twenty three

1.8K 289 24
                                        

Setelah selesai acara kelulusan, tepatnya di sore hari, Gihan dan ketiga temannya langsung menuju ke Bandara bersama keluarga Victor.

"Take Off nya kapan?" tanya Jein habis dari toilet.

"Jam 5." Jawab Victor melihat jam penerbangannya.

"Sebentar lagi ya," Jein memeluk Victor sambil memberi nasihat untuk adiknya jika sudah berada Di Negara orang.

Setelah Jein melepaskan pelukannya, kini giliran Ibu Yona yang memeluk Victor sambil mengeluarkan air matanya.

"Jangan menangis." Ucap Victor pada Ibunya yang tak henti-hentinya menangis.

Victor melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata Ibunya dengan lembut.

"Kamu kalau sudah sampai disana kabarin Ibu ya. Terus kabarin Ibu setiap harinya! jangan pernah berhenti untuk ngabarin Ibu!" Yona mengusap lembut pundak Putranya. Rasanya berat melepaskan Victor sendirian disana, tapi ini perintah Suaminya yang tidak bisa di tolak.

Albert menarik Yona agar berada di rangkulannya. "Saya keluar negeri kamu tidak seperti ini." Ucapnya merajuk.

Yona melirik Albert dengan sinis. "Karena kamu orang asli sana, sedangkan Victor dari kecil disini." Gerutunya.

Albert menatap gemes Istrinya, lalu pandangannya beralih ke Victor. Albert menghampiri Victor untuk berbisik. "Belajar yang giat, jangan hanya fokus ke 1 hal saja. Saya percayakan bisnis saya ke kamu, cepat kembali agar bisa menikah dengan Gihana." Albert menepuk pundak Victor untuk memberi semangat.

"Kalau kamu lama kembalinya, siap-siap Gihana mungkin akan berpaling." Ancam Albert.

Victor terdiam. Dia bingung, apa dia bisa disana? sedangkan ilmu yang dia pelajari dari Ayah-nya saja masih kurang.

Bagaimana kalau dia terlalu lama disana, dan Gihan tidak bisa menunggunya, apa yang di katakan Ayah-nya tadi bakal terjadi?

Terlalu lama terdiam, tanpa sadar Ayah Albert sudah kembali dan berdiri disamping Istrinya,dan sekarang di depan Victorada Gihan dengan ekspresi yang sendu.

Gihan menangis, ia memeluk erat tubuh Victor, enggan berpisah hari ini juga, terlalu cepat bagi Gihan.

"Sayang." Ucap Victor dengan nada pelan.

Tubuh Gihan bergetar, dengan peka Victor membalas pelukan Gihan.

"Sejujurnya aku nggak mau jauh-jauh sama kamu Vi." Isak Gihan.

Victor semakin bingung, jujur ia belum siap meninggalkan Gihan. Siapa nantinya yang jaga Gihan, yang mendengarkan keluhan Gihan ketika cewek itu ada masalah.

Victor melepaskan pelukan Gihan, ia menatap mata Gihan yang terlihat bengkak, bahkan make up Gihan di area mata sudah terlihat kacau.

Victor tersenyum lembut sambil memegang kedua pundak Gihan. "Sebisa mungkin nantinya saya berusaha tidak akan lama disana."

"Sepeninggal saya nanti, kamu harus wujudkan cita-cita kamu ya, kamu harus lakukan semua hal yang kamu ingin, saya akan tetap dukung kamu dari jauh."

Albert menepuk pundak Victor pelan sambil menunjukkan jam tangannya, ternyata sebentar lagi jam 5, yang artinya Victor akan berangkat.

Victor mengangguk, "Ayah, tolong jaga Gihan dan Ibu." Pintanya.

Setelah bersalaman dengan kedua orangtuanya, Victor mengusap lembut rambut Gihan.

Pacarnya cengeng, tak berhenti menangis sedaritadi.

Victor berjalan menuju waiting room. Namun baru sampai di depan langkahnya terhenti karena tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.

Rupanya Gihan berlari mengejarnya. "Tolong terus kabari aku, hati-hati disana. Aku juga nantinya akan berusaha buat mewujudkan impian yang aku mau, jadinya kita sama-sama sukses dimasa depan."

Victor tersenyum hangat, ia melepaskan lingkaran tangan Gihan yang berada di perutnya. Victor membalikkan badannya menghadap Gihan.

"Saya senang mendengarnya. Jaga diri kamu baik-baik ya Gihan, saya berangkat dulu." Victor mencium dahi Gihan, lalu turun ke pipi kanan Gihan.

"Senyum. Saya mau lihat senyum cantik kamu." Victor menyentuh pipi Gihan.

Gihan tersenyum tipis, ia melambaikan tangannya ketika Victor sudah memasuki waiting room.

Gihan menghela nafas, pikiran-pikiran kotornya harus di hilangkan.

Gihan membalikkan badannya, kembali menghampiri Ayah Albert dan Ibu Yona.

Kemana ketiga teman Gihan? ternyata sedaritadi Kajoya, Jenna, dan Gigi tengah mencari perhatian ke Abangnya Victor.

"Kak," panggil Jenna.

Jein menoleh, walaupun sudah pusing dengan ketiga teman Gihan karena terus mengoceh, tapi ia harus tetap menampilkan senyumannya, agar menghargai.

"Mata aku akhir-akhir ini kenapa ya? liat orang lain tuh pasti keliatan muka Kakak terus. Bisa periksakan nggak Kak? biar aku atur jadwal." Ucap Jenna sambil menyentuh matanya yang sebelah kanan.

Jein tersenyum tipis, "maaf. Saya Dokter bedah, bukan Dokter mata." Ucapnya dengan lembut.

Kajoya, Gigi mengulum bibirnya menahan tawa. Jenna goblok banget, batin mereka.

Gihan, Kajoya, Jenna, dan Gigi sudah pulang dari Bandara.

Gihan terduduk di kasurnya, ia harap Victor selamat sampai tujuan.

"Udah napa Han, galau mulu." Sindir Kajoya.

"Tau tuh, mending pikirin masa depan lo." Gigi duduk di samping Gihan.

"Cara daftar jadi model gimana Jen." Tanya Gihan pada Jenna yang sedang mengerucutkan bibirnya, mungkin kesel sama Jein.

"Nggak tau gue Han. Entaran aja deh jadi modelnya, lagi males gue." Jenna membaringkan badannya, ia memeluk erat guling sambil menyembunyikan wajahnya.

"Idih, sok-sokan entaran, kayak diterima aja lo berdua." Cibir Kajoya.

Gihan hanya memutar bola matanya, males ladenin ucapan Kajoya.

Gihan beranjak dari kasurnya, lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Gue mandi dulu, mau cari makan." Ucapnya.

Kajoya baring di samping Jenna. "Emang jodoh Kak Jein itu gue Jen."

"BACOT!" umpat Jenna, lalu menutup telinganya.

Gigi menghapus make up nya di meja rias. "Yang bener gue doang sih, ngincar Ayahnya."

"Bego! saingan lo Ibunya." Tukas Kajoya.

✦✦✦

|Baru update hehehe, soalnya akhir akhir ini sibuk banget.|

|Terus aku bingung juga lanjutin cerita ini gimana, soalnya victor nggak ada.|

|

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
APPROPRIATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang