"Panggil aku Gibran. Mari berteman."
Shahinaz mengalihkan pandangannya ke Viona, temannya. Mengendikan dagunya seakan bertanya, "boleh
tidak?"
Viona mengangguk-angguk, "Terima saja. Dia bule Sha."
Shahinaz mengangguk kecil, "Boleh saja. Tapi, berapa umurmu?"
Gibran mengingat-ingat angka bahasa Indonesia yang dulu diajarkan Mommy nya waktu itu.
"Enam belas tahun," ujarnya merasa ingatannya benar.
Kedua gadis itu melongo.
"Dia tua sekali, Sha," bisik Viona lirih.
"Tapi mukanya kenapa seperti masih kecil ya?"
"Entahlah. Apa dia operasi plastik?"
"Masa sih? Sepertinya masih 6 tahun seperti kita."
Shahinaz menatap pria kecil itu. Tersenyum kikuk.
"Maaf, tapi kamu terlalu dewasa untuk kami. Jadi kita tidak bisa berteman," ringis Shahinaz tak enak hati.
Raut wajah Gibran seketika berubah. Dadanya seperti terhimpit batu bara mendengar penolakan gadis cantik itu. Dia baru saja ditolak rasanya sangat-sangat menyakitkan.
"Kenapa?! Aku juga seperti kalian!" bentaknya tak terima.
Kedua gadis itu terperanjat dari tempatnya. Mengusap dada mereka terkejut. Pria kecil itu berubah menjadi banteng.
Skyla yang melihat anaknya menakuti kedua gadis itu langsung beranjak dari duduknya. William dan anaknya, Mia dan Amelia pun ikut menghampiri pria kecil itu. Nafas Gibran tersengal-sengal. Dia memiliki sifat tempramental seperti Papanya.
"Aku bilang kau harus menjadi temanku! Aku tak menerima bantahan!" titahnya tak ingin dibantah.
Dia menunjuk gadis yang bernama Sha, "Kau harus menjadi temanku!" Matanya berkilat akan ketegasan.
"Dia kenapa Vi?" tutur Sha ketakutan memeluk temannya erat.
Begitupun Viona, dia juga memeluk sahabatnya erat, "Aku tak tahu Sha. Kabur saja yuk!"
"Kenapa Gibran?" ujar Skyla memegang pundak anaknya.
"Aku ingin dia, Mom."
Skyla menatap gadis kecil itu, "Maafkan Gibran ya, sayang? Jangan dibawa ke dalam hati! Jika tidak ingin berteman dengannya tidak apa-apa. Dan Gibran, jangan memaksa jika gadis ini tak mau."
Gibran menatap Mommy-nya sengit, "Tapi, mom. Aku ingin dia. Dia tak menerimaku karena aku dewasa.
Aku kan seperti dia mom. Aku masih kecil."
"Gibran!" sentak William tak suka anaknya meninggikan suaranya pada mamanya sendiri.
Gibran langsung terdiam.
"Tan-tante. Katanya umurnya enam belas tahun. Kami tak menerima laki-laki sedewasa itu karena kami
masih kecil," ujar Sha melirik sekilas pria kecil itu.
Mata Gibran tak lepas dari gadis itu. Dia sangat tertarik pada Sha. Dia menyukainya. Ya suka. Ini rasa
suka. Dia yakin itu. Ini seperti rasa suka Papanya pada Mommynya.
Skyla sontak tertawa geli mengerti situasi ini. William mengerutkan keningnya bingung tak terlalu
pandai berbahasa Indonesia.
"Dia mengira Gibran berumur enam belas tahun, mas. Bahasa Indonesianya masih buruk," tuturnya disahut tawa kecil William.
Pria itu menepuk kecil pundak puteranya. Gibran menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia merasa malu karena bodoh.
"Jadi begitu, maafkan anak tante ya. Dia belum lancar berbahasa Indonesia. Jadi, umurnya masih enam tahun. Masih kecil."
Kedua gadis itu ber-oh panjang. Mereka berdua tertawa geli.
"Hahaha.. Sha.. Gibran lucu ya?"
Sha mengangguk kecil, "Maafkan kami Gibran. Kamu boleh menjadi teman kami kok. Akan kami ajari
bahasa Indonesia sampai lancar."
Gibran menggeleng kecil, "Aku mau hanya kamu yang mengajariku!"
"Apa?" semua terperangah di tempat.
Gibran tersenyum lembut pada Sha.
Gadis itu membalas senyuman pria kecil itu dengan kikuk. Anak laki-laki yang sangat aneh.
Flashback off.
KAMU SEDANG MEMBACA
ONE HERZ ✓ (COMPLETED)
Short Story(Follow sebelum baca) Bagaimana jika salah satu sahabat terbaikmu memperkosamu? Apa yang akan kamu lakukan? --- "Jadilah istriku!" "Jangan gila Bran!" --- Cover by pinterest Buku keempat Big Boss and Me #2 in puisi
