thirty-nine

1.6K 232 28
                                        

Sudah hampir 1 jam mereka berkumpul di ruang tamu. Bahkan obrolan menuju kata perjodohan saja belum di ucapkan.

Sedari tadi mereka terus mendengarkan Gihan yang asik berbicara tentang Jenna. Sedangkan Jennanya sudah malu sendiri, soalnya Gihan sedikit melebih-lebihkan tentangnya.

Jenna mencubit keras paha Gihan agar berhenti, "Han udah Han, gue nggak sebaik itu anjing." bisiknya penuh penekanan.
Namun gihan tetap gihan, ia bahkan mengabaikan rasa sakit di pahanya bekas cubitan jenna.

Yona sama Albert juga malah antusias mendengar cerita Gihan. Itu membuat Jenna menepuk dahinya pelan, takutnya nanti sifat yang di ceritakan Gihan nggak sesuai ekspektasi mereka ke Jenna.

Jenna melirik Jein yang diam sambil memperhatikan Gihan.

"Terus ya, wa──"

Victor langsung memotong ucapan Gihan, "sayang."

Gihan menoleh ke arah Victor, "kenapa Vi?" tanyanya.

"Tolong ambilkan cemilan sama minuman di dapur." Suruh Victor.

Gihan dan Ibu sontak melirik meja yang kosong.

"Ya ampun Ibu lupa sediakan makanan. Sebentar ya Ibu ambilin dulu."

Sebelum Yona berdiri, Victor sudah menahannya dengan ucapan. "Jangan Ibu, biar Gihan saja."

Gihan mengangguk setuju, "Gihan aja Bu, Ibu duduk aja ya." Gihan berdiri, lalu pergi ke dapur.

Setelah Victor melihat Gihan benar-benar ke dapur, pandangan Victor langsung beralih ke arah Albert. "Silahkan jelaskan ke intinya saja Ayah, biar tidak terlalu lama."

Albert mengangguk lalu menatap Jenna dan Jein secara bergantian.

Jenna badannya sudah panas dingin, soalnya dia kan masih terlalu baru disini, makanya dia gugupnya setengah mati, apalagi sekarang rasanya semua pandangan orang yang ada diruang tamu tuh mengarah ke dia.

Kalau keadaannya se akward gini, tau gitu mending gue haluin Kak Jein aja daripada jadi kenyataan. Dalam hati, Jenna menangis.

"Jein sama Jenna duduk berdampingan dulu coba, biar enak di liatnya." Ibu menyuruh Jein untuk segera pindah duduk ke samping Jenna.

Jein nurut, tanpa menyahut apapun ia langsung duduk disamping Jenna.

Bertepatan dengan Gihan yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa minuman dan cemilan dengan hati-hati.

Dengan sigap Victor langsung membantu istrinya, "kenapa tidak panggil saya saja Gihan? bahaya loh ini kalau gelasnya jatuh, terus kacanya kena kamu." Victor mengambil 2 nampan yang berada di atas tangan Gihan.

Yang di tegur hanya cengengesan lalu mengikuti Victor dari belakang.

Victor menaruh dua nampan tersebut di atas meja lalu duduk kembali ke sofa.

Sedangkan Gihan mau duduk di samping Jenna tapi tangannya langsung ditarik sama Victor untuk duduk di sampingnya.

Alhasil sekarang pada berpasang-pasangan duduknya.

Victor menarik kepala Gihan agar bersandar di dadanya. Gihan mau memberontak, karena menurutnya agak nggak sopan bemesraan di situasi yang kayak gini.

"Vii, nggak enak ih ada Ayah sama Ibu." Gihan berusaha mencubit pinggang Victor agar melepaskan tangan Victor yang menahan kepala Gihan supaya terus bersandar.

Bukannya kesakitan, Victor malah terkekeh. Cubitan Gihan nggak ada sakitnya sama sekali, malah bikin geli.

"Geli Gihan." Victor berbisik sambil mencium rambut Istrinya.

APPROPRIATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang