Di tengah gelapnya malam, Jean memaksakan diri untuk berlari dengan kencang. Bagian belakang dan kakinya yang nyeri bukan prioritasnya sekarang. Kepalanya sesekali menengok ke belakang untuk memastikan bahwa Satya sudah tak mengejar. Napasnya memburu, kaki tanpa alas itu beberapa kali menginjak kerikil tajam yang membuat langkah kakinya semakin memelan. Namun, senyumnya mengembang ketika melihat jalan raya di depan matanya. Bersamaan dengan kakinya yang menapak jalan raya tersebut, hujan malah turun semakin deras. Jean sedikit bernapas lega karena tak ada petir maupun angin kencang yang mengiringi dirinya di tengah hujan.
Tangannya mengusap butiran air yang membasahi wajah. Matanya memburam, luka di tubuhnya juga terasa perih, tapi Jean tetap memaksakan diri untuk tetap berjalan. Menyusuri jalan raya yang dikelilingi pohon-pohon besar menjulang yang nampak menakutkan.
Kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Lampu-lampu redup di pinggir jalan sedikit membuat Jean merasa tenang. Beberapa menit kemudian, langkah kakinya mulai terseok. Ia lelah. Ia ketakutan. Sedari tadi, tak ada satupun kendaraan yang melintas. Niat hati ingin mencari bantuan namun sepertinya orang-orang lebih memilih diam di rumah ketika hujan seperti ini. Ditambah lagi, ini masih dini hari. Manusia mana yang masih berkeliaran di jam tidur seperti sekarang?
Pada saat kesunyian terasa semakin mencekam, ponselnya berbunyi nyaring dengan kontak Mahesa sebagai pemanggil. Jean menangis haru mengetahui ia mendapat signal di tempat ini.
Matanya mengedar, mencari tempat berteduh untuk bisa mengangkat panggilan. Namun, tak ada yang bisa ditemukan matanya selain pohon-pohon besar yang terlihat menyeramkan.
Maka, tak ada yang bisa Jean lakukan selain mengangkat panggilan itu di bawah guyuran hujan. Sempat-sempatnya ia memukul kepalanya sendiri ketika ingat bahwa ponselnya anti air.
"ha-HALO! BAJINGAN! LO DIMANA JEAN? DEMI TUHAN. LO BUAT SEMUA ORANG KHAWATIR!"
Jean menjauhkan ponselnya dari telinga. Disaat seperti ini, Azka tetap menyebalkan seperti biasanya.
"Gue nggak tahu gue ada dimana," lirih Jean.
"Serlok, Je. Nanti kita ke sana jemput lo, oke?"
Kali ini, suara Mahesa terdengar sangat lembut namun tak menutup nada penuh kekhawatiran.
Dengan cepat, Jean mengirimkan pesan berisi lokasinya saat ini pada Mahesa disaat panggilan itu yang masih tersambung.
"Kita otw, Je. Lo tunggu dimana aja dulu, ya? Suaranya berisik banget, kayaknya di sana hujan, ya? Ada baiknya lo-"
Tak ada lagi yang bisa Jean dengar ketika tubuhnya dihantam sesuatu dengan keras.
•ᴥ•
Satya mengerang marah. Bagaimana bisa ia kalah oleh orang selemah Jean?
Dengan pipi memerah karena sempat dipukul Jean dengan sepatu, Satya kembali menuju mobilnya. Menjalankan kendaraan itu diatas rata-rata. Matanya tak tinggal diam, sibuk menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa Satya tak melewatkan tempat sekecil apapun peluang Jean bersembunyi.
"Wow. Hujan. Kita lihat, sayang. Berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk menemukan sosok lemah seperti dirimu," ucap Satya tanpa menghentikan laju mobilnya.
"Ketemu."
Tanpa membuang waktu, Satya mendekati Jean dengan penuh kehati-hatian. Suara hujan cukup membantu menyamarkan bunyi mesin mobilnya. Satya mematikan lampu mobil. Silau mobil sudah berganti dengan silau matanya yang penuh dendam dan ambisi.
"Ada kata-kata terakhir, manisku?"
Setelah mengatakan itu, dengan tiba-tiba ia menarik pedal gas. Menabrakan mobilnya pada tubuh Jean yang tidak siap menghindar. Mata Satya membulat tak berkedip melihat tubuh itu terpental cukup Jauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth | Sungwon
FanfictionREBULISH - Apabila dijelaskan secara mendalam, Hiraeth dapat diterjemahkan sebagai kata yang menggabungkan rasa kerinduan, nostalgia dan rasa ingin pulang ke rumah. Namun, Hiraeth sendiri memiliki banyak makna. Salah satunya ialah perasaan rindu ter...
