(6)

17.5K 1.1K 4
                                        

"Terimakasih Gibran." Ucapku sembari melepaskan seltbelt.

Kami sudah sampai depan rumahku. Melirik rumahku yang masih dalam kondisi gelap. Orangtuaku belum pulang dari kerja rupanya. Mereka memiliki kesibukan masing-masing.

Papaku bekerja sebagai Petugas Pengawas Lalu Lintas Udara sedangkan Mamaku bekerja sebagai Reporter. Pekerjaan mereka keren sekali. Dulu aku bercita-cita sebagai Analis Keuangan sama seperti tante Skyla - Mommy nya Gibran.

Tapi, akhirnya aku memutuskan untuk membuka usaha kecil-kecilan dan mengelola keuangan sendiri. Aku ingin mencoba mandiri.

"Sama-sama. Papa Mamamu belum pulang?"

"Belum. Kau ingin mampir?" well aku hanya berbasa-basi.

"Boleh."

"Eh?" jawabannya melenceng dari dugaanku. Kukira dia akan menolak dan langsung pulang.

"Kenapa?"

"Tidak.. tidak.." jawabku meringis.

"Aku akan menemanimu sampai orangtuamu datang."

Aku mengangguk kecil. Tidak masalah, well aku percaya kalau dia tak akan berbuat macam-macam.

"Oke, masuklah!"

Kami keluar dari mobil. Pintu mobil berdebam meninggalkan getaran di telinga.

Kami memasuki pekarangan. Aku membuka kunci rumah minimalis berlantai dua itu. Mempersilahkan pria itu masuk ke dalam.

"Silahkan masuk Tuan Muda Gibran!"

Dia mengangguk kecil. Dia menghirup nafas lalu mengeluarkannya kembali. Kukira dia akan tersinggung karena aku mengoloknya.

"Aku suka wanginya."

"Well, aku juga menyukainya. Mamaku yang memilihkan pewangi ruangannya."

"Bukan. Tapi, kau yang wangi." Ujarnya terdengar datar.

Aku tertawa kecil. "Kau bisa saja. Padahal terakhir kali aku mandi jam 6 pagi tadi. Bisa-bisanya kau membual!"

"Aku jujur Sha!"

"Baiklah, baiklah aku memang wangi. Kau duduklah dulu. Aku ganti baju dulu ya!"

Dia mengangguk mendudukan diri di sofa single.

"Jangan lama-lama. Atau aku akan menyusulmu."

"Sembarangan!" aku melemparkan sebuah bantal ke arahnya. Dia menghindarinya dengan cepat.

Dia terkekeh geli. "Buatkan aku teh hijau juga!"

"Dasar tamu tak tahu diri."

"Oh, kau tidak mau begitu? Dimana kata-kata Tamu Adalah Raja bagimu itu?"

Aku berdecak sebal. Menentengkan kedua tanganku di pinggang.

"Kalau tamunya sepertimu mungkin aku bisa menyiram air bekas cuci piring."

"Astaga kau jahat sekali!"

Aku tertawa melenggang menuju kamar. Berlari kecil menaiki undakan.

"Jangan lama-lama!"

"Iya cerewet."

Aku kembali ke hadapannya sepuluh menit kemudian. Membawa nampan berisi kukis dan teh hijau pesanannya.

Dia terlihat sibuk dengan ponselnya sampai tak menyadari kehadiranku.

Aku mengambil tempat duduk di depannya. Menaruh nampan itu di depannya.

"Silahkan diminum Tuan Muda!"

Dia berdehem kecil. Menatapku sekilas. Lalu melirik tempat kosong di sampingku.

ONE HERZ ✓ (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang