thirty seven

1.6K 257 59
                                        

Hari besoknya pun tiba, Gihan dan Victor sudah pulang dari Vila itu. Dan sekarang mereka berada di rumah baru keduanya, ada Ayah dan Ibu juga disini. Sedangkan Orang tua Gihan, lagi-lagi mereka harus pergi keluar kota karena kerjaan.

Ayah Ibu datang setelah mereka selesai berberes. Gihan di temenin Ibu membuat makanan di dapur, sedangkan Victor sama ayahnya lagi berbincang.

"Ayah, saya ada calon istri buat Jein." Victor memulai topik obrolan.

"Siapa?" Albert pun tertarik dengan topik putra keduanya.

Victor mengambil ponselnya, lalu menunjukkan 1 foto ke Ayahnya.

Albert mengerjapkan matanya berkali-kali, memastikan apakah ia salah lihat dengan foto yang ditunjukkan oleh Victor

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Albert mengerjapkan matanya berkali-kali, memastikan apakah ia salah lihat dengan foto yang ditunjukkan oleh Victor.

"Gihana calon istri Jein?"

Victor tersentak, lalu menatap tajam Ayahnya.
"Ayah gila? Gihan istri saya!"

Ayah Albert memutarkan bola matanya, "kamu yang gila. Coba lihat siapa foto yang kamu kasih itu bodoh!" Albert membalikkan ponsel Victor, supaya anaknya bisa lihat.

Victor terkekeh, rupanya dia salah menunjukkan foto. Tapi di lihat-lihat, foto itu gihan nampak imut. "Lucunya my baby."

Sekarang Victor menunjukkan lagi satu foto, kali ini dia lebih teliti, takut salah kasih.
"Ini Ayah, foto wanitanya."

Albert berdecak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Albert berdecak. "Kasih saya foto jangan yang ada Gihana nya, tak salah saya berpikir kalau istri kamu juga ingin menjadi calonnya Jein!"

"Saya tidak mungkin menyimpan foto wanita lain selain istri saya, Ayah. Makanya yang saya tunjukkan ini ada my baby." Victor mendengus.

Albert mengambil ponsel Victor, "ini namanya Jenna bukan?" ia menunjuk foto yang ada di sebelah Gihan.

"Iya." Victor mengangguk.
"Dia wanita baik. Saya berharap dia yang akan menjadi istrinya Jein. Percaya sama saya Ayah, pilihan saya tidak akan pernah salah."

APPROPRIATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang