(36)

14.4K 811 10
                                        

Gibran mengerutkan keningnya menatap kado yang diberikan oleh satpam. Katanya dari seorang pria. Sha yang melihat suaminya memegang kado langsung penasaran.

"Dari siapa, Bran?"

"Kupikir dari pria sampah," siapa kira-kira pria yang berani-beraninya memberi kado pada istrinya? Shit! Ia tak suka.

"Hah? Siapa pria sampah?"

"Kupikir aku akan membuangnya saja."

"Eh, tunggu Bran! Kenapa membuangnya?"

Gibran berdecak, "Karena aku tak suka dengan kado murahan."

"Kau sudah tahu isi kadonya memangnya?"

"Belum. Tapi yang pasti kado ini lebih baik dibuang saja."

"Astaga Bran.. jangan berlebihan!"

"Berlebihan katamu? Ini dari seorang pria, sayang. Untukmu. Kau pikir.."

"Kau cemburu?" Sha mencolek lengan suaminya.

"Memang salah?" sedikit cemberut.

"Berlebihan! Sini! Itu mungkin dari Rasya. Tadi dia mengirim pesan katanya ada hadiah darinya."

"Rasya? Pria menyebalkan itu?"

"Iya sayang Gibran.. ck.." menyerobot kado itu dari tangan suaminya.

"Apa? Aku tidak dengar?"

"Apa ya?" pura-pura lupa.

"Yang tadi barusan. Iya sayang Gibran.."

"Itu kau tahu," sembari membuka kado lucu itu.

"Maksudku, aku mau mendengarnya lagi."

"Gibran.. lihatlah!" Sha memperlihatkan baju batik bayi yang lucu dan unik.

"Oh.." jawabnya malas.

"Gibran.. ini bagus tahu.."

"Biasa saja. Aku bisa membelikannya yang lebih bagus."

Sha menggeleng kepalanya jengah, "Baiklah. Super bos yang kaya raya. Suamiku ternyata pria sombong."

"Bukan sombong! Hanya kenyataannya seperti itu."

Sha mendengus malas. Bukannya menghargai malah seperti itu.

"Aku lebih suka mendengar panggilan sayang darimu," memeluk istrinya gemas.

"Minggir!"

"Kenapa sayang?"

"Aku mau menelepon Rasya. Ingin berterimakasih padanya."

"Tidak usah. Biar aku saja."

"Yakin?"

"Iya. Sekalian ingin mengatakan sesuatu."

"Memangnya apa?"

Gibran tak menjawabnya. Lekas menghubungi sepupunya itu, anak pertama dari aunty Kaila. Memang sangat berbeda dengan tantenya. Pria itu sangat cuek seperti dirinya. Tak heran dulu ia sering bertengkar dengan laki-laki itu. Entah kenapa juga ia tak tahu.

Dan sekarang mereka jarang bertemu karena pria itu lebih sibuk darinya.

"Ada apa?" tanya Rasya dari seberang sana.

"Thanks." Ujar Gibran tanpa berbasa-basi.

"..."

"Kau tidak dengar?"

"Itu kado untuk anakmu bukan untukmu."

"Dia belum lahir. Aku mewakilinya."

"Kau tidak cocok menjadi ayah."

"Iri ya? Dasar jomblo."

"Sok tahu kau! Aku sudah punya calonnya."

"Oh ya? Jangan bilang dengan si Risa heh," sedikit mengejek.

"Kalau iya kenapa?!"

"Kenapa? Sulit move on?"

"Diam! Kau juga kan? Tak bisa move on dengan kak Sha."

Gibran mendengus nafasnya kasar, "Ya memang. Karena aku tak pernah menyerah untuk mendapatkan cintanya."

"Okay.. lihat saja nanti aku akan memberikan undangan secepatnya."

"Oke, aku tunggu!"

Tut!

Gibran menatap istrinya yang menatapnya horor.

"Jadi, Rasya dan Risa sudah putus?"

"Yup."

"Sejak kapan?"

Gibran mengendikkan bahunya tak acuh. Ia bukan orang yang suka kepo dengan kehidupan orang lain. Kecuali berhubungan dengan Sha.

"Tapi, mereka sudah pacaran sejak SMP kan? Kenapa mereka malah putus?"

"Aku tak tahu. Yang jelas ada kesalahpahaman diantara mereka. Si Rasya melakukan kesalahan."

"Apa itu?"

"Pria bodoh itu menjadikan Risa sebagai bahan taruhan."

"Hah?! Bagaimana bisa? Astaga.."

"Huss.. biarkan jadi urusan mereka. Aku tak suka mengurus ini. Yang jelas aku mencintaimu. Sudahkah aku mengatakan itu hari ini?"

"Sudah Bran.. lima kali."

Sha termenung sejenak. Ia tak pernah menyangka Rasya akan menyakiti gadis sebaik Risa. Pria itu sungguh bodoh menyia-nyiakan cinta tulus dari gadis itu.

ONE HERZ ✓ (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang