"Aku tahu.. kau tidak tenang saat meninggalkanku sendirian. Pekerjaanmu berantakan karena pikiranmu bercabang. Kau tidak fokus, Bran," wanita itu mengambil kotak P3K dari laci meja kerja.
Pria itu tak sedikitpun membantah. Memang kebenarannya seperti itu.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri tanpamu. Juga anak kita," mendudukan bokongnya kemudian mengobati tangannya dengan telaten.
Anak kita..
Hatinya seakan mengembang sempurna mendengarnya. Untuk pertama kalinya wanita itu mengakui anak mereka.
"Kau tak mengijinkanku mengurus Toko Bukuku jadi biarkan aku mengurusmu dengan benar."
Pria itu tiba-tiba tersenyum sendu. Ah.. Istrinya yang cantik dan baik hati. Sempurna sekali hidupnya sekarang. Hatinya terenyuh mendengarnya. Matanya menatap lekat wajah cantik itu dari dekat. Sudah berkali-kali ia merasakan jatuh cinta pada satu wanita.
"Terimakasih.."
Bolehkah ia berharap jika suatu saat nanti cintanya terbalaskan? Mengambil hati istrinya adalah hal yang sangat sulit ia lakukan. Bahkan, dengan berbagai cara.
"Makanlah lagi!" menyuapkan lagi opor yang ia masak sendiri.
Sha bisa merasakan perubahan sikap pria itu yang kini berangsur tenang. Sorot matanya kini berubah menjadi lembut. Tak seperti sebelumnya. Menatapnya lekat seraya tersenyum sendiri. Menunggu suapan seperti anak kecil yang manja. Pria ini tak banyak berubah. Hanya saja tingkah lakunya lebih jujur daripada saat menjadi sahabatnya. Tapi, pria ini begitu keras.
***
Hubungan keduanya kini mulai membaik. Sha lebih bisa menerima keadaannya kini. Ia akan mulai bekerja menjadi asisten pribadi besok. Bagaimana kabar orangtuanya? Tentulah mereka mengira ia masih betah tinggal di apartemen barunya. Mereka belum menjenguknga sampai saat ini mengingat kesibukan masing-masing.
Mereka memang jarang sekali pulang ke rumah lebih sering menginap di tempat kerja mereka.
Suara notifikasi pesan tiba-tiba menginterupsi. Sha membulatkan matanya. Dari Viona. Payah sekali dirinya yang lupa mematikan ponselnya.
Viona
Sha.. kenapa kau tak membalas pesan-pesanku?
Kenapa kau tak lagi pergi bekerja?
Kenapa kau tidak di rumah, Sha?
Kemana kau??
Me
Maaf aku lupa membalasnya
Akhir-akhir ini aku tak lagi pergi bekerja
Viona
Kenapa, Sha?
Kau tahu.. aku merasa kau mulai melupakanku sekarang
Aku minta maaf, Sha jika aku ada salah
Me
Bukan salahmu Vio
Sha menghela nafasnya pelan. Ia tak bisa mengatakan hal ini dengan Viona. Bagaimanapun ia tak ingin menambah beban sahabatnya. Jika saja ia tahu Gibran telah memperkosanya ia tak yakin persahabatan mereka akan tetap utuh.
Me
Aku yang seharusnya minta maaf
Viona
Aku ingin kita bertemu sekarang
Me
Kurasa tidak sekarang, Vi
Lain kali saja
Viona
Kau dimana sekarang? Jawab jujur Sha!! Kau dan Gibran kemana?! Kalian seperti menghilang ditelan bumi.
Sha memutuskan tak menjawabnya hanya membacanya dari notifikasi. Ia belum siap mengatakan semuanya. Ia belum mempersiapkan jawabannya.
Ia hamil.. ingin sekali mengatakan itu. Tapi..
Viona
Aku perduli, Sha denganmu. Aku sahabatmu!
Me
Aku akan menemuimu secepatnya
Balasnya sebelum mematikan ponselnya. Ia sedang tak ingin direcoki untuk saat ini.
***
Sha seketika terbangun ketika merasakan seseorang mengusap perutnya. Gibran. Pria itu tak sadar jika Sha sudah bangun.
"Kau belum mandi?" bisik Sha mengejutkan pria itu.
"Maaf.." ujarnya tidak lagi mengusap perut wanita itu.
"Mandilah setelah itu tidur," ujarnya sebelum membalikkan badan membelakangi pria itu.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku baik. Anak ini juga baik."
Pria itu kembali bersedih. Kenapa wanita itu kembali tak mengakui anak mereka, "Anak kita, Sha."
"Ya, anak kita."
"Bolehkah aku merasakan anak kita lagi?"
"Mandilah dulu!"
Ia kira ia akan ditolak oleh istrinya.
***
Gibran tersenyum mengusap perut yang belum terlalu besar itu. Sesekali menciumnya kecil. Sementara Sha berusaha mati-matian untuk tak menepis tangan pria itu. Bagaimanapun Gibran berhak atasnya dan anaknya. Tak baik lama-lama menyimpan dendam. Itu hanya akan melelahkan hatinya.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Tidak buruk."
Cup!
Sha memejamkan matanya menahan sesuatu ketika pria itu mencium perutnya lagi. Sensasinya memang menenangkan bayinya. Tapi, ia tak bisa mengenyahkan begitu saja memori kelamnya. Pria itu menciumnya seperti itu tapi dalam keadaan berbeda. Masih ada sedikit trauma dalam dirinya.
"Apa aku menyakitimu?"
"Tidak."
"Ada apa? Katakan saja."
"Tidak apa-apa. Hanya saja aku merasa sedikit geli."
"Sungguh?"
"Ya."
"Baiklah.."
Pria itu kembali mengusap perutnya. Sha sedikit merasa iba jika pria itu bersedih. Ia tak ingin melarang lagi ketika pria itu menyentuhnya. Lupakan saja kesepakatan bodoh itu. Ia hanya spontan mengatakannya ketika sedang emosi.
"Bran.. aku mau tidur. Bukankah besok hari pertamaku bekerja?"
Pria itu mengangguk, "Tidurlah! Aku akan menjagamu."
Sha sebenarnya tak sampai hati mengusir pria itu dari ranjangnya.
"Jika kau ingin, tidurlah di sampingku."
Gibran menatapnya tak percaya, "Really?"
"Bukankah kau ingin menjagaku?"
Pria itu tersenyum lebar, "Tentu saja, sayang."
Apakah Sha sudah menerimanya?
KAMU SEDANG MEMBACA
ONE HERZ ✓ (COMPLETED)
Short Story(Follow sebelum baca) Bagaimana jika salah satu sahabat terbaikmu memperkosamu? Apa yang akan kamu lakukan? --- "Jadilah istriku!" "Jangan gila Bran!" --- Cover by pinterest Buku keempat Big Boss and Me #2 in puisi
