelaskan secara mendalam, Hiraeth dapat diterjemahkan sebagai kata yang menggabungkan rasa kerinduan, nostalgia dan rasa ingin pulang ke rumah. Namun, Hiraeth sendiri memiliki banyak makna. Salah satunya ialah perasaan rindu ter...
