"Yang aku lakukan
bukan tanpa alasan"
___ ⋆。˚___
Flashback on
Saat itu, usia Satya baru 5 tahun ketika sang ibu mengalami kecelakaan tunggal yang berujung pada kematian. Ayahnya yang gila kerja semakin abai pada kehadirannya. Berharap dengan kesibukan yang dilakukan membuat si kepala keluarga bisa melupakan sosok istri yang telah meninggal.
Sampai suatu hari, ia mendapat kabar bahwa anaknya menjadi korban tabrak lari.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ia gagal menjadi sosok ayah yang baik untuk buah hatinya.
Beruntungnya, Tuhan masih memberinya kesempatan. Anak semata wayangnya, yang menjadi satu-satunya harta berharga yang ia punya, masih bertahan menemaninya di dunia.
Demi penebusan dosa, ia rela membagi cinta, menikahi ibunya Riki yang berstatus janda pada saat itu, dengan harapan agar sang putra bisa mendapat kasih sayang seorang ibu yang telah lama tak dirasakannya.
Pernikahan tanpa cinta itu berjalan begitu bahagia. Anak kandungnya bahagia, begitu pula dengan anak tirinya. Semua terasa begitu indah pada saat itu. Namun, baru beberapa tahun membina rumah tangga, ia harus meregang nyawa karena penyakit jantung bawaannya. Meninggalkan istri beserta kedua putranya tanpa ucapan perpisahan sama sekali. Semua bersedih, terutama Satya yang lagi-lagi kehilangan sosok orang tua.
Anak itu begitu depresi. Nyaris setiap hari ibu tirinya menemukan Satya melakukan percobaan bunuh diri. Mulai dari merecoki diri dengan sabun cuci piring, menyayat pergelangan tangan, menceburkan diri ke kolam dan membiarkan dirinya tenggelam. Bahkan anak itu beberapa kali mencoba mencekik lehernya sendiri, meninggalkan bekas cekikan yang terlihat menyakitkan.
Satya benar-benar se-depresi itu ditinggalkan orang terkasih.
Melihat sang kakak yang begitu hancur membuat jiwa Riki sebagai seorang adik ikut merasakan kesakitan yang sama. Meski mereka tidak lahir dari rahim yang sama, tapi, Riki begitu menyayangi Satya. Terlepas dengan ikatan pernikahan antara ibu dan ayahnya Satya, ia akan tetap menjadikan Satya kakaknya.
Beruntungnya, lambat laun Satya mulai menerima takdirnya. Sosok manusia tangguh dapat Riki lihat lagi dalam diri sang kakak. Sang ibu yang melihat perkembangan Satya ikut merasa bahagia. Namun, ditengah kebahagiaan itu, kesulitan ekonomi mulai mengguncang kehidupan mereka.
Sebagai single parent, tentu saja membuat perempuan dengan dua anak itu merasa sangat kesulitan. Apalagi, harta yang ditinggalkan ayahnya suaminya tidak begitu banyak (untuknya). Uang asuransi memang sudah cair. Namun, wanita itu selalu merasa tidak pantas menggunakan uang yang sejatinya adalah milik Satya seorang. Perempuan itu merasa bahwa dirinya dan Riki tidak pantas menerima harta yang bukan miliknya. Karena faktanya, semua aset yang ditinggalkan suaminya ternyata atas nama Satya. Ia memang menerima warisan, namun bagian terbesar dari warisan itu tentu saja didapat oleh Satya, oleh orang yang sangat berhak mendapatkannya.
Hari ke hari, ia itu mulai merasa kesulitan. Kesulitan itu membuatnya kalap dan berakhir menggoda seorang pria kaya yang sudah berumah tangga. Semua cara telah dilakukan agar pria kaya tersebut bisa jatuh pada pangkuannya. Dan ya. Dia berhasil.
Istri dari pria kaya tersebut mengetahui perbuatan busuk suaminya. Dan persis seperti rencana yang sudah disusun matang-matang, mereka bertengkar hebat. Hari ke hari, Minggu ke Minggu, bulan ke bulan, pertengkaran suami istri itu tak menemui titik terang. Semua berakhir ketika sang istri memilih pergi dengan meninggalkan surat cerai di kamar.
Tentu saja perempuan itu merasa senang karena ia menang.
Mulanya, yang perempuan itu pikirkan hanyalah uang, uang dan uang. Niat awal mendekati pria itu juga karena uang. Uang yang akan menghidupi dirinya dan kedua anaknya. Tak peduli dengan kotornya cara yang ia lakukan, atau rasa empati terhadap perempuan lain yang harus menanggung derita dari perselingkuhan. Ia benar-benar tak perduli. Apapun akan ia lakukan demi kehidupan Riki dan Satya.
Sampai suatu hari, ia harus menanggung derita dari apa yang diperbuatnya. Rasa sesal tak berujung yang membuat hatinya sekarat.
Rupanya, pria kaya yang ia goda memiliki seorang putra. Anak kecil yang tidak seharusnya menanggung beban dari dosa besar yang dilakukannya.
Jean namanya. Seorang anak yang tak bisa menerima kehadirannya. Tatapan benci selalu ia dapatkan ketika mencoba mendekati Jean. Tatapan benci yang menyimpan luka yang tak bisa ia ukur seberapa sakitnya.
Hidupnya bertambah runyam ketika Satya tahu bahwa ia telah menikah lagi. Anak itu lebih memilih pergi dan hidup sendiri. Satya berkata bahwa ia sudah tak layak berada di dalam keluarga ini. Hancur sudah hatinya sebagai seorang ibu. Bagaimanapun juga, ia menyayangi Satya seperti ia menyayangi Riki. Namun, ia tak bisa memaksa keputusan Satya. Masih untung Satya masih mau menerima uang bulanan yang akan selalu ia kirimkan. Jadi, anak itu tak perlu repot-repot bekerja dan hanya fokus sekolah saja. Walau pada kenyatannya Satya mendapat uang asuransi dari mantan suaminya untuk biaya sekolah sampai anak itu lulus SMA, tapi ia tak akan lepas tangan pada Satya. Biaya hidupnya, biaya sekolah dan biaya-biaya lainnya, ia akan selalu mengusahakannya untuk Satya.
Meski begitu, rasa sesalnya semakin menggerogoti ketika Jean tak pernah sudi tinggal satu rumah dengannya. Anak sekecil itu malah memilih hidup sendiri di sebuah rumah yang menjadi saksi bisu atas keegoisan orang dewasa. Hatinya bertambah hancur ketika tahu bahwa Jean tak pernah mendapat perlakuan baik dari suaminya, dari ayah kandung anak itu sendiri.
Suatu pagi, ketika suaminya bekerja dan anaknya pergi sekolah, ia meluapkan semua. Tangisnya meraung begitu kencang meneriaki nama Jean yang selalu membuatnya merasa sesal. Tanpa ia sadari, sosok Satya ternyata ada di luar tengah mendengar dengar jelas tangisan malaikatnya yang begitu menyakitkan.
Hari itu, kesalahpahaman terjadi dan membuat semuanya begitu berantakan.
Satya begitu mencintai ibunya. Terlepas dari tidak adanya ikatan darah dalam diri mereka berdua, ibunya Riki adalah ibunya juga. Maka, tak akan pernah ia biarkan seseorang yang telah menyakiti ibunya hidup dengan tenang.
Luka harus dibayar luka.
Sejak saat itu, Satya hanya hidup dengan prinsip dendam yang akan ia balas pada Jean, pada manusia malang yang menjadi korban atas kebodohan manusia lainnya.
Dengan informasi terbatas yang dimilikinya, ia mencoba mencuci otak adik tirinya, Riki. Melebih-lebihkan cerita bahwa si Jean-Jean itu adalah anak nakal yang telah menyakiti ibu mereka.
Riki yang tahu betapa besarnya rasa sayang sang kakak pada ibunya pun merasakan kekesalan yang sama. Ia pun ikut andil bermain peran dan membalas dendam atas kesakitan ibunya.
Dari seragam merah putih tinggal berganti menjadi biru putih, Satya terus mencari informasi tentang Jean. Dan ia mendapatkan fakta bahwa kekasihnya, Sean, adalah teman dari si brengsek Jean. Sama seperti apa yang ia lakukan pada Riki, ia pun melakukan hal yang sama pada Sean. Yakni, mencuci otaknya. Mempengaruhi kekasihnya bahwa temannya itu adalah manusia sampah yang telah menyakiti malaikatnya.
Flashback end.
Kalian pernah denger nggak, kalau ada manusia yang rela jadi penjahat demi orang yang mereka cinta?
Jadi, kalau kalian liat dari sudut pandang Satya yang ngira kalau Jean udah nyakitin ibunya, menurut kalian, apa yang dilakukan Satya sama Jean itu udah bener atau enggak?
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth | Sungwon
Fiksi PenggemarREBULISH - Apabila dijelaskan secara mendalam, Hiraeth dapat diterjemahkan sebagai kata yang menggabungkan rasa kerinduan, nostalgia dan rasa ingin pulang ke rumah. Namun, Hiraeth sendiri memiliki banyak makna. Salah satunya ialah perasaan rindu ter...
