Siapa dia?

72 6 3
                                        

Adara kini sedang duduk bersama sang Ayah yang bernama Farhan, ia sudah bertekad akan membangun usahanya sendiri dilihat kenapa ia masuk jurusan manajemen bisnis.

"Yah Ara sudah membulatkan tekad akan membuka usaha kue." Farhan menatap putrinya. "Jadi gak meneruskan S2?" Tanya Farhan pada Adara.

"Eumm soal kuliah biar Adara pikirkan lagi, tapi Adara ingin punya penghasilan sendiri, Ara tau keinginan Ayah salah satu dari kami menempuh pendidikan sampai S3 tapi insya Allah Tanvira yang akan melakukan itu suatu saat." Farhan mengangguk ia tidak akan memaksakan keinginan putri mereka.

"Sebenarnya Ayah ingin memberimu pilihan saat Ayah ingat jika sekarang kamu sudah mau berusia 22 tahun." Adara menatap bingung dengan percakapan Ayahnya.

"Maksud Ayah?" Tanya Adara.

"Ayah memberi kamu pilihan wujudkan impian kamu membuka toko kue dan menikah atau lanjutkan pendidikan mu S2 di Turki." Setelah itu Farhan segera pergi begitu saja meninggalkan Adara yang kebingungan.

"Ayah!! Ayah!! maksud Ayah apa??" Tanya Adara hendak menyusul sang Ayah namun terlambat Ayahnya sudah pergi dengan mobil.

Fatin sang Bunda yang melihat itu berlari menuju putrinya dan membawanya duduk di sofa. "Kenapa Ra?" Tanya Fatin.

"Enggak tau Bun, Ayah tiba-tiba ngasih pilihan ke Ara pilih nikah kalau bangun usaha atau lanjut kuliah di Turki." Fatin membulatkan mata tidak habis fikir dengan keputusan suaminya.

"Yaudah kamu gak usah pusing mikirin itu nanti Bunda yang akan bicara langsung sama Ayah." Adara mengangguk.

....

Adara kini berjalan-jalan guna mencari referensi kue dan memang ia selalu datang ke berbagai restoran ataupun cafe hanya untuk mencari referensi untuk nanti membangun usaha toko nya.

Ia masuk kedalam restoran disana ia segera memesan beberapa makanan kue kebetulan tempat itu ramai dan ia yakin jika tempat itu sangat bagus untuk menjadi acuannya mencari beberapa resep unik, setelah menunggu hingga belasan menit akhirnya kue datang dengan 6 aneka macam hidangan. "Silahkan dinikmati." Adara mengangguk dan tersenyum.

Ia melahap satu cake brownies lalu setelah itu ia membuka buku kecilnya dan meneliti makanan apa saja yang ada disana, hingga seorang wanita duduk didepannya.

"Permisi." Adara menoleh, menatap wanita paru baya itu. "Siapa dia?" ucap Adara dalam hati.

"Maaf meja sudah penuh dan dilihat cuman kamu yang kursinya kosong, saya boleh ikut duduk?" Adara tersenyum dan mengangguk.

"Siapa nama kamu?" Tanya wanita itu dengan suara lembut. "Adara Fredella Ulani." Wanita itu sedikit terkejut dan setelahnya menghilangkan ekspresi keterkejutannya.

Wanita itu pun melihat apa yang gadis itu sedang lakukan. "Apakah kamu sedang meneliti makanan?" Adara menoleh dan mengangguk dengan kue yang penuh di mulutnya.

"Kenapa?" Tanya wanita itu.

Adara menelan habis cake nya dan minum air putih. "Hanya ingin mencari referensi sebelum membuka toko kue." Wanita itu nampak antusias mendengarnya.

"Wah benarkah, mau kah kamu bekerja sama dengan saya, kebetulan saya juga sudah membangun beberapa cabang toko kue di negara ini." Adara menatap bingung.

"Maaf Bu, tapi saya bahkan belum tau pasti akan membuka toko kue atau tidak." wanita itu menatap penasaran alasan gadis di depannya kebingungan.

Adara menghela nafas. "Ayah memberi saya dua pilihan menikah dan membuka toko kue atau membatalkan untuk menikah dan meneruskan kuliah di Turki." Wanita itu menatap sedih.

Bismillah Ku Memilih (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang