forty-three

995 152 22
                                        

Setelah seminggu berada di Paris karena suatu pekerjaan, akhirnya hari ini Jenna pulang. Tapi kali ini ia pulangnya bersama Kaisar. Ketika ia turun dari pesawat, ia langsung dijaga 2 petugas keamanan di belakangnya.

Jenna meminta dengan sopan kepada petugas keamanan tersebut agar berhenti mengikutinya karena ia sudah dijaga kekasihnya sendiri, yaitu Kaisar. Jenna berterimakasih kepada ke2 pengawal tersebut, lalu ia melanjutkan jalannya.

Dari jauh Jenna melihat bahwa Jein sedang menunggunya di depan. Jein sendiri masih fokus melihat ponselnya sampai nggak sadar kalau Jenna bersama Kaisar.

Jenna memberhentikan jalannya, "itu Kakaknya Victor." Ucapnya menatap Jein dari kejauhan.

Kaisar ikut berhenti, ia menoleh ke arah Jenna lalu mengikuti arah pandang cewek itu. Ternyata dia yang namanya Jein. Batin Kaisar.

"Emm Kai."
"Lo pulang duluan aja ya, gue mau selesai in hubungan gue dulu sama Kak Jein." Ujar Jenna memandang Kaisar.

"Terus lo pulangnya sama siapa?" tanya Kaisar.

"Sama Kak Jein kayaknya, soalnya gue nggak mungkin bilang 'itu' disini. Jadi nanti gue bilangnya pas gue udah sampai di Apartemen." Jawab Jenna.

"Nggak Jen. Selesaikan sekarang juga, lo pacar gue dan harus pulang sama gue. Gue tunggu di taman bandara sini ya." Setelah berkata seperti itu, Kaisar pergi meninggalkan Jenna, tapi sebelum itu ia mencium dahi Jenna dulu.

Beberapa orang yang ada di bandara melirik ke arah Jenna dan Kaisar.
"Eh itu yang jadi BA nya Channel nggak sih?"

"Eh iya, Jenna Jameson kan?"

Jein mendengar hal itu, ia langsung mengikuti arah pandang mereka. Disana ada Jenna dan satu cowok yang nggak Jein kenal. Jein memandang keduanya dari jauh sambil menelpon suster yang ada di rumah sakit.

"Sudah kamu kirim laporannya?" tanya Jein, matanya terus memandang Jenna yang dahinya tengah di cium sama lelaki itu dengan ekpresi datar.

"Belum Dok. Saya masih memeriksa semua pasiennya, kalau sudah selesai akan saya kirim laporannya ke Dokter."

"Baik terimakasih, saya tunggu." Jein menutup telponnya, bertepatan dengan Jenna yang menghampirinya.

Jein langsung tersenyum manis ketika Jenna berada di hadapannya.

"Aku mau ngomong sesuatu sama Kakak." Tutur Jenna.

Jein mengangguk, "ngomongnya di mobil aja ya, biar kamu cepat sampai ke Apartemen dan langsung istirahat. Pasti lelah kan?"

Jenna menggeleng. "Sekarang aja Kak." Ucapnya dengan nada sedikit memaksa.

Jein terus tersenyum sambil memandang Jenna lembut. Jenna sendiri tengah menetralkan gugupnya.

"Aku nggak bisa nikah sama Kakak, maaf ya." Ucap Jenna to the point.

Jein menunggu Jenna untuk melanjutkan ucapannya tanpa mengeluarkan ekpresi sama sekali.

"Aku sadar perasaan aku ke Kakak itu cuma sebatas kagum, bukan cinta. Aku udah nemu orang yang aku cintai, tapi itu bukan Kakak. Aku juga tau perasaan Kakak ke aku itu cuma terpaksa kan karena orang tua Kakak, dan sebenarnya Kakak nerima aku karena kasian kan?"

"Maka dari itu, mending kita batalin aja pernikahannya. Nanti aku bakal bilang ke Mami aku. Dan aku minta tolong banget Kakak bilang ya ke orang tua Kakak. Sekali lagi aku minta maaf Kak." Setelah berkata seperti itu, Jenna langsung menyeret kopernya meninggalkan Jein masih diam.

Jein memandang punggung Jenna yang mulai menjauh dengan mimik wajah yang sulit di artikan.

Drrtt drrttt

APPROPRIATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang