∆UTHOR POV
"Aku tak ingin tidur denganmu," ujar Sha ketus.
"Well, aku hanya punya satu kasur, nyonya."
"Kau yang menawariku menginap dan aku juga harus berbagi kasur denganmu? Yang benar saja," sahutnya tak terima.
"Ck! Ingat Sha! Kita dulu bahkan pernah mandi bersama. Kau tak ingat? Kita telanjang bersama."
Flashback on
"Segar sekali, Bran!" teriak Sha berjingkrak-jingkrak di bawah kucuran shower rumah kakek Gibran.
"Yah, segar," ucapnya tertawa melihat gadis kecil itu bahagia.
Waktu itu mereka masih menggunakan seragam TK. Seragam mereka benar-benar basah sampai ke pakaian dalam. Well, mereka bersekolah di sekolah yang sama. Sha sudah sering mampir ke rumah Gibran dan menginap.
"Bagaimana kalau sekalian mandi?" tawar Gibran.
"Boleh. Kamu dulu atau aku dulu?"
"Bagaimana kalau bersama saja?"
Sha mengangguk polos. Tetap terus menikmati air shower yang menyejukan kulit kepala.
"Kalau begitu buka bajumu," ucapnya membuka celananya dengan cepat. Bagiamana bisa dia mencopoti pakaiannya tanpa tahu malu di depan perempuan?
Sha menutup matanya malu seraya berteriak keras, "Aaaaa! Gibran apa yang kau lakukan?"
"Mandilah apa lagi? Kau ingin mandi dengan baju? Yang benar saja."
"Gibran maluuu!"
"Ck! Di negeraku ini hal yang biasa. Kau bisa membukanya tanpa tahu malu. Well kita kan sahabat jadi jangan malu."
Sha membuka sedikit matanya. Mengintip dari celah jemariku. Anak laki-laki itu benar-benar telanjang bulat. Gibran benar-benar gila!
"Sudahlah santai saja. Mau aku bantu?"
Sha menimbang-nimbang bimbang. Sepertinya tidak salah. Kan mereka sahabat jadi saling percaya satu sama lain. Spontan gadis itu mengangguk. Girbran tersenyum kecil. Membantunya membuka pakaian satu persatu.
"Jangan lihat-lihat ya!" ucap Sha membalikkan badan membelakanginya.
"Iya." Tanpa tahu jika Gibran melihat gadis itu tak berkedip.
Flashback off
Wajah Sha memanas. Well, memang dulu saat masih kecil Sha dan Gibran masih kecil pernah mandi bersama, tidur bersama, bahkan makan disatu sendok yang sama. Tapi, saat itu mereka masih kecil dan wajar bukan?
"Itu berbeda. Kita sudah sama-sama dewasa Bran. Astaga! Dimana otakmu?"
Pria itu memberengut sebal, "Aku alergi debu sofa. Tak mungkin juga tamuku tidur di sofa."
Oh!! Jelas mengada-ada! Dimana ada orang yang alergi debu sofa?
"Tak apa aku tidur di sofa saja."
"Ck! Apa sih susahnya tidur disampingku?" pria itu seperti sangat menginginkannya.
"Masalahnya kita sudah dewasa. Kau dan aku sudah dewasa dan kita sudah melewati masa pubertas, jelas?"
"Aku tak akan aneh-aneh, Sha. Aku janji!"
"Tapi aku tak percaya!"
"Kau harus percaya, Sha."
"Tidak."
"Baiklah aku akan tidur di sofa," ujarnya mengalah.
"Begitu dong."
Pria itu mendengus malas. "Awas saja nanti!"
"Awas apa?"
"Tidak apa. Tidurlah yang nyenyak nyonya Gibran!"
Sha memutar bola mataku malas, "Aku bukan nyonya Gibran."
"Well, tapi sebentar lagi."
"Kau pikir aku akan menikah denganmu begitu?"
Pria itu mengendikkan bahunya, "Ya tentu."
"Astaga Bran! Jangan bercanda! Kau sangat kebelet nikah ya?"
Pria itu tak menjawab. Namun, dibalik tatapannya ada sesuatu yang dia rencanakan. Sesuatu yang besar. Yang akan ia lakukan malam ini.
"Tidurlah Bran! Kau pasti mengantuk."
Jarum jam berdetak terasa lebih lambat. Di sudut kamar seorang pria menatap seorang perempuan yang sedang tidur dengan cantik. Pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Perlahan mendekat seperti singa yang lapar. Ia sudah tak tahan dengan semua ini. Berpura-pura menjadi sesosok yang menyenangkan sangat melelahkan. Ia adalah dirinya. Sosok yang apatis dengan segala hal. Tapi, ia rela merubah dirinya demi perempuan ini. Ia hanya ingin menyenangkan karena ia tahu perempuan ini tak suka dengan sikap dinginnya. Memutuskan ingin menunjukkan dirinya yang asli malam ini. Ia bukan sesosok yang baik tapi tidak terlalu buruk.
Sha bergerak gelisah dalam tidurnya. Tanpa sepengetahuanya seorang pria telah melanggar batas. Mencium bibirnya kemudian menelusuri setiap celah kulitnya. Kini pria itu tersenyum tiba-tiba. Mengusap rambut Sha dengan penuh perasaan. Ia sudah menantikan waktu ini. Waktu dimana ia akan menjadikan perempuan ini miliknya. Seketika ia berubah menjadi ganas. Seluruh tubuhnya terbakar oleh gairah. Terbakar oleh sebuah egoisme. Ia hanya ingin Sha menjadi miliknya. Sampai kapanpun.
"Arggh!" kini kesadaran perempuan itu telah sadar.
"Bolehkah aku memilikimu, sayang?"
"Apa yang kau lakukan padaku hah?"
"Kau akan menjadi milikku selamanya."
"Argh!" perempuan itu menjerit kesakitan.
"Apa yang kau lakukan, Bran?" ujarnya terisak.
Ia sama sekali tak menyangka. Ia tak pernah menyangka sahabatnya akan melakukan ini padanya. Malam ini. Detik ini. Gibran bukanlah sahabatnya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ONE HERZ ✓ (COMPLETED)
Cerita Pendek(Follow sebelum baca) Bagaimana jika salah satu sahabat terbaikmu memperkosamu? Apa yang akan kamu lakukan? --- "Jadilah istriku!" "Jangan gila Bran!" --- Cover by pinterest Buku keempat Big Boss and Me #2 in puisi
