Sha meneguk ludahnya kasar. Apa? Ciuman?
"Kumohon jangan menolakku lagi!"
Sha menutup matanya rapat ketika pria itu dengan cepat meraih tengkuknya. Hembusan nafas mereka beradu.
"I love you.." gumam Gibran sebelum mencium istrinya.
Sha tak menjawabnya. Hanya sedikit gugup ketika bibir mereka bersentuhan.
"I miss you.." gumam pria itu dengan suara beratnya.
Pria itu sedikit merapatkan tubuhnya pada istrinya. Menciumnya sedalam dalamnya seakan melepaskan semua dahaga selama ini yang ia tahan. Ia tahu.. obat dari semua obat amarah adalah istrinya. Ciuman hangat dari bibir manis itu. Sha terlihat lebih rileks. Ia bisa merasakannya ketika ia mengusap punggungnya.
"Balas aku!" bisiknya menatap dalam mata istrinya.
Tanpa sadar mereka larut dalam ciuman mereka. Gibran mendorong tubuh wanita itu ke atas sofa. Tubuhnya tiba-tiba menjadi panas. Ia sudah tak memiliki akal sehat lagi. Wanita ini benar-benar membuatnya gila.
"Kupikir cukup."
Sha terengah-engah kecil. Pria itu sangat agresif. Ia tak menyangka hampir saja.. hampir saja mereka melakukan yang lebih.
"Aku akan menunggumu siap untuk bercinta denganku."
Sha mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tak sanggup menjawab karena ia tak tahu jawabannya.
"Kuharap suatu hari kau siap, sayang. Maafkan papa jika sedikit menekanmu," ujarnya mencium perut istrinya.
Sha memejamkan matanya rapat. Ia sebenarnya malu. Ada perasaan kesal ketika pria itu berhenti.
***
"Aku akan memberitahukan hubungan kita pada orangtuamu yang sebenarnya."
"Ap-apa?"
Mereka memang belum memberitahu hubungan mereka. Orangtua Sha hanya tahu jika anaknya tinggal sendiri di apartemen pemberian Gibran. Orangtuanya bahkan tak pernah menjenguknya. Mereka hanya akan menelepon jika rindu. Yeah.. kesibukan mereka kadang membuatnya sangat kesepian.
"Tapi.."
"Tak ada yang bisa disembunyikan. Mommy dan Daddy bahkan sudah tahu hubungan kita sebenarnya."
"Tapi Gibran.. aku.. aku.."
"Apa?"
"Aku tak ingin membuat mereka shock."
"Shock karena? Orangtuamu bahkan tahu jika aku menyukaimu dari dulu."
"Karena aku hamil dulu."
"Aku akan memberitahukan yang sebenarnya. Aku yang salah."
"Tapi.. apa perlu sekarang?"
"Tentu saja."
"Eh... Tapi."
"Takkan kita menunggu sampai anak kita lahir. Mereka pasti akan lebih terkejut."
Sha menundukkan kepalanya cemas, "Kau benar."
"Tidak apa.. tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku akan mengurusnya."
Sha mengangguk kecil. Pandangannya melemas. Ia sebenarnya juga sudah lelah menyembunyikan kebenaran ini.
Gibran mengusap kepala istrinya lembut. Jika saja wanita itu juga mencintainya. Pasti hidupnya akan sempurna.
"Gibran.. "
"Ya?"
"Apa.. apa aku boleh minta sesuatu?"
"Tentu saja, sayang. Apa itu? Biar aku belikan."
Sha menghela nafasnya pelan. Ia sebenarnya malu dengan permintaannya sendiri.
"Tolong.. tolong peluk aku!"
"Hmm?" apa ia tak salah dengar? Istrinya memintanya untuk memeluk.
"Aku tak tahu kenapa. Aku hanya ingin pelukanmu."
Tanpa disuruh dua kali pria itu sontak memeluknya. Erat. Sangat erat. Gibran tersenyum sendiri mendengar permintaan istrinya yang menggemaskan. Memang untuk pertama kalinya Sha meminta untuk dipeluk.
"Terimakasih. Aku merasa lebih tenang."
"Kenapa sayang? Ada apa denganmu hmm?"
"Perasaanku hanya sedikit gundah. Akhir-akhir ini aku merasa cemas. Aku tak tahu kenapa."
"Hmm.. kita akan honeymoon sebentar lagi. Semoga saja, kau tak cemas lagi. Mood Ibu hamil memang harus dijaga bukan?"
Tubuh Sha tiba-tiba menegang. Honeymoon?
"Dimana?"
"Di suatu tempat yang indah. Aku sudah memesankan tempatnya."
Gibran tersenyum kecil. Semoga saja ia bisa mendapat jatah.
KAMU SEDANG MEMBACA
ONE HERZ ✓ (COMPLETED)
Truyện ngắn(Follow sebelum baca) Bagaimana jika salah satu sahabat terbaikmu memperkosamu? Apa yang akan kamu lakukan? --- "Jadilah istriku!" "Jangan gila Bran!" --- Cover by pinterest Buku keempat Big Boss and Me #2 in puisi
