(26)

13.5K 911 8
                                        

"Apa kau ingat ciuman pertamaku padamu?"

Sha menggeleng kepalanya tak mengingat. Pria itu dulu suka sekali mencium pipinya entah kapan dimulai.

"Saat kita berumur tujuh tahun. Saat kau menghadiahiku robot mainan."

"Saat itu.. aku sudah membayangkan kehidupan bersamamu. Kau tahu.."

Pria itu terkekeh kecil, "Aku sudah membucinimu dari kecil."

Sha menatap pria itu sendu. Kenapa ia sangat tak peka hingga perasaan pria itu saja ia tak tahu. Betapa bodoh dirinya tak bisa merasakan rasa sedalam ini..

Flashback on.

"Terimakasih," ujarnya sangat bahagia dihadiahi robot oleh Sha. Ia sudah menunggu kado dari gadis itu dari tadi.

"Sama-sama. Semoga kau suka. Maaf jika mainannya.. emm.. tidak mewah," ujarnya malu-malu.

"Tidak masalah."

Sha menyengir lebar. Syukurlah anak laki-laki itu mau menerima hadiahnya yang bisa dibilang murahan.

"Kau menghadiahi Gibran apa?" tanya salah satu gadis kecil yang imut bernama Syafa.

"Ada deh.. kalau kau?"

"Aku? Tentu saja mobil hot wheels limited edition."

Sha memainkan jemarinya malu. Ia ingin meminta kembali mainan hadiahnya dengan sesuatu yang pantas. Saat ia ulang tahun saja, anak laki-laki itu memberinya kado yang istimewa dan mewah.

"Apa aku boleh meminta kembali hadiahnya?"

"Hmm? Kenapa?"

"Aku ingin memberimu sesuatu yang lebih baik."

"Tidak perlu. Aku suka kadomu."

"Benarkah?"

"Tentu saja."

Sha tertawa kecil, "Terimakasih sudah menerimanya."

"Kado muraham seperti itu memangnya pantas diberikan?" ujar Syafa sengit.

"Eh.." Sha tak tahu harus menjawab apa.

"Aku paling suka dengan hadiahmu," ujarnya seraya mencium pipi tembam gadis itu.

Entah kenapa ia reflek menciumnya. Ia tak suka Sha direndahkan.

"Eh?" sentak Sha terkejut.

"Aaa! Gibran mencium Sha!!"

"Oh ya??" semua tiba-tiba berkumpul mengelilingi mereka.

Teriakan Syafa benar-benar membuat gaduh pesta ulang tahun Gibran. Anak laki-laki itu hanya memasang tampang tak berdosa. Sedangkan Sha menunduk malu dibawah rangkulan pria kecil itu.

"Kenapa kau mencium pipiku?"

"Karena kau menggemaskan."

Flashback off

"Aku sangat malu Bran.."

Gibran tersenyum kecil, "Tak usah malu. Sekarang kita sudah sah."

"Tapi tetap saja aku malu jika mengingatnya. Kau nakal sekali dari dulu."

"Oh ya? Nakal? Hmm seperti apa nakalku?" tanyanya dengan nada menggoda.

Sha berdecak sebal, "Aku tak bisa mengungkapkan semuanya. Tapi kenakalanmu membuatku selalu sebal denganmu."

"Kalau sekarang?"

"Kau.."

"Ya?"

"Kau berbeda."

"Katamu aku nakal?"

"Hissh.. nakal yang berbeda."

"Oh ya? Bagaimana nakalku sekarang?"

"Berhenti membahasnya!" Sha malu dibuatnya.

"Nakal yang itu atau yang ini?"

"Apa sih Bran.."

"Apa kau lebih suka nakalku yang sekarang?"

"Bran.. please aku tak mau membahasnya."

"Kenapa sayang?" terkekeh melihat pipi istrinya bersemu merah.

"Jangan membahas nakal lagi!"

"Siapa yang mulai membahasnya?"

Sha terdiam. Pria itu tertawa renyah.

"Apa aku boleh memperlihatkan kenakalanku yang lain?"

Sha mengerutkan keningnya tak mengerti.

"Apa?"

"Hmm.. nakal yang itu.." pria itu mengangkat kedua alisnya menggoda.

"Aku.."

"Apa aku akan ditolak?"

Sha menundukkan wajahnya ragu.

"Aku tak ingin kau menolak. Aku sudah menahannya sampai detik ini. Apa kau tega dengan suamimu yang malang?"

"Eh.. aku.."

"Ya? Jawabannya hanya ada dua. Ya atau ya."

"Baiklah.."

ONE HERZ ✓ (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang