Jean mendesis lirih. Sangat-sangat lirih sampai Reyhan yang berada di dekatnya pun tidak bisa mendengarnya.
Meski tahu jika pujaan hatinya tengah kesakitan, tapi Reyhan tetap melanjutkan aksinya, memukul kaki kiri Jean dengan tongkat bisbol yang entah bagaimana ceritanya bisa ada di tangan Reyhan.
"Kamu membuat saya marah, Jean. Kamu membuat saya marah," ayunan kuat kembali Reyhan berikan pada kaki Jean hingga bunyi retakan tulang terdengar begitu menyakitkan.
Sebelum semarah ini, Reyhan sempat bersikap manis. Sangat-sangat manis hingga membuat Jean mengatakan keinginannya secara tak sadar.
Ya, Jean mengidam. Anak itu merengek pada Reyhan untuk dibuatkan udang bakar dengan selai durian diatasnya. Reyhan saja sampai terheran-heran dengan selera Jean.
Udang dengan selai durian?
Apakah itu terdengar seperti makanan yang menggiurkan?
Tapi sebagai calon ayah dan calon suami yang baik, Reyhan dengan tegas mengiyakan keinginan Jean. Tapi, yang menjadi masalahnya adalah fakta bahwa Reyhan tidak memiliki bahan utama untuk membuat makanan yang diinginkan Jean-nya. Oleh sebab itu, berbekal pintu dan jendela rumah yang sudah dikunci, Reyhan meninggalkan Jean sendirian untuk membeli bahan-bahan dan keperluan lain yang mungkin saja akan sangat dibutuhkan jika Jean kembali mengidam.
Jean yang ditinggal sendirian tentu saja memanfaatkan keadaan. Anak itu kabur dari rumah setelah memecahkan kaca menggunakan raket nyamuk hingga raket itu patah menjadi dua bagian. Namun sayangnya, aksi nekat Jean kembali menemui kegagalan karena anak itu malah berpapasan dengan Reyhan yang ternyata sedang menunggu orang suruhannya untuk membelikan apa yang Jean butuhkan.
Rupanya, Reyhan sadar jika Jean mulai menunjukkan pemberontakan. Maka, yang akan Reyhan lakukan adalah menunjukkan sesuatu kepada si manis bahwa dari awal Jean tak diberi pilihan.
Mau tak mau, Jean harus menjadi milik Reyhan.
Semua terjadi begitu cepat. Ketika Reyhan dengan kekuatan penuhnya menyeret tubuh Jean, mengabaikan fakta bahwa Jean tengah mengandung darah dagingnya sendiri.
Kaki Jean beberapa kali berbenturan dengan akar-akar pohon besar dan meninggalkan bekas kebiruan dibeberapa bagian. Jean sudah meminta Reyhan untuk sedikit melembut, tapi Reyhan yang tengah marah itu memang tak bisa diajak negosiasi.
Tubuh Jean langsung dilempar ke lantai kamar mandi ketika mereka telah sampai di rumah. Jean beringsut mundur ketika Reyhan mendekat setelah menutup pintu kamar mandi. Setelahnya, hanya ada jeritan pilu yang terdengar begitu nyaring dari arah kamar mandi.
Reyhan benar-benar meluapkan semua amarahnya. Jean yang sedari awal tak bisa melawan hanya berusaha menghindar. Tangan Jean berusaha melindungi bagian perutnya dari segala kekerasan yang dilakukan Reyhan. Melihat itu, Reyhan tersenyum tanpa sadar. Karena dikeadaan sekacau ini, Jean tetap memprioritaskan bayinya. Menempatkan anak mereka diatas segalanya.
Tapi, hal itu tak membuat Reyhan sedikit meringankan pukulan yang dilayangkan pada tubuh manusia yang katanya sangat dicintainya itu. Justru Reyhan malah semakin bringas dan berusaha melukai bagian yang sedang dijaga Jean secara mati-matian. Bahkan Reyhan melempar semua alat mandi yang ada di ruangan tersebut hingga beberapa diantaranya melukai si manis.
Jean tidak melawan. Anak itu hanya berusaha mempertahankan diri. Karena Jean sadar. Sangat-sangat sadar. Dengan tubuhnya yang seperti ini, melawan Reyhan adalah hal yang sia-sia untuk dilakukan.
Dan Reyhan dapat membaca itu semua.
Entah apa yang merasuki Reyhan saat itu. Pemuda itu secara tiba-tiba menjambak rambut Jean dengan sangat kuat lalu membenturkannya pada pinggiran bathub.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth | Sungwon
FanfictionREBULISH - Apabila dijelaskan secara mendalam, Hiraeth dapat diterjemahkan sebagai kata yang menggabungkan rasa kerinduan, nostalgia dan rasa ingin pulang ke rumah. Namun, Hiraeth sendiri memiliki banyak makna. Salah satunya ialah perasaan rindu ter...
