Mata Sha berputar-putar saat membawa kopi untuk suaminya. Ia baru saja mendengar berita yang cukup mengganggu pikirannya. Ia hanya mendengarnya dari para karyawan. Mereka membahas mengenai pesta bisnis yang akan diadakan akhir pekan ini. Namun, kenapa suaminya belum mengatakan padanya?
"Silahkan diminum!"
"Terimakasih, sayang."
Sha kembali duduk ke tempat semula. Menimbang-nimbang apakah ia bertanya atau tidak.
"Emm.. Bran.."
"Ya, sayang?"
"Apakah akhir pekan memang ada pesta bisnis?"
Pria itu mengangkat wajahnya, "Oh iya.. aku lupa memberitahumu. Terimakasih sudah mengingatkanku. Kita akan menghadirinya jika kau ingin."
Sha sebenarnya keberatan untuk ikut tahun ini. Tapi, tahun-tahun sebelumnya ia memang selalu ikut pesta semacam ini. Demi menemani pria itu. Saat masih menjadi sahabat sejati. Namun, bukankah ia kini menjadi istri CEO perusahan ternama. Tidakkah ia wajib menghadirinya?
"Aku tahu kau tak suka mereka menanyaimu aneh-aneh. Kita tak usah ikut saja."
"Jangan! Maksudku, kau pemilik perusahaan, Bran. Bukankah harus datang?"
"Tidak jika tidak bersama istriku," pungkasnya.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu."
"Jika tidak ingin tidak apa, sayang. Aku tak memaksamu untuk hadir."
"Aku mau ikut, Bran."
"Baiklah, jika berubah pikiran bilang saja, okay?"
"Oke."
Beberapa detik kemudian Sha langsung berubah pikiran. Daripada ragu lebih baik tidak usah ikut saja sekalian.
"Bran.."
"Ya?"
"Kupikir aku tidak jadi ikut saja."
"Kenapa?" sudah ia duga pasti istrinya akan berubah pikiran cepat atau lambat.
"Pesta tidak terlalu baik untuk ibu hamil sepertiku."
"Yeah.. kupikir juga begitu."
"Aku minta maaf," ia sebenarnya tak enak.
"Tidak usah minta maaf, sayang. Dari awal aku juga tak tertarik dengan pesta itu."
Sha mengangguk pelan.
"Kita ganti dengan acara honeymoon."
"Honeymoon?"
Pria itu mengangguk, "Yeah, kurasa kita perlu refreshing."
"Tapi.."
"Jika kau mau saja. Aku tak memaksa."
"Kapan?"
"Kupikir secepatnya. Besok?"
"Be-besok? Apa kau yakin?"
Pria itu mengusap dagunya, "Minggu besok saja. Kita akan honeymoon."
"Kemana?"
"Rahasia.."
Raut wajah Sha sedikit khawatir. Apakah ia siap honeymoon?
"Itu kejutan."
Gibran tersenyum mendengar istrinya menyetujuinya. Akankah mereka ehem..
"Tapi, aku sedang hamil Bran. Aku tak bisa pergi jauh."
"Di kota ini banyak tempat menarik. Tenang saja, aku sudah memikirkannya."
Sha mengangguk. Dalam dirinya ia sedikit gugup dengan honeymoon. Akankah mereka..? Wanita itu menggeleng cepat. Tentu saja jika pria itu menginginkannya.
***
"Kenapa denganmu, Bran?" tanya Sha pada suaminya yang sepertinya sedang banyak pikiran.
Pria itu terdiam memandang layar laptop. Mengelus keningnya frustasi. Sha baru saja selesai mandi namun ia sedikit mendengar percakapan suaminya sedang memarahi seseorang di telepon. Ia sangat penasaran ada masalah apa memangnya?
"Tidak apa."
Sha menghela nafasnya pelan. Menyentuh bahu pria itu perlahan.
"Kenapa Bran? Kau bisa cerita padaku semuanya," ujar Sha lembut. Pria itu terkadang tak ingin membuat istrinya berpikir berat.
Gibran mendengus kasar menatap istrinya sayu, "Tentang Amelia.."
"Amelia? Kenapa dengan adikmu?"
"Aku diberitahu Daddy dan Mommy jika Amelia.."
Sha mengerutkan keningnya menunggu pria itu melanjutkan ceritanya.
"Katanya dia akan dilamar oleh seorang pria."
"Apa?! Siapa?!"
"Namanya Kenan."
KAMU SEDANG MEMBACA
ONE HERZ ✓ (COMPLETED)
Cerita Pendek(Follow sebelum baca) Bagaimana jika salah satu sahabat terbaikmu memperkosamu? Apa yang akan kamu lakukan? --- "Jadilah istriku!" "Jangan gila Bran!" --- Cover by pinterest Buku keempat Big Boss and Me #2 in puisi
