forty

1K 171 13
                                        

"Gihan, saya berangkat dulu ya."

"Ya."

Victor yang baru saja mau berangkat kerja, mengundurkan niatnya sebentar untuk menanyakan keadaan istrinya yang dari tadi hanyar termenung disofa.

Setelah melepas sepatunya kembali, Victor menghampiri Gihan. "Hey, kenapa? dari sarapan pagi tadi kamu banyak diamnya, tidak seperti biasanya."

"Nggak papa kok."
"Kamu nggak jadi berangkat kerjanya?" Gihan menatap Victor yang berada di sampingnya.

"Gimana bisa saya tenang pergi bekerja di saat saya tidak tau apa yang membuat kamu jadi seperti ini. Coba cerita, ada yang ganggu pikiran kamu?"

Gihan menggeleng, "nggak papa Vi, mending kamu berangkat aja, nanti telat loh."

Victor mendengus pelan, ia memegang kepala Gihan dengan kedua tangannya agar mau menatapnya. "Cerita." Ucap Victor penuh dengan tekanan.

"Jadi gini,"
Sebenarnya Gihan sangat ragu untuk bercerita kepada Victor, tapi dirinya tau pasti suaminya itu akan memaksa sampai Gihan mengeluarkan suara untuk bercerita.

"Kamu kan tau aku suka sama orang Korea gitu. Nah ada satu orang yang sangat aku sukain gitu, terus aku juga ikut shipper dia yang rame. Kamu tau shipper nggak?" tanya gihan.

Victor menggeleng pelan, tanda ia tak mengerti.

Gihan mulai menjelaskan pertanyaan yang ia lontarkan pada Victor tadi, "Shipper adalah mereka yang memasangkan idola mereka dalam suatu hubungan yang romantis. Nah aku termasuk dalam itu Vi, istilahnya couple gitu lah."

"Terus?"

"Terus ternyata shipper aku itu nggak nyata Vi, idola yang aku jodohin sama seseorang itu ternyata nggak pacaran, malah di ciduknya sama yang lain. Aku sedih banget Vi." Gihan menelungkupkan kepalanya ke bantal yang ia peluk.

Victor menghela napas pelan, ternyata yang bikin istrinya sedaritadi banyak diam adalah itu?

"Yang harus kamu sedihin itu apa Gihan? kamu sendiri kan yang jodohin idola kamu dengan seseorang, lalu ketika kamu tau ternyata hubungan mereka aslinya tidak nyata, kamu jadi sedih?" Victor mengulang ucapan Gihan.

"Tapi keduanya kayak real gitu Vi, banyak kode-kode yang mereka keluarkan, jadi aku ngiranya mereka pacaran."

"Itu hanya haluan kamu aja sayang. Kalau mereka bersama juga belum tentu mereka bahagia, atau idola kamu belum tentu juga suka sama orang yang kamu jodohin, sebaliknya pun begitu. Jodoh mereka bukan kamu yang ngatur. Kamu sedih kebawa perasaan gini karena ekspetasi kamu terhadap idola kamu itu nggak terwujud."

Rasanya Gihan ter skakmat dengan ucapan Victor.

Victor benar, kehidupan artis itu tidak perlu di khawatirkan.

Gihan hanya bisa menghela napas mendengar penjelasan dari suaminya. Emang salah nya juga sih yang penasaran dengan kehidupan idola yang dia sukai, apalagi sampai masuk ke dalam privasi kehidupannya.

"Iya-iya aku paham, aku minta maaf jadi sedih gara-gara itu ya." Lirih Gihan.

Victor tersenyum tipis lalu mengusap lembut pipi istrinya. "Masih sedih sayang?" tanyanya.

Gihan yang ditanya hanya menggeleng. Arah mata Gihan tanpa sengaja melihat jam dinding.
"Ya ampun Vi, ini udah jam berapa? kamu telat masuk kerja." Gihan pun menjadi panik.

Karena ucapan istrinya Victor lantas melihat jam yang ada di tangannya.
"Saya berangkat dulu ya, kamu kalau kesepian ajak aja teman kamu kesini." Ucap Victor sambil memasang sepatu.

APPROPRIATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang