forty-five

1.2K 143 25
                                        

"Kamu kalau mau ngetawain aku, ketawa aja Kak."

"Kenapa tiba-tiba?"

"Aku sekarang lebih ke nggak tau malu ya di hadapan Kakak. Kakak masih baik sama aku, nemenin aku pulang, padahal dulu aku yang ninggalin Kakak. Kakak kalau mau marah aja Kak, marahin aku karena perbuatan aku dulu, jangan kayak gini, aku jadinya makin merasa bersalah."

Jein berdiri dengan kening yang mengernyit, "kamu bicara apa Jenna? kenapa masih mikirin hal seperti itu di saat kondisi kamu kayak gini? yang kamu fokusin sekarang itu do'ain Mami kamu, jangan mikirin hal yang tidak penting."

Jein memasukkan ponselnya ke saku celananya, "sudah tidak ada yang perlu di bawa lagi kan?" tanyanya sambil mengambil tas yang di pegang Jenna.

"Eh aku aja yang bawa Kak." Jenna mencoba mengambil alih lagi tas yang berisi baju Maminya di tangan Jein.

Jein mencegah tangan Jenna. "Tidak apa-apa Jen, biar saya saja. Masih ada yang kamu perlukan lagi dirumah?" Tanyanya sekali lagi.

Jenna menjawab dengan gelengan. "Nggak ada Kak, kita langsung kerumah sakit aja ya, perasaan aku nggak enak."

Jein menarik tangan Jenna untuk keluar dari rumah lalu masuk ke dalam mobil. Sambil menunggu Jenna mengunci pintu rumahnya, Jein mendapatkan telpon dari seorang suster yang ada disana.

Drttt drtt

"Iya kenapa Zya?"

"Dok pasien atas nama Ibu Sera mengalami kejang-kejang setelah siuman. Beliau terus memanggil nama 'Jenna Jenna'. Kondisinya juga tiba-tiba kritis Dok."

"Saya lagi dalam perjalanan kerumah sakit. Tunggu sebentar."

Jein menutup teleponnya, ia melihat Jenna yang juga memandangnya dengan wajah panik. "Kenapa Kak?"

"Kamu sudah ngunci pintu?" tanya Jein.

"Sudah, Kak Mami aku kenapa?"

"Mami kamu sudah siuman, tapi mengalami kejang-kejang. Kita langsung kerumah sakit ya."

Badan Jenna langsung lemas, bahkan ia memegang gagang pintu untuk membantunya tetap berdiri.

"Ayo." Jein menarik tangan Jenna untuk segera masuk ke mobil. Jein langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh.

Setelah sampai dirumah sakit, keduanya langsung berlari ke ruang inap yang di tempati maminya Jenna.

Darah Jenna mendesir melihat tubuh Maminya yang kejang-kejang.

"Dok, tekanan darah pasien tiba-tiba tinggi, denyut nadinya juga melemah, nafasnya tidak teratur." Ucap suster itu ketika Jein datang.

Jein langsung memeriksa jantung Mami Jenna menggunakan Stetoskop, setelah itu ia memeriksa nadi yang ada di pergelangan tangan dan di leher.

Jenna mengigit jarinya sendiri, badannya seketika bergetar melihat raut wajah Jein yang menjadi panik.

"Darah kepalanya bocor akibat banyak pergerakan." Gumam Jein.

Jein menghampiri Jenna yang terdiam di pojok kamar inap. "Jen kamu bisa tunggu di luar sebentar?" ucapnya lembut.

Jenna menggeleng pelan, "aku mau liat Mami Kak." Jenna melihat semua badan Maminya di pasang alat-alat yang ia tak ketahui namanya.

APPROPRIATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang