"Bentar, Rik! Bentar! Napas dulu gue," Sean menunduk, menarik napas panjang ketika dirasa penat mulai menyerang.
Riki menghentikan langkah kakinya ketika Sean tertinggal jauh di belakang. Kakak Jean itu melihat ke sekeliling, mencari teman-temannya yang lain.
"Bang Sat sama yang lain mana?" tanyanya menghampiri Sean.
Sean menggeleng. Sean pun tak tahu di mana keberadaan yang lain.
"Rik. Kita kepisah?" tanya sean risau.
"Sial."
Sean yang sudah lemas semakin terlihat lemas mengetahui fakta itu.
Satya adalah satu-satunya orang yang mengetahui di mana tempat persembunyian Reyhan. Jika mereka berpisah dengan Satya, bagaimana mereka bisa tahu di mana tempat persembunyian itu?
"REYHAN BANGSAD!"
Sean terperanjat mendengar teriakan Riki. Anak itu semakin dibuat kaget ketika Riki secara tiba-tiba memukul pohon yang ada di dekatnya. Tangan lelaki itu berdarah-darah. Sean yakin sekali jika Riki mengerahkan seluruh tenaga yang dimiliki untuk menyalurkan emosi yang meletup-letup dalam dirinya.
"Rik! Tenang!" Sean bangkit menghampiri, memegang pundak Riki sebagai upaya menghentikan aksi brutal yang dilakukan kakak Jean itu.
"GUE BILANG TENANG, YA, TENANG ANJING!"
"GIMANA GUE BISA TENANG, BANGSAD? GUE BUKAN LO YANG MASIH BISA TENANG KETIKA TAHU JEAN ADA DITANGAN ORANG YANG KURANG WARAS!"
Sean membeku di tempat ketika Riki membentaknya begitu hebat. Sesuatu dalam hatinya menjerit ngilu. Tanpa Riki ketahui, mata rubah yang selalu tersenyum itu terlihat berkaca-kaca. Sebelum menyadari air matanya jatuh sempurna, Sean memeluk tubuh Riki dengan lembut. Memberikan usapan pada tubuh yang lebih tinggi darinya itu sembari membisikkan kata-kata penenang.
"Kita bakal nemuin Jean. Kita bisa, Rik. Kita bisa. Tolong jangan pesimis dan jangan nyakitin diri Lo lebih jauh lagi. Jean bakal marah kalo liat Lo sekacau ini karena dia," suara Sean bergetar hebat.
"Adek gue, Sean. Adek gue..."
"Adek Lo baik-baik aja. Temen gue bakal baik-baik aja. Semuanya bakal baik-baik aja. Percaya sama gue, Rik! Kita bisa bawa Jean dalam keadaan utuh."
Tidak ada balasan apapun dari Riki. Pemuda itu hanya memejamkan matanya sembari berdoa di dalam hati.
Riki sadar jika dia hanyalah seorang pendosa. Tapi kali ini, dengan tidak tahu dirinya Riki meminta pada semesta. Meminta tolong agar semuanya menjadi baik-baik saja.
Jean tidak sekuat itu. Adikku hanya manusia biasa. Jangan buat ia semakin menderita. Jika ini adalah penebusan dosa yang harus adikku tanggung karena masa lalu orang tua, limpahkan semuanya padaku, ya Tuhan. Aku rela. Tolong... tolong kembalikan Jean.
Tolong kembalikan kehidupan adikku yang malang.
•ᴥ•
Kelopak mata itu terbuka dengan pelan. Dalam diam, Reyhan memuji bagaimana ribuan bintang seperti terlihat dalam mata Jean.
"Selamat malam, sayang," ucapnya sembari mengusap pelan kepala Jean yang lagi-lagi berbalut perban.
"Jean! Kamu belum menjawab ucapan selamat malam dari saya!" kesal Reyhan karena Jean hanya diam, tak mengeluarkan suara apapun dan tak bergerak barang seincipun.
"Jean, saya sudah lelah mengatakan ini padamu. Tolong jangan membuat saya marah! Hanya membalas sapaan saya saja kamu tak bisa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth | Sungwon
FanficREBULISH - Apabila dijelaskan secara mendalam, Hiraeth dapat diterjemahkan sebagai kata yang menggabungkan rasa kerinduan, nostalgia dan rasa ingin pulang ke rumah. Namun, Hiraeth sendiri memiliki banyak makna. Salah satunya ialah perasaan rindu ter...
