(11)

19.6K 1.1K 10
                                        

Sha menatap kosong kasur yang berantakan. Air matanya sudah kering karena semalaman keluar terus menerus. Hatinya teriris pilu tak pernah membayangkan jika dirinya berada di posisi ini

"Aku akan bertanggungjawab."

"I hate you!" serunya dengan wajah tanpa ekspresi. Emosinya benar-benar sudah ia keluarkan malam tadi. Pria itu sudah melanggar kepercayaannya.

Ia tak pernah menyangka bahwa harga dirinya bisa hilang dalam waktu satu malam. Satu malam penuh dosa yang ia lewatkan bersama sahabat terbaiknya. Yang kini sahabatnya bukanlah sahabat melainkan bajingan.

Pria itu menghela nafasnya pelan, "Maaf telah menyakitimu."

Sha terkekeh pilu, "Maaf? Kau pikir itu bisa mengembalikan semuanya?!"

"Aku janji akan bertanggungjawab. Kau sekarang milikku, Sha."

Wanita itu meludah mengenai wajah Gibran, "Bajingan! Aku bukan milikmu!"

Gibran malah tersenyum tak merasa keberatan saliva gadis itu mengenai wajahnya. "Terserah kau mau memanggilku apa. Kita akan tetap menikah apapun keadaannya."

Sha seketika berteriak marah. Mencekik leher pria itu, "Kenapa?! Kenapa kau melakukannya padaku hah?!"

Pria itu tetap mempertahankan senyumnya. Tak ada lagi yang tersisa dari Gibran yang ia kenal. Pria itu menjelma menjadi iblis kejam.

"Dasar gila! Bajingan kau Gibran!" emosinya memuncak melihat pria itu malah tersenyum tanpa beban.

"Kau benar, aku memang sudah gila. Karena.. percaya atau tidak aku mencintaimu dari dulu Sha. Tapi sayang.. kau tak pernah bisa merasakannya. Bahkan ketika aku mengungkapkannya dengan cara yang benar kau selalu menganggapku bercanda."

Tubuh Sha seketika membeku. Menatap pria itu tak percaya. Jadi selama ini pria itu mencintainya?

"Kau tak peka."

Sha menelan ludahnya kasar tak percaya apa yang pria itu katakan barusan.

"Aku tak menerima penolakan apapun kali ini."

"Aku tak akan pernah mencintaimu! Sampai kapanpun! Aku akan terus membencimu!"

"Well, aku tahu ini salah. Tapi kita menikmatinya tadi malam bukankah begitu?"

Sha berseru tak terima, "Aku membencinya!"

"Tapi tubuhmu seperti menyukaiku. Kita bersatu dan tubuhmu tak menolak."

"Dasar bajingan kau!" siap menampar wajah pria itu.

Dengan gerakan Gibran mencekal tangan wanita itu ke belakang badannya. "Shhht.. tenanglah.. sayang.. bibir ini tak baik menyumpah serapahiku." Pria itu mengecup sekilas bibir wanitanya.

Sha kembali meludahi Gibran. Raut wajahnya menunjukan ekspresi jijik. Lain halnya dengan Gibran, mata elang itu menatap dalam mata wanita itu.

"Hentikan!" seru Sha ketika pria itu kembali menciumnya.

"Tak akan pernah."

Sha menggelengkan kepalanya, "Jangan!"

Gibran tersenyum miring, "Tapi, tubuhmu mengatakan ya."

***

Sha menjambak frustasi rambutnya saat melihat hasil testpack. Ia tak menyangka dia akan hamil. Padahal ia sudah meminum pil setelah kejadian itu karena tak sudi mengandung anak bajingan itu.

"Kenapa?!" teriaknya frustasi.

Gibran tersenyum kecil melihatnya, "Aku tahu kau minum pil pencegah kehamilan. Tapi, ternyata takdir berpihak padaku."

"Sialan kau! Apa yang kau inginkan dariku, huh?" ujarnya seraya membanting testpack itu ke dada Gibran.

"Bukankah sudah kubilang, jadilah istriku? Sekarang kau hamil anakku, sayang."

"Tak akan pernah! Mimpi kau bajingan!" teriaknya memukul dada pria itu berkali-kali. Seakan menyalurkan seluruh emosinya.

"Memang aku sudah lama bermimpi untuk menikahimu."

"Kau dan obsesi busukmu akan menghancurkan hidupmu!"

"Ralat, kau yang menghancurkan hidupku, Sha. Dengan teganya kau mengobrak-abrik kehidupanku dengan pesonamu. Dari kecil aku sudah bermimpi akan menikah denganm..."

"Diam! Aku tak perduli!"

Sha menutup wajahnya frustasi, "Kau sahabatku, Bran. Kenapa.. kenapa kau tega melakukan ini padaku? Apa salahku? Apa yang harus kukatakan pada orangtuaku? Apa?!"

Gibran mengusap kepala wanita itu lembut namun dengan cepat Sha menyentaknya, "Aku yang akan bicara pada mereka, sayang."

"Tidak! Tidak boleh!"

"Why not? Bukankah mereka berhak tahu?"

"Aku tak ingin mereka kecewa."

"Lagipula semua akan terbongkar cepat atau lambat. Kau tidak bisa merahasiakan hal sebesar ini pada mereka."

"Jika saja kau tak melakukannya! Aku takkan hamil, Bran! Semua ini salahmu! Salahmu!!"

"Maka dari itu ayo kita menikah!"

"Kau pikir dengan menikah semua masalah selesai?!"

"Tentu."

Sha memejamkan matanya erat beberapa saat, "Baiklah, tapi ada syaratnya."

"Apa?" binar bahagia terlihat dari bola matanya.

"Tak ada yang boleh tahu tentang ini. Aku mau menikah denganmu secara diam-diam. Tapi jangan salah kira, aku terpaksa melakukan ini karena aku tak mau anak ini lahir tanpa ayah. Aku melakukannya hanya demi anak ini."

Anak ini? Hati pria itu sedikit tercubit mendengar wanita itu seakan tak sudi mengakui anaknya.

"Dia anakmu juga Sha."

Wanita itu tak menanggapinya segera melengos pergi.

"Aku yang salah bukan anak itu, Sha," gumamnya sendu menatap hasil testpack.

ONE HERZ ✓ (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang