thirty-three

1.8K 288 36
                                        

Di ruangan tempat Gihan di rawat saat ini cuma ada Ibu model. Sedangkan teman-teman Gihan yang lainnya sudah pada pulang kerumah masing-masing.

Dan tadi ada Orang tua Victor juga yang jenguk Gihan, tapi sudah keluar sama Orang tuanya Gihan.

Victor? entahlah, Gihan tak tau lelaki itu sedang pergi kemana.

"Lissa kayaknya bakal jadi Brand Ambassador Celine. Soalnya pihak sana menghubungi saya untuk bertemu dengan Lissa."

"Kamu sama Rosie sabar aja ya. Nanti juga bakal ada Brand besar yang narik kalian buat jadi bagian dari mereka." Sambung Ibu.

Gihan nggak mendengarkan ucapan Ibu, ada hal lain yang sedang ia pikirkan.

"Bu, pacar aku ngajak buat ke jenjang yang lebih serius." Ungkap Gihan.

"Aku mau, tapi─‌─‌emang gapapa aku nikah? secara aku baru aja menata karir."

Ibu menatap Gihan, "kenapa emangnya kalau kamu nikah? gapapa lah Han. Kamu takut setelah nikah kamu nggak bisa jadi model lagi?"

Pertanyaan Ibu benar, itu yang Gihan pikirkan sedari tadi. Bagaimanapun juga dia ingin seperti Jenna yang sudah menjadi Ambassador besar.

Tapi di satu sisi Victor ngajakin dia nikah, yang mana itu juga salah satu impian Gihan memiliki seutuhnya lelaki yang bertanggung jawab seperti Victor.

"Iya Bu." Cicit Gihan.

"Ya ampun Gihan, gapapa lah. Kita ini model Indonesia, sudah punya status ataupun belum tetap bisa jadi model asalkan kamu bisa menjaga tubuh kamu biar tetap jadi ideal." Jelas ibu.

Gihan rasanya lega banget mendengar penjelasan ibu. Kini ia nggak ragu lagi untuk melangkah lebih jauh bersama Victor.

Sementara Gihan dan Ibu lagi berbincang di ruang inap, sedangkan Victor bersama orang tuanya lagi di kantin rumah sakit──ada Orang tua Gihan juga disini.

Sebelumnya sewaktu Gihan masih mengikuti ujian untuk menjadi model, Victor meminta Ayah dan Ibunya untuk menjalin hubungan dengan kedua Orang tua Gihan.

Dan di saat Gihan pergi ke Amerika, di hari ketiga Victor mendatangi rumah kekasihnya, izin untuk meminta restu menikahi putri mereka satu-satunya.

Tentu saja Gihan tidak tau akan hal itu.

"Bagaimana, sudah selesai mindahin semua karyawan?" tanya Albert.

"Sebentar lagi Ayah." Jawab Victor, matanya terus berfokus pada laptop, melihat data karyawannya.

"Dekorasi pernikahannya gimana Vic? apa saya perlu bantu?" tanya Papa Gihan.

Mama Gihan sama Ibu Victor malah asik sendiri mengobrol. Mereka sebentar lagi besanan, Ibu yang akan dapat menantu baik seperti Gihan, sedangkan Mama yang bakal dapat menantu bertanggung jawab, dan royal seperti Victor.

Victor menggeleng menatap Papa Gihan. "Tidak usah Pa, semuanya sudah beres. Saya tinggal menunggu jawaban dari Gihan."

Papa Gihan benar-benar kagum sama Victor. Dia bahkan belum membantu sedikitpun dekorasi pernikahan putrinya.

Kedua Orang tua Gihan dan Victor hanya terima beres, karena Victor sendiri yang mengurusnya. Padahal dalam seminggu ini ada dua yang dia urus, bisnisnya sama pernikahan dia.

APPROPRIATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang