Bintang

597 69 25
                                        

Hari sudah berganti namun Satya tak kunjung mendapatkan informasi tentang Riki. Semua orang memang masih dalam masa pemulihan tetapi, Riki bahkan belum juga ditemukan. Azka bilang jika Satya ditemukan pingsan dengan keadaaan perut kosong dan dalam keadaan dehidrasi parah. Satya merasa malu ketika tahu jika kehadirannya tidak membantu.

Tidak Jean, tidak pula Riki. Satya bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri.

Reyhan sudah diurus pihak kepolisian. Begitupun dengan Hiro dan Elang yang mengakui perbuatan mereka yang pernah melukai Jean.

Lagi-lagi, Satya merasa malu.
Ia juga bagian dari luka yang dialami Jean tetapi, Satya masih tak berani mengaku.

"Abang?"

Suara lembut itu mengusik lamunan Satya.

"Iya, Bun?"

Satya melihat sang bunda mendekat. Senyum kecil Satya berikan kepada sang bunda yang kini tengah mengelus bahunya.

"Maaf."

Kata itu Satya ucapkan begitu saja. Begitu spontan, begitu tak direncanakan.

Usapan di bahunya berhenti. Satya dapat merasakan bahwa sang bunda juga merasakan penyesalan yang sama.

Karena faktanya, mereka berdua adalah sumber luka terhebat di hidup Jean.

"Bunda, Abang masih jadi anak bunda 'kan?"

"Hush! Kenapa Abang bilang begitu?"

"Abang cuma ngerasa nggak pantes. Abang udah bunda rawat seperti anak sendiri tapi, Abang malah lukai anak kandung bunda."

Setelahnya, Satya merasakan sebuah pelukan yang hangatnya tetap sama seperti ketika ia kecil dulu.

"Bunda terima kata maaf Abang. Tapi, bunda nggak terima ucapan Abang yang barusan. Dari dulu, Abang udah jadi anak bunda. Besok dan seterusnya pun akan tetap begitu. Wajar kok kalau Abang merasa bersalah. Abang emang salah. Bunda juga nggak bisa nolak fakta kalo Abang emang nyakitin hati bunda dengan cara nyakitin Jean. Terlepas itu Jean ataupun bukan, menyakiti orang lain itu bukan sesuatu yang benar."

Pelukan itu terlepas begitu saja. Sang bunda memegang tangannya untuk meniup telapak tangan Satya yang terluka.

"Tapi, menyakiti diri sendiri juga bukan bagian dari penebusan dosa. Semua luka yang Abang buat nggak akan bawa pengaruh apa-apa."

Tubuh Satya membatu begitu saja. Rupanya, sang bunda tahu jika Satya kerap kali melukai dirinya sendiri karena selalu dihantui rasa bersalah.

"Abang, bunda juga bersalah disini. Bunda berhasil jadi sosok ibu untuk Abang dan Riki tapi, bunda gagal jadi sosok ibu untuk anak kandung bunda sendiri. Jadi, tolong sudahi semua ini ya, nak? Jangan lukai diri Abang lagi. Tolong jangan tambah luka bunda. Tolong jangan buat bunda kembali gagal jadi sosok ibu untuk anak-anak bunda."

•ᴥ•

"Jadi, Sean buta?"

"Iya."

Percakapan itu terjadi di depan ruang rawat Sean yang kacau berantakan. Tadi siang, Satya mendapatkan kabar dari Azka bahwa Sean telah siuman. Mereka berdua pun memutuskan untuk melihat kondisi Sean secara bersamaan. Namun belum sempat Satya menyapa Sean, tubuhnya harus membatu di depan ruang rawat Sean ketika melihat teman Jean itu mengamuk begitu brutal. Tak ada niatan untuk masuk ke dalam. Yang Satya lakukan hanyalah menyaksikan semuanya dari pintu ruang rawat Sean. Tak lama kemudian, Azka datang dengan seorang dokter. Keduanya masuk ke dalam namun Azka segera keluar ketika Sean telah diberi obat penenang.

Hiraeth | SungwonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang