twenty four

1.8K 308 37
                                        

Sudah hampir tengah malam, tapi Victor belum memberikan kabar juga.

"Victor masih di pesawat atau udah sampai ya? lama banget soalnya." Gihan terus melihat layar ponselnya, berharap Victor memberinya kabar.

"Dari sini ke London 17 jam Han, palingan besok dia sampai." Sahut Gigi.

"Kok lama banget ya sampai 17 jam-an, padahal dekat doang kok." Gihan mengambil susu, lalu meminumnya.

"Tolol! lo pikir dari Bandara ke rumah gue." Sahut Kajoya dengan nada yang sewot.

Lalu keadaan menjadi hening, dan tak ada obrolan apapun. Sampai Kajoya yang awalnya asik bermain game make up di ponselnya, tiba-tiba terbangun dan mengejutkan ketiga temannya yang sibuk dengan pikiran dan kegiatan masing-masing.

"Apasih anjing! kaget gue lo tiba-tiba bangun, kayak kerasukan aja." Jenna kesal sampai memukul punggung Kajoya.

Kajoya memasang ekpresi wajah yang sangat serius, dan berkata sesuatu, membuat Gihan menjadi tersedak oleh minumannya sendiri.

"Gimana kalau Victor selingkuh Han, terus dia nggak mau pulang. Akhirnya dia dan cewek barunya hidup bahagia disana, melupakan lo yang galau disini."

Gara-gara ucapan ngaurnya sendiri, Kajoya jadi mendapatkan pukulan bantal yang bertubi-tubi dari Gihan.

"Lama-lama gue jahit juga mulut lo, Joy!"
Gihan menatap sinis Kajoya yang malah cengengesan.

Belum 1 hari penuh ia ditinggal oleh Victor, malah di buat overthinking sendiri sama temannya. Gihan menggelengkan kepalanya, berusaha tak memikirkan ucapan Kajoya.

Jenna berbaring di kasur Gihan, menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan pengganti bantal. Ia menatap langit kamar Gihan sambil tersenyum sendiri. "Keluarga Victor itu keluarga idaman banget ya, cemara."

"Gue lagi ngebayangin kalau gue masuk ke dalam keluarga sana sebagai Istrinya Kak Jein, apa nggak makin cemara keluarganya kalau kedatangan gue sebagai menantu?" senyuman Jenna semakin melebar.

Karena Jein, Jenna jadi berkeinginan untuk menjadi Dokter, agar bisa setara.

Tetapi janjinya bersama Gihan untuk berjuang menjadi model nggak mungkin langsung ia tinggalkan.

Alasan Jenna ingin menjadi Dokter ialah, kali aja dia bisa dekat dengan Jein.

Jenna melihat bahwa Jein itu tipe orang yang lemah lembut, friendly, tapi susah kalau di ajak berhubungan, makanya Jenna jadi tertantang soal itu.

"Yang ada si Victor langsung jadi broken home pas tau lo masuk dalam keluarganya." Celetuk Kajoya yang membuyarkan khayalan si Jenna.

"Halah bilang aja lo iri haluan gue udah sampai sana." Cibir Jenna.

Kajoya tersenyum miring, "sorry ya beb, haluan gue malah lebih."

"Gue malah udah mikirin kalau gue punya anak sama Kak Jein, terus kami bahagia bersama keluarga kecil kami. Terus Kak Jein bilang dengan lembut ke gue, sayang jangan terlalu capek, aku khawatir." Lalu Kajoya berteriak karena ucapannya sendiri. Ia menutup wajahnya yang memerah sambil berdiri dan ber loncat-loncat, membuat kasur Gihan menjadi bergetar.

Gigi yang tidurannya di ujung banget, menjadi terjatuh karena getaran hebat yang di akibatkan Kajoya.

Gigi berdecak, lalu berdiri dan menatap tajam Kajoya yang lagi beradu mulut dengan Jenna. Kajoy bangsat!, batinnya.

Gigi menaiki kasur Gihan, ia mengambil guling bersiap untuk memukul. Satu pukulan untuk Jenna, dan satu pukulan untuk Kajoya.

"Berisik!"
"Lo berdua capek-capek rebutin Jein, kalau ternyata yang jadi jodohnya gue gimana?!"

APPROPRIATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang