(27)

13.7K 889 9
                                        

Namun kegiatan mereka batal karena adanya pengganggu yang tiba-tiba marah saat melihat mereka berlibur berdua di resort ini.

"Apa kau bisa menjelaskan semua ini, Sha?" tanya Viona.

Sha melipat bibirnya ragu. Menatap pria yang disampingnya. Ia tak ingin salah bicara..

"Aku menghamilinya lalu kita menikah. Karena kau tahu.. aku sangat mencintainya."

"Berengsek! Berani-beraninya kau Gibran!"

Pria itu mengendikkan bahunya tak acuh. Ia memang berengsek dan ia tahu itu.

"Dan kau Sha! Kenapa kau mau menikah dengannya? Harusnya kau menolak Sha.. kau kan.."

"Karena aku suka padanya, Vio," jawaban yang berniat melindungi harga diri suaminya.

"Lalu kenapa? Kenapa kau tak memberitahuku???!!!" reaksi yang sama saat ia mengungkapkan segalanya pada kedua orang tua Sha kemarin.

Marah. Sangat marah. Wajar jika marah karena memang hal ini bukan hanya kesalahan kecil.

"Maaf Vio.."

"Aku kecewa padamu, Sha.. dan kau Gibran," ujarnya dengan nada rendah sebelum beranjak dari resort.

"Vio tunggu!" berniat menahan Viona.

"Sudahlah sayang biarkan dia pergi."

"Tapi Bran.."

"Dia takkan marah lebih dari seminggu."

Sha memijit keningnya frustasi, "Bagaimana jika ia terus marah padaku? Dia sahabatku, Bran dari kecil."

"Aku yakin nanti hubungan kalian akan membaik."

"Apa aku boleh meminta sesuatu darimu?"

"Apa?"

"Tolong bujuk dia agar tak marah lagi, Bran."

Gibran mengangguk, "Akan aku usahakan."

"Terimakasih.." ia merasa tak sanggup mengatasi sahabatnya yang kadang keras kepala. Ia juga sadar ia yang salah karena menyembunyikan kebenaran ini.

"Aku ingin makan siang."

Apa mereka tak jadi ehem? Pikir Gibran menduga-duga. Huh.. semua ini gara-gara Viona. Pengganggu sialan itu.

***

Viona menghembuskan nafasnya kasar merasa tak dianggap sebagai sahabat selama ini. Bagaimana mungkin ia tak tahu pernikahan mereka? Kenapa ia tak diberi tahu dari awal? Apa ia tak penting untuk mereka? Air matanya tiba-tiba mengalir tanpa henti. Apa memang ia seseorang yang tak penting bagi siapapun?

"Kau jelek jika menangis," ujar seorang pria tiba-tiba duduk di sampingnya.

Mereka tengah menatap hamparan air laut yang bergulung-gulung indah. Namun, tak seindah perasaannya saat ini.

"Aku tak perduli. Memang apa perdulimu?"

"Aku minta maaf. Aku benar-benar.."

"Cukup Zaf! Cukup!"

Pria itu telah menipunya. Katanya, pria itu mencintainya. Tapi ternyata semua ini otak dari Gibran. Ia sangat kecewa dengan sahabatnya itu. Dan pria ini.. pria ini membuatnya patah hati lagi dan lagi.

"Aku benar-benar menyukaimu."

"Aku tak percaya dengan mulut busukmu!"

Zafer menghela nafas pelan, "Kau tahu.. aku tak benar-benar menerima bayaran dari Gibran."

"Oh ya? Apa kau pikir aku akan percaya?"

"Aku serius akan menikahimu."

"Tidak usah. Aku takkan pernah menikah apalagi dengan anak bau kencur sepertimu."

"Kita hanya berbeda dua tahun. Aku tak jauh berbeda dengan pria seumuran atau lebih tua darimu."

"Tapi kau tahu? Aku tak butuh pembohong sepertimu. Jujur, awalnya kupikir kau benar-benar mendekatiku karena kau memang tulus menyukaiku. Ternyata aku salah.. kau mendekatiku karena kau disuruh Gibran."

"Viona.. dengar! Dengar penjelasanku dulu!"

"Aku tak butuh!"

"Jika kau tak mendengarkanku kau akan tahu akibatnya."

"Apa?? Kau pikir aku takut padamu?!"

"Aku akan menciummu dan membawamu ke ranjangku."

Viona membulatkan matanya tak percaya. What the fuck?!

"Kau akan lemas tak berdaya di bawah kendaliku."

Lagi-lagi pria itu berhasil membuatnya terdiam kaku.

ONE HERZ ✓ (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang