Sha menyapu pemandangan laut yang tenang dan menyegarkan itu dari resort. Angin laut berhembus kencang mengibarkan ujung baju kebesarannya, daster. Rasanya sungguh menyenangkan bisa travelling lagi setelah setahun tak pernah kemanapun.
"Kau suka, sayang?" tanya suaminya sembari memeluknya dari belakang.
Sha tersenyum mengangguk kecil, "Aku sangat suka."
"Aku jadi ingat kau pernah berguling-guling di pasir pantai saat masih sepuluh tahun. Saat kita sedang piknik sekolah."
"Kau masih mengingatnya?"
"Tentu saja. Aku yang menggosok punggungmu kau ingat?"
Sha tertawa kecil mengingat kenangan yang cukup memalukan.
"Tanganmu tak bisa menggapai punggungmu sendiri. Punggungmu gatal-gatal hingga kemerahan."
"Itu sungguh memalukan."
"Tidak.. itu kenangan yang indah sayang. Semua perjalanan hidup kita itu sangat indah."
"Hmmm.. aku penasaran kenapa kau tak tak sekolah saja di Amerika? Kenapa harus disini?"
"Karena aku ingin bersamamu."
Sha mengerjapkan matanya terkejut.
"Alasan macam apa itu?"
"Katakan kalau aku bodoh. Itulah kenyataannya."
Sha terdiam sejenak.
"Kau ingat saat pertama kali kita bertemu?"
Sha mengangguk kecil.
"Penolakan pertama kali seumur hidupku."
Flashback on
Gibran terpaku menatap satu objek tak memperdulikan suasana bising di sekitarnya. Bolamatanya bergerak sesuai gerakan orang itu. Seorang gadis kecil berkepang dua. Gadis itu terlihat melompat-lompat kecil. Rambutnya bergoyang naik turun lucu sekali.
"Kau ingin main bersama mereka, sayang?" bisik Skyla pada anaknya. Dia terus memperhatikan anaknya
yang terus diam menatap satu objek.
Gibran mengangguk kecil.
"Kakak, ayo Mia antar!"
"Amelia juga!"
"Tidak. Aku sendiri saja. Kalian mainlah dengan yang lain!" sahut anak laki-laki itu tersenyum kecil.
Dia hangat dengan adik-adiknya dan keluarganya. Tapi, tidak dengan orang baru. Gibran segera turun dari pangkuan Mommy nya.
"Ada apa dengan Gibran, honey?" bisik William pada istrinya. Skyla mengendikkan bahunya tak tahu.
Jarang sekali anaknya ingin memulai pertemanan pada anak lain. Malah tidak pernah. Karena tanpa meminta pertemanan pun dia punya banyak teman. Gibran berjalan dengan langkah tegas menghampiri gadis yang mungkin seumuran dengannya.
"Hai!" sapa Gibran seperti pria dewasa padahal umurnya masih 6 tahun.
Gadis itu berhenti dari acara mainnya begitupun temannya.
"Hai!" seru kedua gadis itu bebarengan.
"Eh ada anak bule Sha!" pekik temannya histeris.
Gadis itu mengangguk sambil tersenyum kikuk. "Hi! I am sorry. I can not language English. What
can I help? Eh, you.. you need help from me? What you want? Tell me, boy!" ujar gadis itu bahasa Inggris yang masih acak-acakan.
"Kamu ngomong apa sih, Sha?"
Gadis itu menggeleng tak mengerti apa yang dia barusan ucapkan, tertawa kecil.
Gibran ikut tertawa melihat tawa itu. Dia tak pernah tertawa seperti ini selain dengan keluarganya.
"Aku bisa bahasa Indonesia. Namaku Gibran Putera Harrison," ujarnya sambil menyodorkan tangannya pada gadis yang dipanggil Sha.
Kedua gadis itu menutup mulutnya menahan tawa. Aksen Indonesianya kaku sekali. Tapi mereka bisa
memakluminya.
"Namaku Shahinaz Malika. Dan ini temanku Viona Rosalina," ujar gadis itu menerima uluran tangan Gibran.
Gibran terpaku menatap binar mata sejernih kelengkeng itu.
Shahinaz menarik cepat tangannya yang digenggam laki-laki itu. Menyenggol lengan temannya.
"Ayo salaman, Vio!" bisiknya masih bisa didengar Gibran.
Viona menggeleng kecil, "Dia menyeramkan," bisiknya lirih hampir tak terdengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
ONE HERZ ✓ (COMPLETED)
Cerita Pendek(Follow sebelum baca) Bagaimana jika salah satu sahabat terbaikmu memperkosamu? Apa yang akan kamu lakukan? --- "Jadilah istriku!" "Jangan gila Bran!" --- Cover by pinterest Buku keempat Big Boss and Me #2 in puisi
