warn!
5k wors
terdapat adegan dewasa yang tidak baik dibaca oleh anak dibawah umur. harap menjadi pembaca yang bijak!
___ ⋆。˚___
Bau obat-obatan terasa begitu menyengat. Mata yang terasa berat itu terus ia buka dengan paksa. Ringisannya terdengar begitu lirih ketika merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
"Sean? Sean? Lo bangun, Sean?"
Pertanyaan bodoh itu ia dapatkan ketika matanya terbuka dengan sempurna.
"Panggil dokter, tolol!" ucap Sean pelan yang untungnya masih bisa didengar.
"Oh, Iya. Dokter." sosok itu pergi keluar begitu saja. Meninggalkan Sean yang terdiam lemas melihat aksi bodohnya.
Sean mencoba bangun dari tidurnya, tapi tubuhnya terasa begitu lemas. Ia tak kuat. Alhasil, ia kembali merebahkan tubuhnya di atas bangsal. Matanya sesekali terpejam begitu merasakan pening yang mendera. Sean menggelengkan kepala guna mengusir rasa pening itu. Ketika kepalanya terasa tidak sepening tadi, ia mengangkat kepalanya untuk meneliti bagian tubuhnya.
Sial. Ia tidak suka ketika perban putih itu tersebar di beberapa bagian tubuh yang selalu ia jaga. Yakni di paha, betis dan telapak tangannya. Belum lagi lebam yang menutupi bagian kulit putihnya yang lain. Sean juga merasa sesuatu mengganjal lehernya.
Mata Sean mengedar mengamati sekitar. Tatapannya jatuh pada jam dinding dengan jarum pendek yang mengarah pada angka 4.
Tak lama kemudian, pintu terbuka dengan kembalinya sosok itu bersama dokter di belakangnya.
"Anda keluarga pasien?" tanya dokter ketika selesai memeriksa Sean.
"Saya? Bukan!" ia menggeleng setelah menunjuk dirinya sendiri.
"Ya sudah. Jika keluarga pasien sudah datang, dimohon untuk langsung ke ruangan saya."
"Apa pasien mendapat luka serius, dok?"
"Tidak ada luka serius. Luka di telapak tangan pasien memang cukup mengkhawatirkan. Tapi, kami sudah menanganinya dengan baik. Batu yang menempel di tubuh pasien juga sudah berhasil kami keluarkan. Semuanya aman-aman saja sejauh ini. Kami akan melakukan pemeriksaan menyeluruh esok hari untuk mengetahui lebih jauh terkait kondisi pasien. Untuk sekarang, biarkan pasien beristirahat dengan tenang. Jika anda membutuhkan bantuan, cukup tekan tombol merah di sebelah sana. Tidak perlu sampai berlari apalagi berteriak keras seperti tadi."
Sosok itu, Azka, hanya tertawa kecil ketika merasa disindir.
"Iya. Terimakasih, dok."
Dokter pergi setelahnya, membuat atmosfer canggung yang sedari tadi berusaha Azka cairkan pun kembali terasa.
"Gue tahu lo nggak tidur." Azka memecah keheningan diantara keduanya.
Sean langsung membuka matanya ketika Azka menyadari kepura-puraan nya.
"Gue nggak mau basa basi. Nggak peduli juga sama kondisi lo saat ini. Gue cuma mau tanya, di mana Jean?"
Azka melihat tubuh itu menegang. Katakanlah ia kejam karena tak membiarkan Sean beristirahat setelah bangun dari pingsannya.
"Riki mana?" bukannya menjawab, Sean malah balik bertanya.
"Riki lagi nyari Jean. Lo tahu sendiri kalo si Riki anaknya bebal, eh? Lo belum jawab pertanyaan gue ya, anjir!"
"Hiro."
"Hah?"
Azka membantu Sean bangun dari tidurnya. Ia bahkan memberikan bantal di punggung Sean agar anak itu bisa duduk bersandar dengan nyaman. Ia hanya ingin mendengar cerita Sean. Karena firasatnya mengatakan bahwa bocil kesayangannya tengah dalam bahaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth | Sungwon
ФанфикшнREBULISH - Apabila dijelaskan secara mendalam, Hiraeth dapat diterjemahkan sebagai kata yang menggabungkan rasa kerinduan, nostalgia dan rasa ingin pulang ke rumah. Namun, Hiraeth sendiri memiliki banyak makna. Salah satunya ialah perasaan rindu ter...
