thirty one

1.8K 328 84
                                        

Akhirnya ke-4nya pulang juga ke Indonesia. Mereka berangkat subuh-subuh banget, soalnya pesawatnya take off pada jam itu.

Seharusnya setelah sampai, Gihan bersama ke-3 temannya yang lain pergi ke Apartemen untuk istirahat, tapi Ibu malah menelpon Gihan, dan Gihan disuruh pergi kesana sekarang juga.

Alhasil di sinilah Gihan.

"Kenapa Bu?" tanya Gihan.

Dia bawa koper ke dalam ruangan Ibu.

"Besok kamu ada jadwal pemotretan sendiri. Eh bukan sendiri sih, tapi sama orang." Ujar Ibu.

Gihan kaget, dia nggak nyangka dapat job secara individu secepat ini.

"Besok, aku aja?" tanyanya sekali lagi untuk memastikan.

Ibu mengangguk. "Ouh iya nanti siang tolong infokan sama Jenna buat kesini ya. Ada yang mau saya kasih tau."

Gihan mengangguk, "kalau gitu, aku boleh pulang sekarang?" badan Gihan sudah lelah banget dan ingin secepatnya merebahkan dirinya ditempat yang baru, pasti disana kasurnya empuk, Gihan jadi tak sabar.

"Iya pulang aja, istirahatkan diri kamu. Jangan lupa kamu ada jadwal pemotretan besok, nanti saya kasih tau tempatnya."

"Ah saya lupa. Gihan selamat ya atas kesuksesan kamu sama yang lain di Amerika. Nggak nyangka loh secepat ini nama kalian ber-4 naik."

Gihan udah berada di Apartemen, Apartemen yang di sediakan untuk mereka.

Gihan merebahkan dirinya di kasur berwarna abu-abu. Dia males banget bersih-bersih, semua badannya pada pegal.

"Ibu bilang apa Han?" jenna tiba-tiba masuk ke kamar mengejutkan Gihan.

Ah, Gihan mendengus sebal, ia baru ingat mereka saling tau password Apartemen masing-masing, makanya bisa asal masuk.

"Besok gue ada jadwal pemotretan." Ujar Gihan duduk di tepi kasur, diikuti Jenna.

"Serius??? wah udah punya jadwal sendiri aja. Sama siapa Han?" tanyanya.

Gihan mengangkat kedua bahunya, tanda tak tau. "Nggak dikasih tau Jen."

Jenna mengangguk lalu menghampiri koper Gihan yang tergeletak.

"Mau gue bantuin rapiin nggak? kebetulan gue udah rapiin semua barang gue."

Tawaran Jenna sungguh menggiurkan, namun Gihan lagi pengen di tinggal sendiri disini untuk istirahat. "Nggak usah Jen, nanti biar gue aja."

"Ouh iya, tadi Ibu nitip pesan ke gue, katanya nanti siang lo diminta buat ke ruangan dia." Tambah Gihan.

Gihan mengambil ponselnya di tas, untuk membuka chattan dia bersama Victor.

Gihan berdecak, Victor tak membalas chat Gihan, lagi dan lagi.

Dari hari kedua Gihan berada di luar Negeri, respon Victor sudah mulai lambat dan singkat. Dihari ketiga sampai Gihan pulang ke Indonesia, chatnya belum dibalas juga.

Victor lupa janjinya?

"Menurut gue, Victor berubah Jen." Gihan menatap layar ponselnya dengan tatapan lesu.

Jenna menoleh, "berubah gimana?"

"Waktu gue video call-an sama dia, dia kan udah janji bakal ngabarin gue sesibuk apapun. Sekarang malah lupa sama janjinya, dia nggak online dari beberapa hari yang lalu." Jelas kali Han.

APPROPRIATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang