tak utuh

599 78 29
                                        

Harap dibaca dengan santai karena mengandung banyak spoiler untuk chapter yang akan datang (●’◡’●)ノ

___ ⋆。˚___

"Bang! Gue yakin lo tahu sesuatu tentang Jean!"

Mahesa tidak peduli. Ia tetap memakan makanannya dengan tenang tanpa menghiraukan presentasi Sean yang sejak tadi menggertak meminta jawaban.

Tiga hari sudah Jean dirawat di rumah sakit. Tiga hari pula Sean kewalahan mencari Jean yang tak ada kabar. Semua orang tampak menyembunyikan di mana keberadaan Jean sekarang. Entah itu guru, teman-teman sekelas Jean, bahkan Riki yang malah ikut-ikutan menghilang.

Jelas, Sean sangat mengkhawatirkan Jean.

Sebelumnya, Sean memang sudah membombardir Mahesa lewat chat dan telpon. Namun, semakin bertambahnya zaman, dunia juga semakin canggih, bukan? Mahesa sengaja memblokir Sean dari semua media sosial yang ia punya. Tak lupa, Mahesa juga menonaktifkan handphone-nya, menghindari Sean yang bisa saja menelponnya lewat nomor orang lain.

"Bang, demi Tuhan! Kasih tahu gue sesuatu kalo lo tahu di mana temen gue sekarang!" suara Sean terdengar putus asa dan Mahesa sama sekali merasa iba.

"Gue nggak tahu. Kalaupun gue tahu, lo nggak pantes dapet informasi itu."

Mahesa meneguk habis air mineral yang ia punya. Pelampiasan terhadap rasa kesal ketika Sean tak kunjung pergi dari hadapannya. Entah mengapa, Mahesa seperti membenci teman Jean yang satu ini.

"Kenapa?"

Mendengar pertanyaan itu, Mahesa malah tertawa. Suara tawanya terdengar sangat keras hingga menarik beberapa pasang mata yang sama-sama tengah menikmati makanan di kantin.

"Kenapa? Kok tanya gue? Kenapa nggak tanya sama diri lo sendiri?" Mahesa malah balik bertanya dan Sean sadar bahwa Mahesa kini tampak sangat berbeda.

"Gue tahu kalo lo orang dibalik penculikan Jean waktu itu."

Sean tidak terkejut. Ia sadar bahwa Mahesa adalah orang asing yang terlalu ikut campur urusan Jean.

"Kok nggak kaget? Oh, lo udah memperkirakan hal ini, ya?" senyum mengejek Mahesa membuat Sean hampir saja menampar wajah songong itu.

"Lo tahu, Sean? Gue selama ini diem karena sibuk ngumpulin bukti. Lo tunggu tanggal maennya aja. Saran gue, sih, lo makan yang banyak. Manfaatin waktu. Soalnya di jeruji besi, lo nggak bisa lagi makan makanan cepat saji."

•ᴥ•

"Rey! Kemana aja lu? Gue baru liat lo masuk sekolah masa," Azka merangkul pundak Reyhan dengan akrab ketika tak sengaja bertemu dengan anak itu di toilet.

"Lepas, Ka! Saya mau ke kamar mandi."

Azka melepaskan rangkulannya. Membiarkan Reyhan memasuki salah satu bilik sementara ia berteriak akan pergi duluan karena urusannya sudah selesai.

Di dalam, Reyhan tengah menghubungi seseorang lewat telponnya. Ia tahu bilik kamar mandi semuanya kosong karena sejak tadi tak ada siapapun yang masuk selain dirinya dan Azka. Kabar baiknya lagi, Azka baru saja keluar. Apa lagi yang harus ia khawatirkan jika hanya ada dirinya seorang diri di sini, bukan?

"Bagaimana bisa kalian tidak menemukannya? Saya tidak mau tahu! Cari dia sampai ketemu! Jika tidak, maka neraka milik saya akan menjadi tempat kalian menua!" marahnya pada orang di seberang sana.

Pencarian Jean selama tiga hari tak menemui titik terang. Reyhan tak takut Jean akan melaporkannya pada pihak berwajib. Ia tahu Jean tak berani melapor karena anak itu sadar bahwa kegiatan mereka direkam.

Hiraeth | SungwonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang