"Nggak mau tahu! Jasuke atau gue nggak makan sama sekali!"
"Jeandra, astaga!"
Pagi ini Riki dibuat gemas dengan tingkah adiknya yang tiba-tiba meminta jasuke. Anak itu menolak makanan rumah sakit bahkan roti isi selai stroberi yang sengaja Riki beli.
Astaga. Ini masih jam 8 pagi dan Jean sudah serewel ini hanya karena sebuah sarapan?
"Kenapa tiba-tiba minta jasuke?"
Riki bertanya dengan nada selembut mungkin. Selain rewel, Jean yang sedang sakit itu akan sedikit sensitif. Macam kuceng bunting 😏
"Tadi liat ada anak kecil bawa jasuke." Jean menjawab dengan nada sedih yang dibuat-buat.
Riki heran mendengarnya. Selama seminggu di rumah sakit, Jean belum pernah keluar dari ruangannya. Anak itu bahkan tidak diizinkan jalan-jalan walau hanya ke taman rumah sakit. Dokter masih belum mengizinkan Jean jauh dari pengawasan. Padahal alat bantu pernapasan dan infus anak itu sudah dilepas kemarin malam. Bahkan perban yang melilit kepala anak itu sudah berganti dengan plester tebal yang kini tertutup oleh poni panjangnya. Ya, Jean mungkin terlihat baik-baik saja, tapi anak itu belum diizinkan pulang. Agak sedikit lebay namun memang begitu kenyataannya.
Yang jadi pertanyaan Riki sekarang adalah... dimana Jean melihat anak kecil yang membawa jasuke? Sedangkan setahu Riki, tak ada siapapun yang menjaga atau bahkan menjenguk Jean selain Mahesa, Azka, dirinya dan juga ayah ibunya.
Apa jangan-jangan anak itu bermimpi?
"Tadi nggak sengaja liat di kaca. Kan lo tahu sendiri pemandangan di kaca sini langsung ngarah ke taman rumah sakit. Gue lihat anak kecil yang bawa jasuke dari sini," seakan paham kebingungan kakaknya, Jean menjelaskan sembari menunjuk kaca yang memang sedang terbuka gordennya.
Riki sebenarnya merasa kasihan pada Jean. Anak itu 'kan gampang bosan, tapi malah dipaksa diem terus di ruang rawatnya. Nggak ada hp, nggak ada game, nggak ada aktivitas berarti lainnya.
"Lo tunggu sebentar!" perintah Riki pada Jean.
Setelah melihat Jean mengangguk, Riki segera pergi keluar dengan tergesa-gesa.
"Orang aneh," gerutu Jean melihat tingkah aneh kakaknya.
Tak lama, pintu kembali terbuka dengan sosok Riki yang membawa kursi roda.
"Mau jalan-jalan nggak?" tanya Riki begitu sampai di hadapan adiknya.
"Emang boleh?"
Jean tentu saja ragu dengan ajakan Riki. Riki itu paling protektif padanya. Jean bingung, kenapa tiba-tiba ia diajak jalan-jalan padahal kemarin-kemarin Riki adalah orang yang keras banget ngasih larangan.
"Gue udah izin sama dokter. Dibolehin kok. Asal jangan lama-lama aja. Matahari pagi juga bagus buat lo," Riki mengangkat Jean sepelan mungkin dan mendudukkan anak itu di kursi roda. Sebelah kaki anak itu masih sulit di gerakkan. Patah tulang ringan namun tetap saja menyulitkan Jean.
"Harus pakek kursi roda, ya?"
Baru saja keluar dari pintu, anak itu sudah mulai mengode yang aneh-aneh.
"Harus, Je!" Riki tetap mendorong pelan kursi roda Jean.
"Gue 'kan nggak lumpuh. Kenapa lo sama yang lain bersikap seakan gue lagi sakit parah?"
Riki menghentikan kursi roda Jean. Mereka saat ini sedang ada di lobi rumah sakit. Mungkin karena masih pagi, rumah sakit jadi tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa suster yang terlihat hilir mudik.
"Kenapa berhenti?" Jean berusaha menengok ke belakang, memastikan apa yang membuat Riki menghentikan dorongan.
Riki yang ditatap Jean hanya mampu menghela napas menahan emosi. Maka dengan pelan ia beralih ke hadapan Jean, mensejajarkan tubuhnya dengan Jean yang entah mengapa terlihat lucu dengan baju khas rumah sakit yang terlihat kebesaran di tubuh anak itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth | Sungwon
FanfictionREBULISH - Apabila dijelaskan secara mendalam, Hiraeth dapat diterjemahkan sebagai kata yang menggabungkan rasa kerinduan, nostalgia dan rasa ingin pulang ke rumah. Namun, Hiraeth sendiri memiliki banyak makna. Salah satunya ialah perasaan rindu ter...
